Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Nyaman dengan Tari Wayang, Dyas Ayuningtyas Justru Aneh saat Mencoba Tari Pop Kontemporer

Gregorius Bramantyo • Sabtu, 24 Februari 2024 | 16:00 WIB

 

KONSISTEN: Dyas Ayuningtyas yang merupakan penari wayang. Dia menggeluti seni wayang sejak usianya lima tahun.
KONSISTEN: Dyas Ayuningtyas yang merupakan penari wayang. Dia menggeluti seni wayang sejak usianya lima tahun.
 

 

RADAR JOGJA - Melestarikan kesenian tradisional juga dilakukan oleh Dyas Ayuningtyas. Ayu, sapaannya, adalah seorang penari wayang. Dia menggeluti seni wayang orang sejak usia lima tahun atau saat masih duduk di bangku TK. “Dari kecil karena keluarga sudah sering menari wayang orang terus kebawa sampai dewasa sekarang,” ujarnya saat ditemui Radar Jogja kemarin (23/2).

Dia sendiri tumbuh besar di keluarga pegiat seni tradisi. Hal itu membuat Ayu ikut terbawa arus sehingga akhirnya menambatkan pilihan pada seni tradisi khususnya tari wayang.

Meskipun sempat mengalami kesulitan dalam berlatih sejak kecil, namun ada satu hal yang membuat Ayu tetap bertahan di dunia seni tradisi. Yakni karena ia sudah terlanjur ‘basah’ dan menemukan kenyamanan.

Terjun di dunia seni tradisional memang bukan karena tuntutan keluarga. Namun lebih kepada rasa nyaman yang dia rasakan. Apalagi ia juga berada di lingkungan seni. “Kalau mau keluar sebenarnya juga nyaman, tapi lebih nyaman di lingkungan seni,” kata mahasiswa jurusan Pendidikan Bahasa Jawa UNY ini.

Ayu mengaku, sebenarnya pernah terbersit dalam pikirannya benaknya untuk menggeluti bidang lain. Tak jauh-jauh dari bidang yang sedang dia geluti berupa seni tari. “Dulu pernah mau masuk tari pop kontemporer, tapi kok koyo wagu ngono (seperti aneh gitu), terus akhirnya nggak jadi,” ungkapnya.

Meski telah belasan tahun menggeluti tari wayang, namun perempuan asal Magelang ini acapkali merasakan kendala saat pementasan. Seperti halnya dialog saat pentas wayang orang. “Sekarang tetap masih memiliki kendala seperti ucapan, kadang-kadang ada yang keliru sedikit, ngomongnya, bicaranya. Kalau tarinya sudah lumayan,” ucap Ayu.

Dia sendiri terhitung rutin mengikuti pementasan. Biasanya empat kali dalam setahun. Kebanyakan pementasan yang dia lakukan digelar di Padepokan Seni Cipto Budoyo Magelang. Lakon yang sering ditampilkan adalah Tari Srikandi Mustakaweni dan Lumbung Tugu Mas. “Biasanya H-2 minggu sudah mulai latihan. Seminggu latihan sekitar 3-4 kali, mulai dari setelah Isya sampai sekitar jam 12.00 malam,” jelasnya.

Ke depan, ia telah memiliki jadwal untuk mengikuti pementasan saat masa Idul Fitri mendatang. Selain tari wayang, perempuan kelahiran 18 Agustus 2002 ini juga fasih dalam tari klasik Gambyong asal Surakarta.

Ayu berharap generasi muda seangkatannya atau yang ada di bawahnya bisa ikut ambil bagian dalam pelestarian seni tradisional. Meskipun di era globalisasi banyak hal yang lebih menarik minat anak muda. “Ikut nonton pementasan itu sebenarnya juga sudah berkontribusi dalam pelestarian seni tradisional,” tandasnya. (tyo/eno)

 

 

 

 

Editor : Sevtia Eka Novarita
#seni tradisional #wayang #tari aceh