Sejarahnya bermula dari tanah hibah Sri Sultan Hamengkubuwono VII kepada masyarakat Tionghoa Jogja, yang saat itu resmi disebut de Chinesche Bevolking atau Kampung Penduduk Tionghoa.
Pembangunannya sendiri dimulai tahun 1881, meski sebagian catatan menyebut 1879, dan baru benar-benar rampung tahun 1907.
Nama aslinya, Tjen Ling Kiong atau dalam ejaan Mandarin Zhen Ling Gong, punya makna yang cukup dalam kalau diurai satu per satu.
Baca Juga: Viral! Tiga Siswi SMPN 3 Bogor Jadi Korban Perundungan, Berawal dari Gosip Alumni
Zhen berarti menenangkan atau menjaga, Ling berarti berkhasiat atau berkaitan dengan jiwa, dan Gong berarti istana atau kuil.
Jadi secara harfiah, nama ini bisa dimaknai sebagai "istana penjaga ketenangan jiwa".
Bahkan kata "kelenteng" sendiri punya asal-usul menarik: gabungan tiga kata Kauw (belajar), Lang (orang), dan Teng (tempat), yang kalau digabung berarti tempat orang belajar.
Ini bukan kebetulan, karena di area klenteng ini dulu memang sengaja dibangun sekolah.
Baca Juga: Jejak Raungan Sirine Gaok: Dari Sinyal Bahaya Kolonial Hingga Penjaga Memori Sejarah Yogyakarta
Kongco atau leluhur yang dipuja utama di klenteng ini adalah Kwan Tie Koen, sosok yang dalam sejarah Tionghoa kuno dikenal sebagai jenderal perang yang jujur dan setia.
Karena reputasinya itu, masyarakat Tionghoa mengangkatnya jadi dewa keadilan, dan klenteng ini pun jadi tempat masyarakat memohon perlindungan serta keadilan dalam hidup mereka.
Di atas tanah hibah yang sama, berdiri juga Sekolah Dasar Tionghoa modern pertama bernama Tiong Hoa Hak Tong, di bawah naungan Tiong Hoa Hwee Koan (THHK), resmi berbadan hukum sejak 19 Juni 1907.
Baca Juga: Liverpool Makin Dekat Amankan Duo PSG, Ibrahim Mbaye Sudah Sepakat Kontrak Lima Tahun?
Sayangnya, sekolah ini tidak bertahan lama.
Tekanan pemerintah kolonial Belanda membuat sekolah ini dibubarkan paksa tahun 1938.
Bekas gedung sekolahnya kini masih berdiri, dipakai Yayasan Pendidikan dan Pengajaran Nasional (YPPN).
Sebagai tempat ibadah Tri Dharma, klenteng ini melayani tiga ajaran sekaligus: Konghucu, Buddha, dan Tao, mencerminkan keberagaman spiritual masyarakat Tionghoa yang jadi ciri khas klenteng-klenteng di Nusantara.
Baca Juga: WNA Diajak Selami Kehidupan Masyarakat Lokal Jogja, Pemkot Bekali Kamwis Kemampuan Bahasa Asing
Secara arsitektur, bangunannya didominasi warna merah, melambangkan kebahagiaan menurut tradisi Tionghoa, dengan dua patung qilin batu mengapit pintu utama serta ukiran naga di bagian atap.
Kini, halaman luas di depan klenteng yang dulu jadi lokasi latihan fisik dan kungfu para murid THHK, sehari-hari lebih sering dipakai jadi lahan parkir pengunjung Pasar Kranggan.
Editor : Meitika Candra Lantiva