Laksamana Malahayati dan Pasukan Janda Armada Inong Balee yang Menggetarkan Eropa

Alfiani Hidayatul Choiriyah • Dipublikasikan Senin, 10 Agustus 2026 | 17:07 WIB
Laksamana Malahayati
Laksamana Malahayati

Jauh sebelum wacana kesetaraan gender dan female empowerment menjadi perbincangan hangat di era modern, Selat Malaka pada akhir abad ke-16 telah menjadi saksi bisu kehebatan seorang panglima laut perempuan pertama di dunia modern.

Keberaniannya tidak lahir dari panggung politik, melainkan dari gemuruh meriam, perang samudra, dan tekat membela kedaulatan tanah air Laksamana Keumalahayati.

Malahayati tidak sekadar memimpin sebuah armada laut. Ia membentuk dan mengomandoi Inong Balee, sebuah pasukan tempur tangguh yang anggotanya terdiri dari puluhan ribu janda prajurit Aceh yang gugur di medan perang.

Malahayati lahir dari keluarga bangsawan militer Kesultanan Aceh Darussalam. Ayahnya, Laksamana Mahmud Syah, serta kakeknya, Laksamana Muhammad Said Syah, adalah perwira tinggi angkatan laut. Pendidikan militer formal ia enyam di Akademia Militer Mahad Baitul Maqdis, sebuah akademi militer terkemuka Aceh yang mendapat dukungan instruktur dari Kesultanan Utsmaniyah.

Titik balik kehidupan Malahayati terjadi pada Pertempuran Teluk Haru melawan armada Portugis. Laksamana Tuanku Mahmoud Hasyim, suami tercintanya, gugur bersama ribuan prajurit Aceh lainnya.

Baca Juga: Perkuat Lini Tengah, Bhayangkara Presisi Lampung FC Resmikan Mauricio Vera

Duka mendalam tidak membuat Malahayati terpuruk. Ia memohon izin kepada Sultan Alauddin Riayat Syah al-Mukammil untuk mengumpulkan para janda prajurit yang gugur. Dari situlah lahir Laskar Inong Balee. Inong berarti wanita dan Balee berarti janda.

Malahayati melatih para wanita ini dengan disiplin militer ketat, teknik navigasi, hingga kemampuan menembakkan meriam perang. Tak main-main, pasukan ini berkembang hingga berkekuatan lebih dari 2.000 hingga 14.000 prajurit wanita, dilengkapi benteng pertahanan khusus di Teluk Krueng Raya serta puluhan kapal perang jenis Ghaleo.

Reputasi Malahayati dan Armada Inong Balee mencapai puncaknya pada 11 September 1599. Dua kapal Belanda, De Leeuw dan De Leeuwinn, yang dipimpin oleh penjelajah ulung Cornelis de Houtman dan adiknya Frederick de Houtman, berlabuh di Aceh.

Awalnya disambut ramah, Cornelis de Houtman justru menunjukkan iktikad buruk dengan memicu kerusuhan, bertindak kasar, dan mencoba mengacaukan perdagangan lokal. Sultan Aceh menugaskan Laksamana Malahayati untuk menghentikan keangkuhan penjelajah Eropa tersebut.

Pertempuran sengit terjadi di atas geladak kapal Belanda. Dalam duel satu lawan satu yang legendaris, Laksamana Malahayati berhadapan langsung dengan Cornelis de Houtman.

Menggunakan senjata tradisional rencong, Malahayati berhasil menewaskan Cornelis de Houtman di atas kapalnya sendiri, sementara Frederick de Houtman ditawan dan dijebloskan ke penjara Kesultanan Aceh.

Peristiwa ini mengguncang bangsa-bangsa Eropa. Cornelis de Houtman, sosok yang membuka jalur pelayaran Belanda ke Nusantara, tewas di tangan seorang panglima laut perempuan dari timur.

Kekalahan menyakitkan tersebut memaksa Kerajaan Belanda mengirim utusan diplomatik, Maurits van Nassau, untuk meminta maaf resmi kepada Kesultanan Aceh serta membayar ganti rugi agar para tawanan dibebaskan.

Berita ketangguhan Malahayati juga sampai ke Telinga Ratu Elizabeth I dari Inggris. Menyadari bahwa Aceh dipimpin oleh Laksamana laut yang tidak bisa diintimidasi secara militer, Kerajaan Inggris memilih jalur diplomasi damai.

Baca Juga: Bentrok Anak Motor vs Jukir di Mangkubumi Jogja, Satu Unit Sepeda Motor Rusak 

Inggris mengirim utusan khusus, Sir James Lancaster, membawa surat diplomatik bertinta emas serta hadiah dari Ratu Elizabeth I untuk membuka jalur perdagangan rempah-rempah secara legal.

Malahayati sendiri yang memimpin negosiasi dan penerimaan utusan asing tersebut di pelabuhan Aceh.

Laksamana Malahayati membuktikan kepada dunia bahwa gender bukanlah batasan dalam kepemimpinan militer maupun strategi geostrategis.

Ia memimpin benteng pertahanan, mengontrol jalur lalu lintas perdagangan internasional di Selat Malaka, serta menjadi diplomat ulung yang disegani superpower dunia pada zamannya.

Kisah Malahayati dan Armada Inong Balee adalah cermin bahwa Nusantara pernah memiliki pahlawan perempuan yang tidak hanya bertahan, tetapi aktif memimpin serangan dan membentuk peta politik dunia pada abad ke-16.

Editor : Bahana.
laksamana malahayati armada inong balee kesultanan aceh selat malaka