Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

BPNB Gelar Rapat Teknis Sinkronisasi Program Kebudayaan

Editor News • Kamis, 17 Februari 2022 | 17:53 WIB
SINKRONISASI : BPNB gelar rapat lintas stakeholder lingkup DIJ, Jateng, dan Jatim sebagai uoaya sinkronisasi bidang kebudayaan. (ISTIMEWA)
SINKRONISASI : BPNB gelar rapat lintas stakeholder lingkup DIJ, Jateng, dan Jatim sebagai uoaya sinkronisasi bidang kebudayaan. (ISTIMEWA)
RADAR JOGJA - Stakeholder lingkup DIJ, Jateng, dan Jatim tengah melakukan sinkronisasi bidang kebudayaan. Kaitannya untuk pemajuan kebudayaan agar tidak tumpang tindih. Target pencapaiannya, program kebudayaan yang digagas bisa lebih berdampak dan bermanfaat bagi pelaku maupun masyarakat.

Kepala Balai Pelestarian Nilai Budaya (BPNB) DIJ Dwi Ratna Nurhajarini mengakui selama ini kegiatan program bidang kebudayaan masih tumpang tindih. Pelaksanaan kerap tak sinkron antar satuan kerja pusat dan daerah. Alhasil program tak efektif karena kerap berjalan tanpa ada koordinasi antar instansi.

"Kami lakukan rapat teknis ini supaya kegiatan pemajuan kebudayaan nanti tidak hanya cilik-cilik. Gotong-royong atau gugur gunungnya itu kegiatannya bisa berdampak nyata ke masyarakat baik yang vertikal maupun daerah," jelasnya dalam rapat teknis sinkronisasi program dengan pihak eksternal tingkat provinsi kabupaten kota se-DIJ, Jateng, dan Jatim tahun 2022.

Pemilihan tajuk gugur gunung memiliki arti penting. Berupa upaya menggapai Indonesia berkemajuan dalam kebudayaan. Targetnya yaitu percepatan kemajuan kebudayaan dengan goal kesejahteraan masyarakat. Sehingga pelestarian kebudayaan terjaga sampai pada pemanfaatan yang berdampak positif bagi kesejahteraan.

"Jadi indeks pengembangan kebudayaan juga terangkat antara yang praktek dan feedbacknya kepada pelaku. Selama ini masih njomplang, prakteknya bagus tapi belum berdampak nyata ke masyarakat, dan itu menjadi poin kalau untuk usulan ke Unesco," katanya.

Menurutnya, dampak kolaborasi kegiatan budaya antar daerah akan lebih nyata dan terasa di masyarakat. Kegiatannya tidak fokus pada setiap daerah tertentu. Tetapi bisa bergotong royong bersama mewujudkan sebuah kegiatan yang lebih besar.

Kondisi pandemi Covid-19 juga menjadi catatan tersendiri. Tidak sedikit para pelaku seni dan budaya terdampak.Bahkan adapula yang stagnan tak beraktivitas sama sekali.

"Sehingga tidak ada penumpukan anggaran yang kemudian sia-sia, karena setiap daerah bisa jadi membuat kegiatan yang hampir sama. Kalau bisa dipadukan menjadi besar dengan sharing anggaran," ujarnya.

Kegiatan koordinasi dan sinkronisasi program sudah berlangsung sejak 2015. Fokusnya tetap mewujudkan sinergitas pelaksanaan program dibidang kebudayaan. Sesuai dalam amanah dalam UU Nomor 5 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan.

Pengajuan warisan budaya lokal, lanjutnya, juga sebagai warisan budaya nasional. Perlu upaya mematenkan warisan budaya sebagai identitas bangsa Indonesia. Termasuk upaya dokumentasi dari setiap budaya lokal yang ada di Indonesia.

"Maka perlu adanya kerjasama ini bersama lintas stakeholder dan akademisi, budayawan, pelaku seni supaya dapat melengkapi dokumen dan premis dalam melestarikan suatu karya budaya," tambahnya. (*/wia/dwi) Editor : Editor News
#Pemajuan Kebudayaan #Sinkronisasi BPNB #Rapat teknis BPNB