PALING LAMA: Andrea Hirata memegang novel terbarunya berjudul Ayah saat menyapa publik Jogja (14/6).
JOGJA - Andrea Hirata kembali mengisi dunia tulis Indonesia dengan novel terbarunya. Berjudul Ayah, novel karyanya ini menjadi karya ke-9 yang ia tulis. Buku ini sekaligus menjadi oase bagi para pecinta tulisannya setelah sempat vakum empat tahun.
Sang penulis pun menyempatkan menyapa publik Jogjakarta, Minggu sore (14/6). Puluhan orang antusias mengikuti meet and greet yang dilaksanakan di toko buku Toga Mas Kotabaru. Selain mempromosikan novel terbarunya, Andrea juga berbagi ragam cerita.
"Ini adalah novel yang penyelesaiannya paling lama, enam tahun. Tertunda terus penyelesaiannya karena proses penerjemahan Laskar Pelangi ke 34 bahasa. Jadi setiap kali mau nulis, masih harus komunikasi dengan penerjemah," kata Andrea Hirata.
Selain itu Andrea juga sibuk melakukan riset dalam novelnya. Dalam karya terbarunya ini ia tetap hadir sebagai seorang story telling. Kekuatan bertuturnya seperti dalam tetralogi Laskar Pelangi pun masih terlihat tajam.
Itulah mengapa penulis berusia 38 tahun ini melakukan riset dan eksperimen untuk memperkaya detail serta alur cerita. Meski begitu Andrea menjanjikan perbedaan mendasar dalam novel Ayah. Salah satunya adalah karakter dalam novel Ayah yang lebih banyak ketimbang Laskar Pelangi.
"Saya mencoba twist dalam cara bertutur yang biasanya linear. Tapi dalam tulisan ini tetap mengambil nilai budaya, keluarga dan edukasi di dalamnya. Kisah ini masih diangkat dari kisah nyata tentang seseorang, tetapi bukan tentang saya," kata Andrea.
Novel ini bercerita tentang betapa besar cinta ayah kepada anaknya. Tokoh ayah diwakili sosok Sabari, sedangkan anaknya adalah Zorro. Untuk merampungkan tulisan ini Andrea menghabiskan 90 persen waktunya untuk riset dan 10 persen untuk menulis.
Dalam menulis novel tersebut, Andrea melakukan riset yang cukup ilmiah. Metode yang digunakan sama yang biasa digunakan dalam membuat corporate culture. Dirinya terlebih dahulu mengadaptasi jawaban-jawaban dalam kuisioner selama setahun.
Setelah menemukan skala-skala dalam hipotesa barulah Andrea meramunya menjadi tulisan. Dirinya juga mengaku karya Ayah merupakan novel pertama yang bukan novel otobiografi. Cenderung kisah tentang orang-orang biasa dalam percakapan harian.
"Itu mengapa tidak ada yang rumit dalam tulisan ini. Menulis yang mudah dengan teknis yang gampang. Ini juga ciri khas dalam membuat tulisan story telling," ungkapnya. (dwi/laz/ong)
Karya Pertama Bukan Novel Otobiografi Editor : Administrator