RADAR JOGJA - Presiden Prabowo Subianto dikenal luas berasal dari garis keturunan Raden Mas Margono Djojohadikusumo.
Kakeknya dari pihak ayah yang menjadi salah satu pendiri Bank Negara Indonesia.
Tapi dari garis ibunya, Dora Marie Sigar, tersimpan sepotong sejarah yang jauh lebih jarang dibahas.
Lebih rumit juga secara moral.
Baca Juga: Asal Muasal Istilah Londo Ireng yang Belakangan Viral Dinarasikan Benjamin Thomas Sigar
Kakek buyut Prabowo dari pihak ibu bernama Benjamin Thomas Sigar, hidup dari tahun 1790 hingga 1879, seorang tokoh Minahasa yang juga dikenal dengan nama lokal Tawajin Sigar.
Ia menjabat sebagai kapten yang memimpin pasukan dari wilayah Langowan dalam sebuah unit militer bersejarah bernama Pasukan Tulungan, atau dalam bahasa Belanda disebut Hulptroepen.
Nama Hulptroepen ini mungkin tidak familiar bagi banyak orang, tapi perannya dalam sejarah Indonesia sangat besar.
Baca Juga: Raudi Akmal Bebas! Hakim Nyatakan Penetapan Tersangka Korupsi Hibah Pariwisata Tidak Sah
Pasukan ini dibentuk pada akhir 1827 atas permintaan pemerintah kolonial Hindia Belanda kepada para pemimpin Minahasa untuk membantu memadamkan salah satu perlawanan terbesar dalam sejarah Nusantara.
Yaitu Perang Jawa atau lebih dikenal sebagai Perang Diponegoro (1825-1830).
Sekitar 1.421 personel dari Minahasa diberangkatkan ke Jawa pada Maret 1829, dipimpin Mayor Tololiu Hermanus Willem Dotulong, dengan Benjamin Sigar sebagai salah satu kaptennya.
Menurut sejarawan Peter Carey, yang meneliti secara mendalam soal Perang Diponegoro, kemenangan Belanda menangkap Pangeran Diponegoro nyaris mustahil terjadi tanpa dukungan pasukan bantuan pribumi.
Baca Juga: Real Madrid Serius Incar Rodri, Manchester City Berupaya Kunci Masa Depan Sang Bintang
Karena sekitar 10 persen dari total 15.000 pasukan bantuan Belanda di akhir perang berasal dari Minahasa.
Setelah perang berakhir dengan penangkapan Diponegoro di Magelang pada 1830, para pemimpin Pasukan Tulungan pulang membawa status baru.
Benjamin Sigar sendiri kemudian menjabat sebagai Hukum Besar berpangkat Mayor di Langowan, jabatan administratif tinggi dalam struktur pemerintahan kolonial di Minahasa pasca perang.
Sejarah keterlibatan Minahasa dalam pasukan ini sebenarnya tidak bisa dilepaskan dari konteks yang lebih luas.
Baca Juga: Harga BBM di SPBU Pertamina, Shell, dan BP Masih Bertahan, Meski Minyak Dunia Berfluktuasi
Belum genap dua dekade sebelumnya, masyarakat Minahasa sendiri baru dikalahkan Belanda dalam Perang Tondano (1808-1809).
Terlepas dari bagaimana sejarah ini dinilai hari ini, apakah sebagai bentuk kesetiaan yang dipaksakan keadaan atau menjadi babak kelam dalam sejarah perlawanan bangsa.
Fakta bahwa presiden Indonesia saat ini memiliki garis keturunan langsung dari salah satu tokoh kunci di balik penangkapan Pangeran Diponegoro menjadi hal penting.
Bahwa sejarah kolonial Indonesia jauh lebih berlapis dan tidak sesederhana narasi hitam-putih antara pahlawan dan penjajah yang sering kita dengar di bangku sekolah.