RADAR JOGJA - Di Gombong, Kebumen, Jawa Tengah, terdapat rumah putih bergaya kolonial dengan jendela kaca patri berwarna-warni.
Angka 1920 terpampang di bagian depan bangunan yang kini dikenal sebagai Roemah Martha Tilaar, rumah masa kecil pengusaha kecantikan pemilik merek Sariayu.
Rumah ini menjadi tempat untuk mengenal perjalanan hidup Martha Tilaar sekaligus menyaksikan jejak sejarah dan budaya Gombong.
Martha Tilaar, yang lahir dengan nama Martha Handana pada 4 September 1937, mengawali karier sebagai guru sekolah dasar selama dua tahun sebelum menyelesaikan pendidikan di IKIP Jakarta.
Baca Juga: Peringati Hari Jadi Kulon Progo, Jam Layanan Masyarakat Disdukcapil dan Kapanewon Jadi Sorotan
Saat mengikuti suaminya bertugas ke Amerika Serikat, ia belajar kecantikan di Academy of Beauty Culture, Bloomington, Indiana.
Setelah lulus, Martha membuka salon dan mulai merintis bisnis kosmetik serta jamu berbahan alami Indonesia yang kemudian dikenal melalui Sariayu.
Berlokasi di Jalan Sempor Lama Nomor 28, rumah ini memiliki gaya arsitektur Indische Empire, berdasarkan kajian Universitas Atma Jaya Yogyakarta.
Ciri khasnya terlihat dari teras luas, tiang putih, atap genteng tanah liat, dan jendela tinggi berkaca patri.
Bangunan tersebut kemudian direnovasi menjadi museum dan diresmikan pada 6 Desember 2014.
Baca Juga: Manfaatkan Sumur Dalam, Brigade Pangan Klaten Panen Padi di Musim Kemarau
Pendirian Roemah Martha Tilaar merupakan bentuk kontribusi keluarga Martha bagi kampung halaman, sekaligus mewujudkan cita-cita sang ibu untuk memberikan manfaat bagi masyarakat Gombong.
Pengunjung dapat melihat berbagai koleksi lama, seperti gramofon, radio era 1930-an, meja tradisional, tempat tidur besi, dan perlengkapan rumah tangga yang menggambarkan kehidupan masa lalu.
Tersedia pula galeri yang menjual produk Martha Tilaar Group dan kerajinan lokal.
Selain menambah pilihan wisata di Gombong, tempat ini turut memperkenalkan potensi ekonomi kreatif daerah.
Roemah Martha Tilaar menawarkan wisata sejarah melalui bangunan yang menyimpan kisah kehidupan pendirinya.
Perpaduan arsitektur kolonial, koleksi keluarga, dan produk lokal menjadikannya destinasi menarik bagi pengunjung yang ingin mengenal sisi lain Gombong.