Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Bedhaya Kakung Indrawidagda, Beksan Penanda Dhaup Ageng Pakualaman 2024, Ini Makna Lima Beksan Pengiring...

Dwi Agus. • Kamis, 11 Januari 2024 | 22:03 WIB
Beksan yang ditampilkan dalam  Dhaup Ageng Pakualaman 2024. Setiap beksan memiliki makna dan cerita yang berbeda.
Beksan yang ditampilkan dalam Dhaup Ageng Pakualaman 2024. Setiap beksan memiliki makna dan cerita yang berbeda.

RADAR JOGJA - Pada acara Dhaup Ageng Pakualaman 2024 ini dipergelarkan lima beksan.

Hari pertama 10 Januari 2024 ditampilkan tiga beksan, yakni Bedhaya Sidamukti, Bedhaya Kakung Indrawidagda dan Beksan Lawung Alit.

Hari kedua 11 Januari 2024 disajikan dua beksan, yaitu Beksan Tyas Muncar, dan Bedhaya Wasita Nrangsmu.

Setiap beksan memiliki makna dan cerita yang berbeda.

Diciptakan oleh Adipati Pakualaman dengan masa yang berbeda-beda.

Inspirasinya bisa berasal dari perjalanan hidup hingga tersemat pesan penting dalam setiap gerak, gending pengiring hingga tata busananya.

Berikut adalah detil dan makna setiap beksan yang ditampilkan dalam Dhaup Ageng Pakualaman 2024 :

Bedhaya Sidamukti

Bedhaya Sidamukti diciptakan pada masa pemerintahan Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya Paku Alam X, dalam rangka menyambut pernikahan putra kedua, 10 Januari 2024.

Dikisahkan tentang pertemuan dua hati yang saling mencintai.

Tak dipungkiri dalam perjalanannya mengalami pasang surut dan perbedaan pendapat.

Namun demikian, semua dapat diselesaikan dengan baik tanpa mengorbankan satu sama lain.

Dengan restu kedua orang tua dan berkat ridlo Allah Subhanahu wata'ala, janji suci diikrarkan menjadi sepasang suami istri yang penuh cinta kasih dan saling mendukung dalam menggapai asa.

Ditarikan oleh tujuh orang penari putri, bedhaya ini mencerminkan dua insan yang berjanji untuk bersatu dalam ikatan perkawinan, berharap dapat hidup rukun dan bahagia.

Bedhaya Kakung Ingdrawidagda

Diciptakan pada masa pemerintahan Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya Paku Alam X dalam rangka menyambut pernikahan B.P.H. Kusumo Kuntonugroho, putra bungsunya, pada 10 Januari 2024.

Tarian yang diperagakan oleh tujuh orang penari putra ini mengisahkan tentang Batara Indra tokoh yang dalam teks Astabrata versi Pakualaman mengutamakan pentingnya pendidikan.

Dikisahkan pada suatu ketika terjadi perbedaan pendapat antarmurid sehingga memicu perselisihan.

Maka, Batara Indra sebagai pendidik berusaha membimbing dan memberi pemahaman kepada para muridnya dengan bijaksana.

Mereka diwejang tentang perilaku yang baik sehingga mereka yang pandai maupun yang kurang pandai mampu berselaras dengan penuh syukur.

Alhasil para murid menjadi orang yang bertanggungjawab, berbudi luhur, dan berguna bagi sesama.

Beksan Lawung Alit

Pangeran Notokusumo yang kemudian bertahta sebagai Kangjeng Gusti Pangeran Adipati Paku Alam I (1812-1829) adalah putra Sultan Hamengku Buwana I.

Di dalam Babad Pakualaman disebutkan bahwa tradisi pementasan Beksan Lawung yang ada di Keraton Yogyakarta dilestarikan di Pakualaman.

Beksan ini dipergelarkan di Bangsal Sewatama pada acara-acara tertentu, misalnya untuk penyambutan tamu-tamu penting.

Dinamakan Beksan Lawung karena penari memperagakan keterampilan menggunakan lawung 'tombak'.

Beksan Lawung Alit ini dibawakan oleh delapan orang penari dengan komposisi empat peraga sebagai prajurit yang sedang berlatih olah kanuragan dan empat peraga pengampil sebagai abdi dalem ploncon.

Dalam perjalanannya Beksan Lawung Alit ini mengalami perkembangan pada masa Paku Alam III.

Beksan Tyas Muncar

Beksan Tyas Muncar diciptakan pada masa pemerintahan Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya Paku Alam X tahun 2021.

Diceritakan bahwa dalam kehidupan sehari-hari di lingkungan istana, sang permaisuri selalu mengenakan busana batik.

Berawal dari kecintaannya terhadap batik lalu tumbuhlah keinginan untuk mengembangkan batik di Pura Pakualaman.

Gusti Kanjeng Bendara Raden Ayu Adipati Paku Alam, Permaisuri Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya Paku Alam X banyak membuat batik dengan motif-motif yang diambil dari wedana renggan pada naskah kuno peninggalan para leluhur di Pura Pakualaman.

Renggan yang indah dituangkan dalam sebuah kain yang nantinya akan menjadi batik.

Proses membatik tersebut kemudian dialihwahanakan ke dalam sebuah tarian.

Melalui gerakan yang luwes, dinamis dan anggun terciptalah sebuah tarian yang menceritakan tentang seorang gadis yang sedang membuat batik dari awal hingga akhir.

Tarian tersebut dinamakan Beksan Tyas Muncar yang menggambarkan pancaran hati remaja putri yang mengalami proses masa keremajaannya dengan penuh kebahagiaan sehingga dapat menapaki kehidupan selanjutnya dengan baik melalui aktivitas membatik.

Baca Juga: Bukti Kedekatan, Paku Alam VIII Kirimkan Ucapan Ulang Tahun Ke-46 untuk Paduka Jang Mulia Presiden Soekarno

Bedhaya Wasita Nrangsmu

Bedhaya Wasita Nrangsmu diciptakan oleh Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya Paku Alam X pada tahun 2022.

Penciptaan karya tari bedhaya ini diilhami dari serat Piwulang Estri yang telah ditulis oleh Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya Paku Alam II.

Ditarikan oleh tujuh orang penari putri, Bedhaya Wasita Nrangsmu merepresentasikan tentang piwulang atau ajaran yang menjadi bekal bagi kaum perempuan dalam mengarungi bahtera rumah tangga.

Selain kesabaran, rasa sumarah, kasih sayang, seorang perempuan juga harus mampu menangkap.

Pasemon dari ekspresi wajah suami dan anggota keluarga lainnya.

Seorang wanita utama harus berpijak mengikuti piwulang agar senantiasa meraih keselamatan, ketentraman serta sentosa jiwa dan raga. 

Editor : Bahana.
#Yogyakarta #Dhaup Ageng Pakualaman #makna #beksan