MENAWAN: Penampilan penyanyi muda Jogjakarta, Melati Rahmaningtyas, dalam Simfoni Keistimewaan Warna Warni Musik Jogja di Concert Hall TBY.
JOGJA – Jogjakarta tak hanya terkenal dengan kesenian tradisinya. Namun, juga dikenal sebagai penghasil musisi nasional yang layak diacungi jempol di blantika musik tanah air. Bahkan, musisi di DIJ mampu mengkolaborasikan musik tradisi dengan instrument modern.
Gubernur DIJ Hamengku Buwono X menilai, musik tidak hanya produk dari seni budaya. Sejak zaman nenek moyang, musik merupakan salah satu perekat. Dipentaskan dalam sebuah acara, bahkan berfungsi untuk mengumpulkan warga pada kala itu.
"Seni musik dapat berfungsi sebagai perekat bangsa. Contohnya Simpony no 9 karya Ludwig van Beethoven yang dikumandangkan saat 10 tahun Jerman bersatu," kata HB X saat membuka Simfoni Keistimewaan Warna Warni Musik Jogja di Concert Hall Taman Budaya Yogyakarta (TBY), Minggu malam (28/2).
Jogjakarta, menurutnya, tak bisa lepas dengan perkembangan musiknya. Bahkan musik dapat mengobarkan semangat kebersamaan. Salah satunya ketika sedang marak perjuangan status keistimewaan Jogjakarta.
Kala itu kelompok musik Jogja Hip Hop Foundation memopulerkan lagu Jogja Istimewa. Dalam sekejap lagu ini menjadi lagu wajib memperjuangkan keistimewaan. Bahkan, mampu mempersatukan antara pemimpin dan rakyatnya untuk berjuang bersama.
"Merasakan semangat golong gilig antara rakyat dengan pemimpin. Ini bukti bahwa musik dapat menggunggah rasa persatuan dan kesatuan di Jogjakarta," jelasnya.
Sementara itu, dalam Simfoni Keistimewaan Warna Warni Musik Jogja sendiri juga melibatkan musisi-musisi bertalenta di DIJ. Konser musik orkestra yang dikonduktori oleh Singgih Sanjaya membawakan sebanyak 16 repertoar orkestra.
Selain repertoar ciptaannya sendiri, Singgih juga menghadirkan tembang-tembang populer. Malam itu, sebagai penampil yakni Brian vokalis Jikustik dan penyanyi muda Melati Rahmaningtyas. Penampilan keduanya mampu memukau penonton malam itu.
Terpisah, Kasi Sejarah Bahasa dan Sastra Dinas Kebudayaan Jogjakarta Erlina Hidayati Sumardi berharap, program ini dapat menjadi gerbang pembuka keterlibatan pemerintah dalam memajukan industri musik Jogjakarta.
"Ini perdana dan akan kita tingkatkan terus. Potensi musik di Jogjakarta itu sangatlah besar. Bahkan musisi-musisi Jogjakarta telah menyerbu hingga tingkat nasional," kata Erlina.
Diakuinya, selama ini peran pemerintah sedikit terlambat dalam bidang musik. Kendala yang ditemui adalah kurangnya komunikasi antara musisi dan pemerintah. Sehingga tak pernah menemukan titik temu untuk saling mendukung.
"Padahal dukungan ini wajib, karena musik merupakan salah satu dari 20 potensi industri kreatif di Jogjakarta. Posisi kita sebagai fasilitator dan melibatkan musisi secara langsung," jelasnya. (dwi/ila/ong) Editor : Administrator