Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Workshop Tatah Sungging Museum Sonobudoyo, Wujud Pelestarian Wayang Kulit

Editor News • Kamis, 14 Juli 2022 | 06:37 WIB
PELESTARI : Kegiatan tatah sungging wayang kulit yang digelar Museum Sonobudoyo saat kegiatan Selasa Wagen, Selasa malam (12/7). (DIVA RABIAH AL ADAWIYAH for RADAR JOGJA).
PELESTARI : Kegiatan tatah sungging wayang kulit yang digelar Museum Sonobudoyo saat kegiatan Selasa Wagen, Selasa malam (12/7). (DIVA RABIAH AL ADAWIYAH for RADAR JOGJA).
RADAR JOGJA - Selasa Wagen tak hanya berbicara tentang eforia kawasan Malioboro. Beragam kegiatan seni budaya juga mengisi ajang yang berlangsung setiap 35 hari sekali ini. Baik seni tradisional, kontemporer hingga modern.

Salah satu yang hadir adalah workshop pembuatan wayang kulit. Lebih spesifik dengan teknik tatah sungging. Penyelenggara dari workshop ini adalah Museum Sonobudoyo.

"Tatah sungging adalah proses tradisional membuat wayang dari kulit lembu menjadi wayang kulit atau wayang purwo, biasanya dipentaskan dalam epos ramayana atau mahabharata," jelas Pengrajin Tatah Sungging Soeroso, Selasa malam (12/7).

Soeroso mengakui arus modernisasi sangatlah cepat. Inipula yang berdampak pada kemasan wayang kulit era terkini. Tak lagi mengemas cerita babad lampau tapi juga kisah kepahlawanan di Nusantara.

Adanya workshop tatah sungging menurutnya sangatlah penting. Guna menjadi edukasi dan upaya pelestarian seni tradisi. Tak hanya warga Jogjakarta tapi juga daerah lainnya bahkan wisatawan mancanegara.

"Kalau yang lebih sering datang dan belajar adalah wisatawan asing. Ada yang dari Spanyol, Inggris, Singapura yang belajar tatah sungging di sini," katanya.

Soeroso mengajak agar masyarakat lokal mau mendalami seni budaya Nusantara. Sehingga ikut melestarikan budaya yang juga identitas bangsa. Salah satunya dengan mengenal ragam wayang kulit dengan lebih dekat.

Selain menggelar workshop seni tatah sungging, Museum Sonobudoyo juga menyediakan kelas khusus. Tujuannya untuk memfasilitasi warga yang berminat membuat wayang kulit.

"Pagelaran wayang kulit dan wayang orang juga rutin digelar secara terjadwal setiap harinya. Bagi pemula yang ingin belajar seni tatah sungging maka akan diajarkan melubangi kulit, belajar menggambar wayang, menatah kulit, dan menyungging," ujarnya.

Pegiat Seni Wayang Museum Sonobudoyo, Sulistyo mengungkapkan wayang kulit adalah warisan dunia. Terbukti dengan pengakuan UNESCO atas kesenian tradisi ini. Sehingga harus ada upaya melestarikan dengan beragam cara.

Dia tak ingin Wayang Kulit tergerus oleh zaman. Bisa terjadi apabila generasi muda acuh terhadap pelestarian. Padahal kesenian ini tak sekadar berbicara tentang seni budaya semata. Adapula kearifan lokal nilai-nilai filosofi dan kehidupan.

"Saya yakin bangsa kita adalah bangsa yang cinta budaya, walau peminat pembelajar tatah sungging sebagian besar adalah asing, namun kita yakin bila masyarakat lebih di edukasikan lagi maka akan muncul penerus penerus seniman wayang yang baru," katanya. (om25/Dwi) Editor : Editor News
#selasa wagen #museum sonobudoyo #Pelestarian wayang kulit #Malioboro malam #tatah sungging wayang kulit