Saat ditemui, Dyani Dee mengaku awal mula kolaborasi berangkat dari ajakan sang komposer Louise Mercy Eunice. Dinilai pas dengan karakter liriknya, Dyani diminta untuk membawakan lagu bernuansa patah hati tersebut. Tak berfikir lama, dia pun langsung mengiyakan untuk berproses bersama, mengerjakan lagu tersebut.
"Bawain lagu ini kayak curhat. Genrenya Pop melow banget," jelasnya singkat disela peluncuran single Cintamu Bukan Untukku di Djiwa Coffee, The Ratan, Bantul Sabtu (5/3).
Nuansa lagu, lanjutnya dibuat sepi dan menggaung. Seakan seseorang berada sendirian di dalam ruangan hampa yang besar.
"Lirik lagunya dalam banget. Rasa yang ingin dimunculkan adalah keputusasaan, kesedihan dan kesepian," katanya.
Dyani menceritakan selama proses kolaborasi tidak ada kesulitan dalam menghayati lirik lagu tersebut. Bahkan dikatakan proses awal, recording, hingga mixing berlangsung cepat.
"Begitu dikasih tau demo liriknya langsung paham. Gatau ya, mungkin pernah sama-sama mengalami kali ya," ujar perempuan yang mengawali karir bermusik sejak tahun 2003 itu.
Sementara itu, sang komposer Louise Mercy Eunice mengatakan, Cintamu Bukan Untukku ditulis berdasarkan pengalaman nyata dirinya. Menceritakan kisah cinta yang tidak memungkinkan dua sejoli bersatu.
Digarap sejak April 2020, Mercy mengatakan konsep lagu Cintamu Bukan Untukku sebelumnya hanya instrumental atau musik tidak berlirik.
"Karya ini juga merupakan hasil kontemplasi selama masa pandemi dalam menjawab, Bagaimana kalau cinta datang karena terbiasa, namun tak bisa memiliki?” tanyanya.
Selain itu, terdapat unsur etnis dengan masuknya alat musik tradisional gamelan. Konsepnya untuk memberi nuansa etnis yang bisa membaur dengan lagu ini.
“Chorus terakhir dibuat lebih menggelegar untuk menambahkan klimaks sebelum musiknya padam dan kembali menjadi sepi, sesuai dengan kalimat terakhir dalam liriknya kutahu kau takkan milikku," ujar perempuan yang hobi membuat lirik lagu itu.
Mercy berharap lagunya dapat diterima dan menjadi anthem sederhana bagi para insan patah hati. Atau yang pernah mengalami kuldesak, antara untuk tetap mencinta atau berhenti.
“Cintamu Bukan Untukku menjadi sebuah pengingat bahwa tidak semua yang pernah, masih, dan akan ada sepenuhnya akan tetap tinggal menjadi tempat pulang bagi setiap manusia," katanya. (naf/dwi) Editor : Editor News