30 September Diperingati sebagai G30S, Mengapa Bendera Merah Putih Dikibarkan Setengah Tiang?

Maria Margaretha Nirong Gedo • Dipublikasikan Rabu, 30 September 2026 | 14:19 WIB
Ilustrasi – Bendera Merah Putih dikibarkan setengah tiang dalam rangka mengenang peristiwa G30S.
Ilustrasi – Bendera Merah Putih dikibarkan setengah tiang dalam rangka mengenang peristiwa G30S.

 RADAR JOGJA – Suasana berbeda terlihat setiap memasuki 30 September. Bendera Merah Putih yang biasanya berkibar penuh, pada tanggal tersebut justru dikibarkan setengah tiang. Tradisi ini menjadi bagian dari peringatan sejarah bangsa yang berkaitan dengan peristiwa Gerakan 30 September atau G30S pada 1965.

Pada Rabu (30/9/2026), masyarakat Indonesia diimbau mengibarkan Bendera Merah Putih setengah tiang. Ketentuan tersebut tercantum dalam Pedoman Penyelenggaraan Upacara Peringatan Hari Kesaktian Pancasila Tahun 2026 yang diterbitkan Kementerian Kebudayaan.

Imbauan pengibaran bendera tersebut berlaku bagi kantor instansi pemerintah pusat dan daerah, kantor perwakilan Indonesia di luar negeri, satuan pendidikan, serta masyarakat Indonesia secara luas. Pengibaran setengah tiang menjadi simbol penghormatan dan tanda berkabung dalam mengenang korban peristiwa G30S.

Peristiwa yang berlangsung pada malam 30 September hingga 1 Oktober 1965 tersebut menjadi salah satu bagian penting dalam perjalanan sejarah Indonesia. Dalam rangkaian peristiwa itu, sejumlah perwira TNI Angkatan Darat menjadi korban penculikan dan pembunuhan.

Baca Juga: Mantan Ketua Manchester City David Berstein Ungkap Klub Harus Diusir dari Liga Inggris

Sebanyak enam jenderal dan satu perwira pertama kemudian ditetapkan sebagai Pahlawan Revolusi. Mereka adalah Ahmad Yani, Raden Soeprapto, Mas Tirtodarmo Haryono, Siswondo Parman, Sutoyo Siswomiharjo, Donald Isaac Panjaitan, serta Pierre Andreas Tendean.

Para korban ditemukan di kawasan Lubang Buaya, Jakarta Timur. Tempat tersebut kemudian menjadi salah satu lokasi yang berkaitan erat dengan sejarah peristiwa G30S dan kini dikenal sebagai kawasan Monumen Pancasila Sakti.

Pengibaran bendera setengah tiang pada 30 September juga memiliki tata cara tersendiri. Bendera terlebih dahulu dinaikkan hingga mencapai ujung tiang, kemudian diturunkan secara perlahan sampai posisi setengah tiang. Saat hendak diturunkan pada akhir waktu pengibaran, bendera kembali dinaikkan ke bagian atas sebelum diturunkan seluruhnya.

Hal tersebut merupakan bagian dari tata cara penghormatan terhadap bendera negara. Pengibaran setengah tiang sendiri secara umum digunakan sebagai tanda berkabung atau penghormatan terhadap mereka yang telah gugur.

Namun, 30 September dan 1 Oktober memiliki ketentuan yang berbeda. Setelah bendera dikibarkan setengah tiang pada 30 September, keesokan harinya, Kamis (1/10/2026), Bendera Merah Putih kembali dikibarkan satu tiang penuh mulai pukul 06.00 waktu setempat.

Baca Juga: Timnas MLBB Indonesia ke Semifinal ASEAN Games 2026 setelah Taklukkan Filipina

Tanggal 1 Oktober diperingati sebagai Hari Kesaktian Pancasila. Peringatan tersebut berkaitan dengan refleksi atas peristiwa G30S sekaligus menegaskan kembali kedudukan Pancasila sebagai dasar negara.

Karena itu, masyarakat perlu memahami perbedaan kedua tanggal tersebut. Pada 30 September, bendera setengah tiang menjadi bagian dari penghormatan dan pengenangan terhadap peristiwa sejarah. Sementara pada 1 Oktober, bendera dikibarkan penuh dalam rangka Hari Kesaktian Pancasila.

Bagi generasi muda, momentum tersebut juga dapat menjadi kesempatan untuk mengenal sejarah Indonesia secara lebih kritis dan berdasarkan sumber yang dapat dipertanggungjawabkan. Peristiwa G30S merupakan bagian dari sejarah yang memiliki berbagai kajian dan perspektif, sehingga pemahaman terhadap konteks sejarah menjadi penting agar peringatan tidak berhenti pada seremoni semata.

Dengan demikian, ketika melihat Bendera Merah Putih berkibar setengah tiang pada 30 September, masyarakat dapat memahami bahwa pengibaran tersebut bukan sekadar aturan tahunan. Ada pesan penghormatan terhadap sejarah dan para korban yang menjadi bagian dari perjalanan panjang bangsa Indonesia.

(Maria Margaretha Nirong Gedo)

 

Editor : Iwa Ikhwanudin
Sumber : Berbagai Sumber
gerakan september 30 setengah tiang gestapu G30S bendera