Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Kala Rahu, 24 perupa Jogjakarta Pameran Gerhana Matahari

Administrator • Selasa, 15 Maret 2016 | 19:48 WIB
Photo
Photo
DWI AGUS/Radar Jogja
JOGJA – Fenomena alam Gerhana Matahari yang terjadi 9 Maret lalu turut memancing kreatifivitas para perupa. Bertajuk Kala Rahu, 24 perupa Jogjakarta mewarnai tembok ruang pameran Bentara Budaya Yogyakarta (BBY). Mengangkat peristiwa alam ini sebagai objek berkarya mereka.


Para perupa ini tak hanya melihat gerhana sebagai sebuah fenomena alam. Beberapa diantaranya memaknai sebagai makna filosofis. Mulai dari sudut pandang sosial hingga cerita-cerita rakyat didalamnya.


"Kalau kita ingat pesan orang tua zaman dahulu pasti menghubungkan gerhana dengan mitos. Paling fenomenal adalah Batara Kala sedang menelan matahari. Meski dari sudut pandang sains dan agama tidak logis, tapi ini tetap diyakini," kata kurator pameran Romo Sindhunata, kemarin.


Peristiwa alam ini terbukti mampu mencuri perhatian semua orang. Menghilangnya cahaya matahari untuk sesaat dihadirkan secara indah sebagai objek lukisan. Beberapa seniman pun turut mengambil cara pandang yang berbeda akan gerhana matahari ini.


Seperti Subanid Giyanto dengan karyanya yang berjudul Sejengkal Lagi. Dirinya menghadirkan sosok Batara Kala yang menelan cermin berbentuk bulat. Cermin ini diibaratkan sebagai matahari.


Adapula Yuswantoro Adi dengan karyanya yang berjudul 1983. Karya ini menggambarkan peristiwa Gerhana Matahari Total yang terjadi pada tahun 1983. Dirinya menghadirkan objek gerhana matahari dengan kurungan ayam di bawahnya.


"Fenomena alam dimanfaatkan pemerintah untuk menunjukan kekuasaannya. Ini sangat terasa ketika gerhama terjadi ditahun 1983. Warga tidak boleh keluar rumah, padahal ini adalah fenomena alam yang wajar," tutur Yus.


Nasirun juga hadir dalam pameran Kala Rahu ini. Dirinya mengusung karya berjudul Semoga Kembali Terang. Karya yang dibuat tahun 2016 ini menggunakan kanvas berkuran besar, 200x240cm. Sosok wayang-wayang kecil pun dihadirkan seakan menyambut fenomena alam ini.


"Seperti kehidupan, ada terang dan ada gelap. Dinamika ini juga dirasakan oleh manusia dalam menjalani hidup. Sehingga peristiwa ala mini mengingatkan akan kebesaran sang pencipta. Disisi lain juga mengajarkan manusia akan makna kehidupan," jelas Nasirun.


Pameran yang berlangsung hingga 20 Maret ini melibatkan seniman-seniman kenamaan Jogjakarta. Beberapa diantaranya adalah Bambang Heras, Bayu Wardhana, Hermanu, I Made Arya Palguna, Laksmi Shitaresmi, Nasirun, Putu Sutawijaya hingga Yuswantoro Adi. (dwi/dem/ong) Editor : Administrator
#Seniman #perupa #pelukis #lukisan #Pameran #BBY