Pameran ini sendiri merupakan bagian program Asana Bina Seni oleh yayasan Biennale Jogjakarta. Sebagai upaya menjaga keberlanjutan ekosistem seni. Khususnya regenerasi para seniman-seniman muda.
"Tema ini seperti refleksi terhadap keragaman pendekatan, media dan isu yang diangkat oleh seniman program Asana Bina Seni 2022," jelas Ketua Yayasan Biennale Alia Swastika, Senin (18/7).
Kolaborasi pameran mampu merepresentasikan dinamika seni saat ini. Ini karena karya-karya yang hadir adalah representatif setiap seniman. Terutama atas keresahan yang terjadi di lingkungannya masing-masing.
Seniman-seniman yang bergabung telah lebih dulu mengikuti serangkaian kelas. Berlangsung sepanjang maret, april hingga mei 2022. Terdiri dari 8 seniman individual dan 4 seniman kolektif dengan beragam disiplin ilmu.
"Jadikan ini sebagai proses belajar, bukan hasil akhir. Karena teman-teman masih perlu memperluas khazanah seni khususnya di Jogjakarta ini," kata Kepala TBY Retno Yuliani.
Karya yang hadir menggambarkan pencarian makna tubuh dan identitas. Adapula penjelajahan tradisi, ritual dan kritisisme atas situasi dan relevansi dengan masa kini. Serta penggalian pengetahuan dan kebajikan lokal.
Para pengunjung pameran terlihat antusias melihat setiap detil karya. Salah satunya adalah Anggi. Dia merasa senang dan ikut bangga melihat karya-karya para seniman.
"Banyak pesan-pesan yang disampaikan dari seni yang dipamerkan. Eforia yang paling menarik karena berani menampilkan isu-isu sensitif di masyarakat," ujar mahasiswi Universitas Teknologi Jogjakarta ini.
Acara ini berlangsung selama 10 hari sejak resmi dibuka. Pameran Silang Saling : Titian dan Undakan akan menyajikan beberapa agenda program publik yang terjadwal mulai dari kuratorial talk, artist talk dan workshop. (OM24/Dwi) Editor : Editor News