RADAR JOGJA - Melestarikan seni tradisional identik dengan kegiatan yang dilakukan oleh orang tua. Namun siapa sangka, masih ada generasi muda khususnya angkatan milenial yang ikut berkecimpung dalam dunia seni tradisional. Alasannya beragam. Karena budaya Jawa bagian dari identitas diri.
Seperti yang dilakukan oleh dalang perempuan muda asal Sleman Anisyah Padmanila Sari. Dia tertarik untuk melestarikan budaya Jawa karena dia, budaya Jawa bagian dari dirinya sendiri. Terlebih lagi saat dia mepelajarinya di jenjang pendidikan formal. Identitas kuat sebagai seorang Jawa sangat dirasakannya.
"Dan ketika saya semakin mendalami itu, saya semakin nyaman. Harus saya jaga dan lestarikan," jelasnya saat ditemui Radar Jogja kemarin (23/2).
Anisyah memantapkan niatnya untuk menjadi dalang pada tahun 2013 silam. Saat dia masuk masuk ke Institut Seni Indonesia (ISI) Jogjakarta dan mengambil jurusan Seni Pedalangan.
Di awal pendidikannya, dia merasa kaget. Sebab dunia pedalangan sebagian besar diisi oleh kalangan laki-laki. "Jumlah dalang perempuan sedikit sekali. Jadi memang cukup ekslusif waktu itu saya rasa" ucap Anisyah.
Menurut Anisyah, hal yang membuatnya bertahan di dunia pedalangan hanya karena sudah terlanjur basah. Namun, ternyata dia menemukan kenyamanannya. Dia pun tidak berpikir panjang apakah akan melanjutkan dalang sebagai hobi atau profesi pada saat itu.
Dia hanya ingin menjadi agen perubahan di dunia pedalangan. “Saya berusaha untuk sedikit banyak bisa menginspirasi anak-anak muda,” tegas Anisyah.
Salah satu target utama Anisyah untuk mengenalkan wayang dan budaya Jawa adalah anak-anak. Sebab mereka merupakan penerus di masa depan. “Jadi anak-anak itu harus kita libatkan dalam pembangunan pembangunan,” cetusnya.
Tak hanya itu saja, Anisyah juga mempunyai cita-cita ingin mengajak generasi muda untuk mempuat suatu perkumpulan kecil. Jadi mereka dapat ikut menjaga, mempertahankan, dan berinovasi. Agar wayang dan budaya Jawa ini dapat lebih dikenal secara luas. (ayu/eno)
Editor : Sevtia Eka Novarita