Penghageng KHP Nitya Budaya Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat GKR Bendara menuturkan Sumakala memiliki makna yang kuat. Menghadirkan era pemerintahan dua Raja sekaligus. Dengan pertimbangan keduanya memiliki masa pemerintahan yang relatif singkat.
"Mengedepankan penceritaan pasca peristiwa Geger Sepehi di bawah pemerintahan kedua Sultan tersebut mengalami saat-saat yang temaram," jelasnya saat jumpa pers di Ndalem Punokawan Kota Jogja, Senin (17/10).
Berbagai desakan politik dari Pemerintahan Inggris terhadap HB III, lanjutnya, berdampak pada ketidak-stabilan perekonomian. Ini karena seluruh biaya perang yang ditimbulkan dari gempuran Inggris harus ditanggung oleh karaton. Sosok HB III hanya bertahta selama dua tahun.
Sementara itu, kondisi carut marut tersebut harus disaksikan oleh GRM Ibnu Djarot. Sosok ini adalah putra mahkota yang masih belia. Setelah HB III meninggal dunia, otomatis GRM Ibnu Djarot bergelar Sri Sultan Hamengku Buwono IV.
"Momentum ini upaya keraton untuk merekonstruksi ulang kisah-kisah Sultan terdahulu. Meskipun kedua Sultan, yakni Sultan ketiga dan Sultan keempat mengalami kondisi yang sulit," katanya.
Disatu sisi kedua Sultan ini tetap memiliki warisan budaya. Beberapa masih bisa lestari sampai sekarang. Seperti tari Bedhaya Durmakina, Babad Ngayogyakarta, maupun kereta kereta kebesaran dari masing-masing Raja.
Bendara menuturkan pameran ini menjadi tantangan tersendiri. Untuk mampu merekonstruksi kondisi Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat pasca peristiwa Geger Sepehi pada 1812. Termasuk hilangnya sejumlah artefak akibat penjarahan.
"Disinilah kami mencoba membaca ulang sejarah semasa 1812-1822 dan mewujudkannya dalam bentuk visual. Kerja keratif ini dipilih menjadi media untuk menyelami pemerintahan Sultan ketiga dan Sultan keempat lebih mendalam," ujarnya.
Penyelenggaraan pameran akan dilaksanakan di Komplek Bangsal Pagelaran. Berbagai kegiatan pendukung pameran juga akan digelar. Seperti napak tilas kediaman putra mahkota, menjelajahi ruas penyerangan Geger Sepehi, hingga berbagai diskusi dan lokakarya.
"Kami juga menggandeng komunitas untuk bekerjasama dalam penyelenggaraan pameran. Dengan demikian, keterlibatan masyarakat dalam upaya melestarikan sejarah dan kebudayaan semakin luas," katanya. (Dwi) Editor : Editor News