Pasukan Hantu Maut, Regu Kecil Berisi Siswa Sekolah Polisi di Jogja, Gerilya saat Agresi Militer

Anom Bagaskoro • Dipublikasikan Minggu, 16 Agustus 2026 | 07:08 WIB
Monumen Hantu Maut untuk mengenang jasa pahlawan yang tergabung dalam Pasukan Hantu Maut di Jogja
Monumen Hantu Maut untuk mengenang jasa pahlawan yang tergabung dalam Pasukan Hantu Maut di Jogja

 

 

Bagi sebagian masyarakat Jogja dan sekitarnya, mungkin tak asing dengan sebutan Pasukan Hantu Maut. Kenyataannya, nama itu tercatat dalam sejarah perjuangan mempertahankan Kemerdekaan RI saat Agresi Militer Belanda II pada tahun 1948.

Tak seperti namanya, pasukan biasanya berisikan belasan hingga puluhan regu serta ratusan orang personel. Namun, Pasukan Hantu maut justru merupakan regu kecil yang berisikan siswa sekolah polisi yang melawan Belanda dengan bergerilya.

Sejarawan Ahmad Athoillah menjelaskan, beberapa sumber dapat menjadi referensi sejarah mengenai pergerakan dan kiprah Pasukan Hantu Maut. Salah satu sumber menyebutkan, Pasukan Hantu Maut berawal dari sebuah laskar pemuda bentukan GBPH Pujokusumo atau putra HB VIII.

Baca Juga: Prabowo Klaim Pendapatan Driver Naik hingga 3 Kali Lipat, Forum Ojol Jogja Keluhkan Skeman 92:8

Laskar pemuda itu, lantas bergabung dalam Polisi Pelajar Pertempuran (P3). "Personel Pasukan Hantu Maut itu merupakan siswa sekolah polisi negara (SPN) Ambarukmo," ucap Athoillah, Jumat (14/8).

SPN Ambarukmo merupakan markas historis P3, kompi khusus Mobile Brigade yang menjadi cikal bakal Brimob saat ini. Personel Pasukan Hantu Maut merupakan siswa yang belajar dan berlatih di markas tersebut selama beberapa tahun, tak jelas lama sekolahnya. Saat terjadinya Agresi Militer Belanda pada 19 Desember 1948, siswa SPN Ambarukmo ikut dikerahkan dalam medan pertempuran.

Siswa SPN Ambarukmo masuk ke dalam Kompi P3, dalam kompi tersebut terdapat 10 regu pasukan. Pasukan Hantu Maut merupakan sub regu dari Regu Hantu Maut. Tak ada catatan yang jelas menyebutkan jumlah personel regu atau Pasukan Hantu Maut. Namun, ia meyakini Pasukan Hantu Maut merupakan regu kecil.

Baca Juga: Hari Jadi ke-81 Jateng: Ekonomi Makin Gemilang, Angka Kemiskinan Terus Berkurang

Berbeda dengan pejuang laskar kepemudaan, Pasukan Hantu Maut memiliki pergerakan yang sistematis. Hal ini dipengaruhi pengetahuan militer walaupun sedikit yang didapat dari masa sekolah. Biasanya Kompi P3 memiliki peran dalam memantau dan mengawasi gerak gerik Belanda selama di Jogjakarta.

Setiap regu saling bertukar informasi berdasarkan wilayah masing-masing. "Prinsipnya walau tidak ada penyerangan, para pejuang dahulu melakukan pengawasan agar situasi terkontrol," ungkapnya.

Pemantau oleh regu Kompi P3 mampu memberikan gambaran untuk menyusun strategi. Pejuang di masa mempertahankan kemerdekaan akan melihat kondisi dan gerakan Belanda untuk melakukan penyerangan. Termasuk Pasukan Hantu Maut yang melakukan strategi gerilya dalam melakukan penyerangan. Strategi itu diterapkan pada penyerangan terhadap belanda di Kotagede hingga Pleret.

Baca Juga: Kenapa Saat Upacara Bendera Ada yang Berdiri dan Ada yang Diperbolehkan Duduk?

Pasukan Hantu Maut berbeda dengan laskar kepemudaan. Memiliki pengalaman saat sekolah, mereka dibekali senjata api dalam penyerangan. Pistol hingga senapan menjadi alat perjuangan mereka. Namun karena keahlian mereka bukan di militer ada beberapa korban jiwa. Hal serupa juga terjadi pada regu Kompi P3 lain, yang makamnya tersebar di beberapa TMP di DIJ.

"Memang P3 ini memiliki kemampuan pemukul seperti Brimob sekarang, tapi basicnya bukan militer, urusan militer tetap TNI," ungkapnya.

Athoillah menjelaskan, terdapat kemungkinan Pasukan Hantu Maut ikut serta dalam Serangan Umum 1 Maret. Lantaran, saat serangan tersebut hampir semua pejuang kemerdekaan ikut serta dilakukan secara terorganisasi.

Selain melakukan perlawanan terhadap Belanda, Pasukan Hantu Maut bertugas menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat, sesuai ketugasan polisi. Hal itulah yang membuat masyarakat Kota Jogja mengingat Pasukan Hantu Maut karena memiliki sisi dan aspek sipil yang melekat. Pada 27 Desember 1949, Pasukan Hantu Maut di Demobilisasi, karena pergerakan Belanda di DIJ melemah. (gas/laz)

 

Editor : Herpri Kartun
pasukan hantu maut GBPH Pujokusumo Agresi Militer Belanda Sekolah Polisi Negara pistol