RADAR JOGJA - Barang lawasan tak selalu berakhir di tempat rongsok, atau bahkan di tempat sampah. Sejumlah orang pecinta lawasan paham betul nilai barang tersebut. Bahkan, barang seperti radio, televisi tabung, setrika arang, dan lainnya, kini sudah jarang ditemui. Untuk itu, Dewan Kesenian Kota Magelang mewadahi para pecinta barang lawasan melalui kegiatan 'Bakoelan Magelang'.
Halaman gedung Loka Budaya Soekimin Adiwiratmoko, Kota Magelang yang biasanya sepi, malam itu sedikit ramai. Sebab, sejumlah orang tampak hilir mudik melihat aneka barang lawasan di sana. Seperti radio, televisi tabung, setrika arang, dan lainnya. Bahkan, ada penjual makanan jadul.
Beberapa orang hanya sekadar melihat beberapa lapak, kemudian berlalu begitu saja. Mereka penasaran dengan barang yang tertata rapi beralaskan banner bekas itu. Namun, tak sedikit pula yang merogoh saku untuk membelinya.
Kegiatan itu bertajuk 'Bakoelan Magelang'. Memang, kegiatan yang melibatkan sekitar 20 orang maupun komunitas lawasan ini baru kali pertama dihelat. Tapi, keberadaan Bakoelan Magelang ini tidak luput dari panggilan hati para pecinta barang lawasan.
Alih-alih dibuang, sejumlah barang yang tergolong lawas itu justru dirawat dan dijaga sedemikian rupa. Para pecinta barang lawasan pun cenderung kerap berburu sesuatu yang dianggapnya menarik dan unik. Sebab nilainya bisa saja lebih mahal ketimbang membeli barang baru dengan jenis yang sama.
Ketua Dewan Kesenian Kota Magelang Muhammad Nafi mengutarakan, Bakoelan Magelang menjadi wujud dari panggilan hati para pecinta lawasan. Serta turut ambil bagian dalam memeriahkan gelaran car free night (CFN) tiap Sabtu Legi dan car free day (CFD) pada Minggu Pahing di alun-alun.
Sebab, Bakoelan Magelang rencananya juga dihelat selama dua hari, Sabtu Legi dan Minggu Pahing. "Dulu ada wadah yang namanya Magelang Tempo Doelo. Nah, Bakoelan Magelang ini seperti kami memulai kembali dari nol dan akan rutin digelar tiap Selapanan," ujarnya kepada Radar Jogja, Sabtu malam (20/1).
Di Bakoelan Magelang, tidak hanya menyajikan barang lawasan. Tapi juga kuliner tradisional seperti sate koyor, nasi jagung kluban, jenang, dan lainnya. Kemudian ada seni dan kerajinan. Bahkan, ada juga permainan tempo dulu yang membuat setiap pengunjung seolah bernostalgia.
Sebetulnya, kata Nafi, ada lebih dari 70 pendaftar. Tapi, karena keterbatasan ruang, penyelenggara lantas melakukan kurasi. Sehingga diperoleh 20 partisipan dengan berbagai kategori.
Jika Bakoelan Magelang edisi pertama menyedot antusiasme masyarakat, tidak menutup kemungkinan untuk edisi selanjutnya bakal melibatkan lebih banyak orang. Termasuk memanfaatkan gedung bagian dalam dan belakang untuk menampung seluruh partisipan.
Dia berharap, kegiatan ini akan terus berlanjut dan lebih banyak partisipan. "Dan menjadi salah satu daya tarik agar orang berkunjung ke Magelang. Ada tempat yang bisa dikunjungi selain di Alun-alun Magelang," paparnya. (pra)
Editor : Satria Pradika