Konsep dari konser musik electone ini memang tidaklah biasa. Hadirnya 54 HaSoe Angels juga memiliki cerita yang panjang. Seluruhnya adalah para biduan penyanyi yang pernah dan masih sepanggung dengan HaSoe.
"Ultah ke 54 pas tanggalnya biasanya memang reguler disini. Spesial saya ngundang teman biduan saya dari dulu ikut dengan saya dari tahun 1990-an sampai sekarang. Dari senior sampai junior, 54 ini sesuai umur," jelasnya ditemui sebelum konser dimulai, Rabu malam (25/5).
Untuk konser kali ini, HaSoe membebaskan para biduannya dalam menggunakan kostum. Ada yang menggunakan panggung biasa, kostum superhero hingga berdandan ala sinden.
Keunikan inilah yang juga menjadi ciri khas di panggung. Tampil menghibur dan tidak kaku saat membawakan lagu. Tak jarang, muncul candaan di atas panggung saat konser berlangsung.
"Konsep saya bebaskan, mau tampil seperti apa, silakan. Tema tidak ada sebenarnya hanya reguler biasa, panggung biasa. Cuma pas 25 Mei ultah saya, jadi ya saya bebaskan," katanya.
Sejatinya Hadi adalah seorang pelukis. Karya-karyanya telah menghiasi sejumlah galeri pameran. Bahkan sempat pula mengikuti pameran karya seni di luar negeri.
Hanya saja, sebagai seorang seniman, Hadi tak bisa hanya fokus pada satu disiplin ilmu. Hingga akhirnya memilih musik electone. Hingga akhirnya memiliki nama panggung HaSoe Sarjana Electone (SE).
"Ini sebenarnya ngece, SE itu Sarjana Ekonomi aslinya. Wujud kritik, kadang ada sarjana tidak kerja sesuai bidang. Ini aneh semacam anekdot, dikira saya Sarjana Ekonomi, padahal electone, ini tambah ger di atas panggung," ujarnya.
Selama menggeluti dunia musik, HaSoe tak sekadar tampil. Dia mengajak para biduannya untuk mengelola manajemen secara baik. Kepentingannya untuk diri sendiri dan karir dalam bermusik.
Dia selalu meminta agar para biduan memiliki atitude yang bagus. Memiliki komitmen dan disiplin dalam bekerja. Menurutnya ini adalah bekal dalam melakoni kerja profesional.
"Selalu ajak memiliki atitude lebih baik, komitmen dan disiplin dalam bekerja. Kalau tidak mau makanya tidak maju-maju. Kadang masih ada yang manajemennya masih tradisional," katanya.
Tentang musik dangdut, Hasoe meyakini akan tetap lestari. Seiring waktu berjalan, aliran musik ini akan terus berkembang. Tak sekadar berbicara alunan musik namun juga tata panggung dan kostum.
Inilah yang selalu diadaptasi oleh HaSoe dan para biduannya. Mencoba menangkap perkembangan masa kini. Termasuk mengaransemen musik yang sedang tren dengan alunan musik dangdut koplo.
"Misal ya lagu Bengawan Solo, itu alurnya pasti sama. Kalau pakai kostum meski lagu sama Bengawan Solo tapi lebih menarik. Kami bertahan itu ya tampil lucu-lucuan menghibur. Ada sisi entertainnya," ujarnya.
Salah seorang HaSoe Angels Tiara Yantika mengaku bangga dengan perjalanan Hadi Soesanto. Tercatat sudah 20 tahun mendalami seni musik electone. Dari yang awalnya menghibur justru menjadi profesi.
Tiara mengenal sosok HaSoe sebagai seniman yang disiplin. Untuk urusan panggung, harus terkonsep dan sesuai dengan jadwal. Termasuk meminta para biduannya untuk selalu datang tepat waktu.
"Dari tahun 2000 bersama Hasoe. Sekian tahun selama 20 tahun mas HaSoe berkarir ternyata luar biasa. Mas HaSoe itu unik, karena cara bermain unik lucu menyenangkan kalau kerja ya have fun. Orangnya rewel nyebahi, on time, tapi dia komitmen kalau kerja," katanya. (Dwi) Editor : Editor News