Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Maestro Djoko Pekik di Mata Rekan Seniman, Suka Beri Wejangan Semangat dan Spirit

Meitika Candra Lantiva • Sabtu, 12 Agustus 2023 | 21:36 WIB
FOTO KENANGAN: Seniman Yaksa Agus muda bersama Maestro Lukis Djoko Pekik duduk bersama di serambi Rumah Djoko Pekik, Plataran, Sembugan, Bangunjiwo, Kasihan Bantul, diambil tahun 1998.  (Yaksa Agus)
FOTO KENANGAN: Seniman Yaksa Agus muda bersama Maestro Lukis Djoko Pekik duduk bersama di serambi Rumah Djoko Pekik, Plataran, Sembugan, Bangunjiwo, Kasihan Bantul, diambil tahun 1998. (Yaksa Agus)
 
 
RADAR JOGJA - Dimata Yaksa Agus, Djoko Pekik merupakan pelukis senior yang rendah hati. Dia selalu memberikan pesan wejangan semangat kepada junior-juniornya. Agar terus konsisten jika sudah berkecimpung di dunia seni rupa.
 
Yaksa, sesama rekan seniman mengaku pernah mendapatkan wejangan itu. 
 
"Salah satunya begini,  kalau jadi seniman ki yo kudu koyo jaran (kuda) balap. Ojo koyo jaran gendeng (genteng)," cerita Yaksa, menirukan sang empu lukisan berjudul 'berburu celeng', Sabtu (12/8/2023). 
 
Yaksa kembali menjelaskan, maksud dari wejangan itu, Djoko Pekik menginginkan senior-senior perupa muda agar senantiasa siap dimana pun dan kapan pun berada. Sebagaimana kuda balap selalu siap, berlari cepat ketika masuk medan perlombaan. Tidak perduli kalah menang, pokoknya siap. 
 
Lain halnya dengan kuda genteng atau kuda angkut yang hanya berjalan pelan, tidak berlari. Kalah cepat dan hanya akan tertinggal. "Begitu pesannya," ujar Yaksa seniman asal Sewon, Bantul itu. 
 
Kemudian wejangan Ceriwis cawis juga pernah didapatkan dari pelukis senior asal Plataran, Sembungan, Bangunjiwo, Bantul itu. Oleh Yaksa, wejangan itu kemudian dia tuangkan kembali ke dalam karya lukisannya yang dia juduli 'Ceriwis cawis'.  
 
"Maksudnya, seniman itu boleh cerewet dalam karya tapi selalu menyelesaikan masalah. Ada konteks, ide di dalam karya. Punya makna dan nasehat.  Bagaimana karya menandai jaman. Penting atau tidak penting letakkan gagasan ya di setiap karya," beber Yaksa. 
 
Beberapa minggu sebelum kepergian Djoko Pekik, dirinya sempat bertemu di sebuah acara pameran. Kala itu didorong anaknya menggunakan kursi roda. Dan kondisinya sudah sakit-sakitan. 
 
"Memang aktivitas melukisnya (Djoko Pekik, Red) sudah kendor. Tapi di beberapa event pameran masih sering datang," katanya.
 
Yaksa ingat betul, seri-seri karya terakhirnya. Djoko Pekik banyak melukis potret diri. Sebagaimana dipamerkan di Bentara Budaya Yogyakarta (BBY) beberapa waktu lalu. 
 
Lukisan Potret diri Djoko Pekik jalan-jalan  dengan tongkat kesayangannya. (Facebook Yaksa Agus/Yaksapedia)
Lukisan Potret diri Djoko Pekik jalan-jalan dengan tongkat kesayangannya. (Facebook Yaksa Agus/Yaksapedia)
 
"Seri-seri karya akhir, beliau melukis potret dirinya sedang berjalan-jalan membawa tongkat. Beliau mengatakan kangen jalan-jalan. Ukuran lukisan itu kira-kira 140 x 120 cm di BBY," terang Yaksa. Kemudian ada juga karya yang dibuat saat pandemi dan mengangkat tentang pandemi.
 
"Saya sering ke rumah beliau. Waktu itu saya bersama beliau bertemu mengunjungi Museum Oei Hang Djien di Magelang," kata Yaksa menceritakan terakhir pergi bareng-bareng bersama seniman Djoko Pekik dan rekan lainnya. 
 
FOTO KENANGAN: Momen Klowor Waldiyono dirangkul Djoko Pekik berlatar belakang lukisan ekspresif fauna, tahun 1994. (Facebook Klowor Waldiyono)
FOTO KENANGAN: Momen Klowor Waldiyono dirangkul Djoko Pekik berlatar belakang lukisan ekspresif fauna, tahun 1994. (Facebook Klowor Waldiyono)
 
Djoko Pekik merupakan pelukis senior yang suka merangkul juniornya dalam kancah Seni Rupa. Momen kebersamaan bersama Djoko Pekik turut dirasakan oleh seniman Klowor Waldiyono. Di akun pribadinya dia mengunggah foto dirinya yang kala itu masih muda di rangkul sang Maestro Lukis Djoko Pekik itu  
 
Di dalam foto itu dia mengenakan kemeja putih. Lalu dirangkul oleh Djoko Pekik menyamping. Foto itu hasil tangkapan 1994. Djoko Pekik masih tampak segar, penampilannya rapi mengenakan kemeja coklat muda (yellow ochre) dan celana panjang bersabuk. Djoko Pekik memakai kacamata kotak dengan khas jenggot panjangnya.  
 
Foto itu diambil dengan latar lukisan ekspresif bergambar fauna. 
 
"Maturnuwun semua wejangannya dan spiritnya.. kenangan di tahun 1994," tulis Klowor pada postingannya itu. (mel)
 
Baca Juga: Dimakamkan Besok, Djoko Pekik Sudah Siapkan Makam Sendiri, Misa Koordinasi dengan Romo Sindhu
Lukisan Potret diri Djoko Pekik jalan-jalan  dengan tongkat kesayangannya. (Facebook Yaksa Agus/Yaksapedia)
Lukisan Potret diri Djoko Pekik jalan-jalan dengan tongkat kesayangannya. (Facebook Yaksa Agus/Yaksapedia)
FOTO KENANGAN: Momen Klowor Waldiyono dirangkul Djoko Pekik berlatar belakang lukisan ekspresif fauna, tahun 1994. (Facebook Klowor Waldiyono)
FOTO KENANGAN: Momen Klowor Waldiyono dirangkul Djoko Pekik berlatar belakang lukisan ekspresif fauna, tahun 1994. (Facebook Klowor Waldiyono)
Editor : Meitika Candra Lantiva
#seni rupa #Djoko Pekik #Maestro #Bantul #berpulang #Jogjakarta #seni lukis