Jejak Raungan Sirine Gaok: Dari Sinyal Bahaya Kolonial Hingga Penjaga Memori Sejarah Yogyakarta

Alfiani Hidayatul Choiriyah • Dipublikasikan Selasa, 18 Agustus 2026 | 11:59 WIB
Sirine Gaok (Facebook)
Sirine Gaok (Facebook)

Sirine Gaok—atau yang akrab disapa Gauk oleh warga lokal adalah alat peringatan bahaya peninggalan pemerintah Hindia Belanda yang tersebar di titik-titik penting Kota Yogyakarta.

Penamaan "Gaok" diambil dari tiruan bunyi raungannya yang berat, keras, dan sanggup bergema hingga ke pemukiman warga.

Perangkat tua ini terbuat dari rakitan logam tebal berbahan baling-baling internal berdaya listrik tinggi, dengan corong menyerupai terompet melingkar di atas menara beton.

Pada dekade 1930-an, ketika tata ruang kota belum sepadat sekarang dan hambatan suara masih minim, gema sirine ini bahkan mampu menjangkau radius hingga lebih dari lima kilometer.

Pada awal pengoperasiannya oleh dinas pertahanan sipil Belanda (Luchtbeschermingsdienst), sirine ini sengaja dipasang di bangunan-bangunan tinggi agar suaranya menyebar luas. Beberapa titik utamanya berada di Pasar Beringharjo bagian selatan, Plengkung Gading, bekas Hotel Tugu, menara Bioskop Permata, serta kawasan Pakualaman.

Baca Juga: Liverpool Makin Dekat Amankan Duo PSG, Ibrahim Mbaye Sudah Sepakat Kontrak Lima Tahun?

Saat Perang Dunia II kecamuk, Sirine Gaok berfungsi memberi peringatan dini serangan udara agar warga segera bersembunyi di bungker.

Fungsi ini bergeser ketika Belanda menguasai Yogyakarta dalam Agresi Militer II, di mana sirine meraung saban pukul 06.00 dan 18.00 WIB sebagai batas penanda berlakunya jam malam.

Peran Sirine Gaok mencatatkan tinta emas dalam sejarah kemerdekaan Indonesia saat peristiwa Serangan Umum 1 Maret 1949. Dalam strategi perang gerilya yang dirancang Letkol Soeharto atas arahan Sri Sultan Hamengku Buwono IX, momen perubahan jam malam dimanfaatkan sebagai tanda serangan mendadak.

Pada 1 Maret 1949 pukul 06.00 WIB, sirine yang lazimnya menjadi penanda berakhirnya jam malam justru menjadi sinyal bagi TNI dan laskar pejuang untuk menyerbu pasukan Belanda secara serentak dari berbagai penjuru.

Keberhasilan menduduki Yogyakarta selama enam jam tersebut sukses mematahkan propaganda Belanda dan membuktikan kepada dunia bahwa Republik Indonesia masih ada.

Sirine Gaok telah beralih menjadi simbol warisan budaya serta penjaga memori sejarah. Meski beberapa perangkat mulai dimakan usia, unit yang berada di Plengkung Gading masih terjaga dengan baik dan dirawat oleh warga serta pengurus masjid lokal.

Baca Juga: Maling Spesialis Gabah Diringkus Polres Kulon Progo, Beraksi Sudah Empat Kali

Sirine ini masih aktif dibunyikan setiap bulan Ramadan sebagai penanda waktu imsak dan berbuka puasa. Selain itu, setiap tanggal 17 Agustus tepat pukul 10.00 WIB, raungan Gaok kembali terdengar selama satu menit penuh untuk mengiringi Detik-Detik Proklamasi Kemerdekaan RI, menegaskan posisinya sebagai saksi bisu perjalanan bangsa.



Editor : Bahana.
Sejarah Yogyakarta Sejarah Kemerdekaan serangan umum 1 maret Cagar Budaya Jogja sirine gaok