Perjuangan Pasukan Hantu Maut Tak Bisa Dilepaskan dari Ndalem Pujokusuman Jogja

Rizky Wahyu • Dipublikasikan Minggu, 16 Agustus 2026 | 01:24 WIB
Ndalem Pujokusuman
Ndalem Pujokusuman

 

 

Perjuangan mempertahankan kemerdekaan di Jogjakarta menyisakan deretan kisah heroik dari pelosok kampung. Salah satu yang tak lekang oleh waktu adalah riwayat Pasukan Hantu Maut. Laskar gerilya pemuda yang bermarkas di Ndalem Pujokusuman, Kelurahan Keparakan, Mergangsan, Kota Jogja ini dulunya menjadi momok menakutkan bagi serdadu Belanda pada masa Agresi Militer.

​Ketua Rintisan Kelurahan Budaya Keparakan Budi Triono menceritakan, sebelum nama Hantu Maut tersohor, cikal bakal laskar ini bermula dari Pasukan Samber Gelap. Laskar awal itu menghimpun pejuang dari kawasan Gondomanan, Mantrijeron, Sewon, hingga berbagai sudut Jogja.

"Tapi waktu itu Pasukan Samber Gelap ketahuan Belanda saat gerilya. Karena bocor, akhirnya bubar dan terpecah belah," ucap Budi saat ditemui Radar Jogja di kediamannya, Jumat (14/8).

Baca Juga: Inovasi Komunitas SkeNU Jogja: Sulap Catatan Ngaji Jadi Buku Panduan Shalat 'Teknologi Diri'

Meski sempat bubar, lanjut Budi, pasukan itu tidak mau menyerah. Para pemuda di sekitaran Ndalem Pujokusuman bergerak cepat merekrut kembali sisa-sisa anggota Samber Gelap. Dari situlah lahir Pasukan Hantu Maut yang dipimpin seorang komandan lokal bernama Basuki.

​Nama Hantu Maut bukan sekadar gertak sambal. Sebab, strategi perang mereka memanfaatkan kelemahan serdadu Eropa yang dinilai kurang awas saat kegelapan malam.

"Wong Eropa nek wengi kan rada rabun, sedangkan orang kami sudah terbiasa dengan kegelapan. Maka strateginya di balik, penyergapan dilakukan malam hari," jelasnya.

Baca Juga: Prediksi Skor Excelsior vs PSV Eindhoven Eredivisie Minggu 16 Agustus, Tekad Bangkit Juara Bertahan

​Keberadaan Pasukan Hantu Maut tak lepas dari peran Gusti Bandara Pangeran Harya (GBPH) Pujokusumo, putra dalem Keraton Jogja yang berpihak penuh pada rakyat. Ndalem Pujokusuman kerap dijadikan lokasi rapat tertutup untuk menyusun taktik perlawanan.

​Uniknya, sistem logistik, pengiriman surat rahasia, hingga penyelundupan senjata tidak menggunakan kurir militer biasa, melainkan memanfaatkan jasa mbok-mbok bakul pasar tradisional yang kala itu berpusat di area yang kini menjadi Museum Perjuangan (Brontokusuman).

"Senjata dan surat disembunyikan di bagian paling bawah tenggok (keranjang bambu). Latar lalu lintas pagi sampai siang hari dibuat seolah bakul-bakul itu cuma mau nawani dhaharan ke Gusti Pujo. Belanda tidak curiga sama sekali," bebernya.

Baca Juga: Dua Bulan Kejar Hafalan Ayat Suci Hingga Sempat Frustrasi, Balada Pemain Film Munafik: Melawan Iblis

​Keberhasilan demi keberhasilan gerilya Hantu Maut akhirnya memicu kecurigaan tebal di kubu musuh. Budi mengungkapkan, Belanda sempat menanam mata-mata di dalam tubuh pasukan demi imbalan materi. Informasi bocor, hingga akhirnya Belanda mendatangi dan menggeledah total Ndalem Pujokusuman.

Anehnya, meski seluruh isi lemari diacak-acak, penjajah tak menemukan satu pun amunisi. "Untungnya amunisi dan senjata disimpan di ceiling atau plafon atas. Belanda enggak berpikiran sampai ke sana," tegasnya.

​Kecewa tak menemukan barang bukti, Belanda lantas menangkap GBPH Pujokusumo lalu diasingkan ke Semarang. Sepeninggal Gusti Pujo, pergerakan Hantu Maut tak lantas padam. Basecamp gerilya ditarik ke arah selatan (wilayah Ngoto, Sewon) dan tetap aktif melancarkan perlawanan pada Subuh, termasuk terlibat membantu pergerakan Serangan Umum 1 Maret 1949.

Baca Juga: Hari Jadi ke-81 Jateng: Ekonomi Makin Gemilang, Angka Kemiskinan Terus Berkurang

​Ada fakta unik lain yang menjadi peninggalan legendaris pasukan ini. Budi menyebut stempel resmi Pasukan Hantu Maut tidak terbuat dari kayu atau karet, melainkan diukir dari batu berbentuk segitiga. "Stempel batu berbentuk segitiga itu sekarang tersimpan sebagai koleksi di Arsip Nasional Jakarta," bebernya.

Kisah Hantu Maut masih berlanjut hingga usai masa pengasingan. GBPH Pujokusumo pulang ke Jogja pascakemerdekaan tanpa menyadari situasi politik telah berubah. Dengan rambut dan brewok yang memanjang selama ditahan, dia sempat tak dikenali saat tiba di Rotowijayan.

"Waktu menyapa abdi dalem di Rotowijayan, abdi dalemnya malah bingung dan bertanya penjenengan sinten. Begitu dijawab 'Aku ki Pujokusumo', baru diamati dan langsung dirangkul tangis haru," katanya.

Budi mengungkapkan ​saat ini garis keturunan GBPH Pujokusumo masih merawat bangunan bersejarah itu, yang kini ditempati KRT Jati Hadiningrat. ​Bagi warga Keparakan, warisan sejarah Pasukan Hantu Maut tidak dibiarkan menjadi fosil mati.

Baca Juga: Masyarakat Tak Hanya Jadi Penonton, 1.000 Orang Usung Merah Putih Sepanjang 481 Meter di Malioboro

Nilai-nilai perjuangannya terus di-uri-uri (dilestarikan). Selain diabadikan dalam prasasti, kisah ini kerap diangkat dalam perlombaan dramatic reading, hingga dijadikan nama paguyuban panahan tradisional (jemparingan) warga setempat.

"Sesepuh dulu mempertaruhkan nyawa untuk kedaulatan tempat ini. Generasi muda sekarang minimal harus bisa meneladani semangatnya dan menjaga kampungnya sendiri," tandasnya. (ayu/laz)

 

Editor : Heru Pratomo
pasukan hantu maut ndalem pujokusuman Budi Triono Pasukan Sumber Gelap GBPH Pujokusumo