Gubernur DIJ Hamengku Buwono X menilai musik sangatlah penting dalam kehidupan manusia. Tak hanya untaian nada tapi juga wajah peradaban sebuah bangsa. Inipula yang tercermin dalam kemasan musik klasik dan orkestra.
"Tentu beda dengan barat, di Eropa musik klasik muncul sejak abad pertengahan. Jadi tak heran apabila musik klasik disana sudah maju dan jadi barometer peradaban bangsa," jelasnya saat pembukaan Concerto Nusantara di Tebing Breksi, Selasa malam (21/6).
Musik, lanjutnya, juga dapat mencerminkan kehidupan. Termasuk perasaan-perasaan manusia di sekitarnya. Sehingga dapat merepresentasikan rasa senang, sedih hingga romantis.
Itulah mengapa HB X menilai musik sangat penting bagi kehidupan manusia. Tak sekadar buah karya seni namun representasi jiwa dan hati. Tak hanya personal namun juga lingkungan.
"Mengutip pemikiran Plato, bahwa musik sepeti jiwa ke alam semesta, memberikan sayap kepada pikiran dan membawa pikiran terbang ke alam imanjiansi dan pada akhirnya memperindah kehidupan manusia," katanya.
Dalam konsernya kali ini, Yogyakarta Royal Orchestra membawakan tujuh repertoar. Diawali dengan Ladrang Gatil Mardawa Pelog Nem sebagai musik pembuka. Repertoar dibawakan dengan berkolaborasi dengan Abdi Dalem Wiyaga Kawedanan Kridhamardawa.
Repertoar kedua menghadirkan Malam Bainai yang berkolaborasi dengan seniman saluang Mak Hasanawi.
Selanjutnya Lisoi yang dikemas bersama sextet vokal. Menyusul Ofa Langga Soba Soba sebagai lagu khas dari Pulau Rote dengan kolaborasi bersama seniman sasando Natallino Mela.
Untuk repertoar Concerto Nusantara berduet dengan solois violin Iskandar Widjaja. Aransemen arranger Mas Lurah Widyoyitnowaditro ini terdiri dari 3 lagu daerah. Berlanjut dengan Ladrang Gati Mrak Ati Pelog Barang dilanjut Ilir-Ilir sebagai penutup.
"Jadi konser ini dalam rangka Hari Musik Dunia 2022 sekaligus peringatan hari jadi Yogyakarta Royal Orchestra. Pemilihan repertoar, musisi dan tempat memang khusus dengan tema Concerto Nusantara," ujar Kepala Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) DIJ Dian Lakshmi Pratiwi.
Dian menuturkan konser ini merupakan konser pertama dari Yogyakarta Royal Orchestra yang dapat disaksikan oleh masyarakat secara hibrida. Sebelumnya pementasan hanya melalui daring. Tepatnya karena kondisi Pandemi Covid-19.
Melandainya kasus Covid-19 di Jogjakarta menjadi pertimbangan khusus. Berupa konser musik dengan penonton tatap muka. Pemilihan Tebing Breksi selain ikon wisata juga merupakan tempat terbuka. Sehingga protokol kesehatan tetap bisa berjalan dengan optimal.
"Melihat kondisi pandemi maka konser digelar terbuka dengan penonton. Tapi untuk membatasi maka gunakan sistem reservasi," katanya. (Dwi) Editor : Editor News