RADAR JOGJA - Kalau pernah dengar orang Jogja menyebut kata "Jokteng", itu bukan istilah asing atau bahasa gaul baru.
Jokteng adalah singkatan dari Pojok Beteng, area di sudut-sudut tembok pertahanan Keraton Yogyakarta yang sudah jadi penanda kawasan sejak ratusan tahun lalu.
Sejarahnya bermula bersamaan dengan berdirinya Keraton Jogja sendiri, tahun 1755, atas prakarsa Sultan Hamengkubuwono I.
Keraton ini dibangun bukan hanya sebagai pusat pemerintahan, tapi juga simbol kedaulatan budaya raja-raja Jogja.
Baca Juga: ROSO Yogyakarta Membuka Pintunya dengan Kolaborasi Kuliner Istimewa
Sesuai arsitektur tradisional Jawa, benteng dibangun mengelilingi keraton sebagai sistem pertahanan, dan Jokteng adalah bagian penting dari benteng itu, khusus di titik-titik sudutnya.
Menariknya, benteng Keraton Jogja sebenarnya punya dua lapis, bukan cuma satu.
Lapisan pertama disebut Cepuri, mengelilingi kedhaton atau inti kawasan keraton.
Lapisan kedua, jauh lebih luas dan kokoh, disebut Baluwarti, mencakup seluruh kawasan Jeron Beteng.
Baca Juga: Viral! Tiga Siswi SMPN 3 Bogor Jadi Korban Perundungan, Berawal dari Gosip Alumni
Nama "Baluwarti" ini punya cerita bahasa yang menarik.
Diserap dari bahasa Portugis, baluarte, yang juga berarti benteng.
Awalnya, tembok pertahanan ini terbuat dari gelondongan kayu, sebelum diperkuat dengan lorong selebar 2,4 meter tempat prajurit berjaga.
Di sisi luar benteng, ada parit dalam berair jernih bernama jagang, dilengkapi pagar bata dan barisan pohon gayam di sepanjang jalan yang melingkarinya.
Dulu, Jokteng ada empat, tersebar di keempat penjuru mata angin.
Baca Juga: Maling Spesialis Gabah Diringkus Polres Kulon Progo, Beraksi Sudah Empat Kali
Tapi sekarang cuma tersisa tiga: Pojok Beteng Wetan (timur), Pojok Beteng Kulon (barat), dan Pojok Beteng Lor (utara).
Satu sudut yang hilang, di sebelah utara-timur, hancur akibat serangan pasukan Inggris dalam peristiwa Geger Sepehi, 1812.
Nah, peristiwa kelam berusia dua abad inilah yang justru kembali mencuat lewat kejadian tak terduga, Agustus 2023 lalu.
Saat proyek revitalisasi benteng berlangsung di Jalan Suryomentaraman Wetan, pekerja menemukan sesuatu yang membuat geger seluruh Jogja.
Ada kerangka yang diduga manusia, bercampur dengan kerangka yang diduga kuda.
Baca Juga: Legenda Liverpool Ini Pertanyakan Performa Trent Alexander-Arnold Setelah Meninggalkan Anfield
Kepala Dinas Kebudayaan DIY saat itu, Dian Laksmi, sampai mengaku tidak bisa menjelaskan sama sekali soal temuan ini.
Setelah proses identifikasi berlangsung, polisi akhirnya mengumumkan hasil akhirnya.
Lokasi itu ternyata makam kuno yang sudah lama dilupakan warga.
Kerangka tersebut kemudian dimakamkan kembali secara layak di Makam Dinas Sosial Sidikan, Umbulharjo, 21 Agustus 2023.
Setiap jengkal tembok beteng menyimpan lapisan sejarah yang jauh lebih dalam dari sekadar batu bata dan parit.