Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Kisah Djoko Pekik, Dari Kalangan Biasa hingga Bergabung Lekra

Meitika Candra Lantiva • Minggu, 13 Agustus 2023 | 02:07 WIB
Djoko Pekik di depan karyanya. (Meitika Candra Lantiva/Radar Jogja)
Djoko Pekik di depan karyanya. (Meitika Candra Lantiva/Radar Jogja)
 
 
RADAR JOGJA - Duka mendalam dirasakan warga kancah seni rupa. Kini sang Maestro Lukis Indonesia Djoko Pekik telah berpulang. Segudang kisahnya yang tertinggal, menjadi bagian sejarah penanda zaman. Karya-karya yang ditinggalkan menjadi catatan perkembangan seni rupa di Indonesia.  Berikut kisahnya:
 
Kisah Djoko Pekik
 
Djoko Pekik bukanlah asli Jogja. Dia lahir pada 2 Januari 1937, di Grobogan, Purwodadi, Jawa Tengah. 
 
Djoko Pekik lahir bukan dari keluarga berada. Dia hidup di kalangan rakyat biasa. Orang tuanya sebagai petani.
 
Sekitar 1958 dia memutuskan merantau ke Kota Pelajar. Berburu ilmu dan masuk Akademi Seni Rupa Indonesia (ASRI) Yogyakarta.
 
Ya, diakuinya dirinya suka menggambar sejak kecil. Namun baru dia geluti semenjak dia dewasa. Bakat menggambarnya itu semakin dia perdalam semenjak masuk ASRI. Disana, Djoko Pekik muda belajar melukis langsung dengan Widayat, Suromo dan Abas Alibasyah. 
 
 
Baca Juga: Lukisan Rp 1 Miliar Berjudul Berburu Celeng, Djoko Pekik Rayakan Lengsernya Soeharto
 
Selama menuntut ilmu di ASRI Yogyakarta, Djoko Pekik pernah nyantrik kepada Maestro Lukis Affandi. Jauh sebelum berpulang, Djoko Pekik pernah berbincang-bincang kepada Radar Jogja, sosok Affandi itulah yang selalu memberikan semangat agar ia terus berkarya. 
 
Semangat itu terus menyala didalam jiwanya. Bersamaan dengan lahirnya karya-karya yang tak terhitung jumlah dan nilainya itu. 
 
"Teringat dulu, karena cat mahal dan tidak punya uang. Saya minta minta sisa-sisa plototan cat dari beliau (Sang Maestro Seni Rupa Affandi, Red)," kata empu dari karya lukisan berjudul Berburu Celeng itu.
 
Goresan ekspresif dari Affandi menarik inspirasinya untuk menciptakan karya dengan goresan tak kalah ekspresif. Dengan menggunakan warna-warna pekat, kontras dan tegas. 
 
Pada karyanya, perupa yang tutup usia 86 tahun itu membubuhi dengan kritik-kritik sosial, fenomena rentang zaman. Yang kadang menggelitik bagi penikmat karyanya. 
 
Djoko Pekik belajar di ASRI Yogyakarta hingga 1961. 
 
Baca Juga: Djoko Pekik Jarang Pameran Tunggal, Seringnya Pameran Bersama
 
 
Pernah Bergabung Lekra
 
Dalam perjalanan hidupnya, Djoko Pekik pernah bergabung dengan Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra). Lekra merupakan lembaga yang terafiliasi dengan Partai Komunis Indonesia (PKI). 
 
Di Lekra jiwa kritisnya semakin tinggi. Hal ini berpengaruh pada karya-karyanya, dia menjadi pelukis yang memiliki kepekaan tinggi terhadap isu-isu sosial, kerakyatan dan kaum buruh.
 
Namun di tengah perjalannya, Djoko Pekik ditahan tanpa diadili karena terlibat Lekra. Seakan ditusuk duri tajam, Djoko Pekik ditahan antara 1965-1972. 
 

Baca Juga: Presiden Joko Widodo Kirim Karangan Bunga Duka Cita Djoko Pekik, Juga Susi Pudjiastuti dan Bupati Bantul

 
Dia menjelaskan Lekra terbentuk sebab pada 1950an Presiden Soekarno menganjurkan semua partai memiliki lembaga kebudayaan. Pendiri Lekra adalah Amrus Natalsya. Dia menegaskan Lekra berdiri bukan karena perintah PKI. 
 
Saat itu, diungkapkan, Lekra menjadi alat propaganda seniman. Sebagai bentuk perlawanan ideologi kapitalisme. (mel)
 
Baca Juga: Djoko Pekik Hadiri Ijab Kabul Kaesang dan Erina, Pakai Kursi Roda yang Didorong Asisten
Editor : Meitika Candra Lantiva
#Seniman #seni rupa #Djoko Pekik #lukis #Bantul #berpulang #Jogja