LESTARI: Taman Budaya Yogyakarta (TBY) menganugerahkan dua gelar maestro kepada dua dalang kenamaan Jogjakarta, almarhum Ki Timbul Hadi Prayitno dan Ki Hadi Sugito.
Lakon Kresno Duta dan Wahyu Eko BawanaJOGJA – Kesenian wayang kulit Jogjakarta merupakan salah satu kekuatan seni tradisi di In-donesia. Taman Budaya Yogya-karta (TBY) tahun ini menganu-gerahkan dua gelar maestro kepada dua dalang kenamaan Jogjakarta. Mereka adalah al-marhum Ki Timbul Hadi Pra yitno dan Ki Hadi Sugito.Penghargaan inipun dikemas dengan pementasan wayang kulit oleh para penerus mereka di halaman TBY, Jumat (12/12) malam. Ki Riyo Kawindro Wi-noto Hadi Prayitno dan Ki Su-wondo Hadi Prayitno memba-wakan lakon Kresno Duta. Ke-duanya merupakan anak maes-tro dalang Ki Timbul Hadi Prayitno.Sedangkan untuk Ki Hadi Sugito dipentaskan oleh anaknya Ki Totok Hadi Sugito yang menampilkan lakon ber-judul Wahyu Eko Bawana. Kepala TBY Diah Tutuko Suryan daru menyebutkan bahwa kedua almarhum dalang ini me-miliki peran penting. Menurutnya Ki Timbul Hadi Prayitno mengab-dikan diri pada dunia wayang kulit sepanjang hidupnya. Se-dangkan Ki Hadi Sugito memi-liki keberanian untuk mendobrak gaya pagelaran wayang yang terlalu kaku. "Tujuannya agar pelestarian dapat terus berjalan," kata Diah.Peran kedua maestro dalang inipun dapat terus dirasakan hingga saat ini. Sebagai jiwa se-jati dunia wayang, almarhum Ki Timbul dapat menginspirasi pe-lestarian kesenian ini. Jiwanya yang benar-benar total dalam dunia wayang merupakan bentuk pengabdian yang tak terhingga.Peran Ki Hadi Sugito sangat berpengaruh terhadap dunia wayang di Jogjakarta. Dengan membongkar kekakuan gagrak Jogjakarta dan membuka pelu-ang pelestarian lebih luas. Hal ini dilakukan untuk menjaring minat wayang khususnya ke-pada generasi muda. "Ki Hadi membuat pertunjukan wayang tidak lagi bernuansa keramat. Sehingga dapat ber-fungsi sebagai sajian yang me-narik. Tema yang diangkat juga seputar situasi masyarakat se-hari-hari. Meski tanpa mening-galkan pakem yang dimiliki," kata Diah.Tanggapan positif juga diberikan oleh para penerus para maestro ini. Ki Totok Hadi Sugito menyebut-kan pelestarian wajib dijaga. Atas gelar maestro yang didapatkan ayahnya, dirinya berterima kasih dan terharu. Selain itu dengan adanya penghargaan ini turut memacu semangat untuk terus melestarikan. Namun dalam ke-sempatan ini dirinya menyam-paikan sebuah pesan. Di mana pelestarian tidak hanya menjadi tugas seorang dalang atau ang-gota keluarganya saja. "Wayang itu miliki kita semua bangsa Indonesia. Selain pelaku tentunya juga butuh orang yang mengapresiasi. Bisa sebagai penonton hingga peneliti. Se-hingga ini perlu perhatian kita semua untuk menjaga kekayaan bangsa ini," katanya.Selain menampikan dua pe-mentasan wayang, acara ini juga menghadirkan koleksi para maestro. Mulai dari wayang kulit, keris, pakaian, piagam penghargaan dan koleksi lainnya. Ketua panitia Wasdiyanta me-nyebutkan penghargaan tahun ini didesain secara khusus dari tahun sebelumnya. "Jika biasanya diwujudkan dalam bentuk dana maka tahun ini wujud pentas wayang kulit. Karya-karya para maestro ini kita tampilkan kembali sebagai wujud khazanah kekayaan seni budaya tradisi," kata Wasdi-yanta. (dwi/ila/ong) Editor : Administrator