Di Bawah Pisau Tanpa Bius: Sejarah Pembedahan Ekstrem Abad ke-19

Alfiani Hidayatul Choiriyah • Dipublikasikan Rabu, 19 Agustus 2026 | 18:20 WIB
Ilustrasi
Ilustrasi

Sebelum ditemukannya zat anestesi yang aman pada pertengahan abad ke-19, ruang operasi rumah sakit adalah tempat yang sangat menakutkan bagi siapapun.

Setiap tindakan pembedahan, mulai dari amputasi tulang hingga pemotongan jaringan tubuh, dilakukan dalam keadaan pasien sadar sepenuhnya.

Dalam kondisi ekstrem seperti ini, rasa sakit yang dialami pasien dapat memicu syok neurogenik fatal yang berujung pada kematian mendadak di meja operasi.

Satu-satunya kualifikasi utama yang menentukan keahlian seorang dokter bedah masa itu adalah kecepatan tangan.

Baca Juga: Sehari Jelang Tayang, Harusnya Horror Sold Out di Enam Kota, Cast Sapa Penggemar di Jogja

Dokter tidak diukur dari seberapa rapi jahitan mereka, melainkan seberapa cepat mereka dapat menyelesaikan pemotongan sebelum pasien pingsan atau meninggal karena kesakitan.

Kecepatan mengeksekusi tindakan medis menjadi faktor penentu tunggal antara hidup dan matinya seorang pasien

Salah satu ahli bedah paling terkenal dari era ini adalah Dr. Robert Liston dai Skotlandia, yang mampu mengamputasi satu kaki pasien dalam waktu kurang dari satu menit yakni 30 detik.

Ruang operasi tempatnya bekerja dibuat mirip seperti teater pertunjukan yang dipenuhi penonton. Beberapa asisten berbadan tegap ditugaskan khusus untuk memegang dan menahan tubuh pasien yang meronta-ronta menahan rasa sakit luar biasa selama tindakan berlangsung.

Minimnya pengetahuan tentang higienitas juga memperburuk kondisi bedah abad ke-19.

Para dokter sering kali menggunakan pakaian medis yang berbercak darah kering dari operasi sebelumnya sebagai simbol pengalaman kerja.

Alat-alat bedah seperti pisau dan gergaji jarang disterilkan di antara jadwal pasien, menyebabkan angka kematian akibat infeksi paska-operasi (sepsis) melonjak sangat tinggi.

Masa-masa mengerikan ini baru berakhir setelah penggunaan eter dan kloroform diperkenalkan secara luas dalam dunia kedokteran pada akhir 1840-an.

Baca Juga: "Perang Babi 1859" Sebuah Sengketa Wilayah yang Nyaris Memicu Perang Dunia

Penemuan anestesi mengubah praktik pembedahan secara drastis dari perlombaan lari melawan waktu menjadi prosedur medis yang cermat, tenang, dan jauh lebih manusiawi bagi para pasien.

 

Editor : Bahana.
operasi tanpa anestesi sejarah kedokteran Robert Liston sejarah operasi anestesi