MASYARAKAT DIJ mungkin akrab dengan seni pertunjukan kethoprak. Namun jarang mengetahui pertunjukan serupa bernama Srandul. Di mata orang awam yang pernah melihat, Srandul memang mirip seperti kethoprak. Tetapi jika ditelisik lebih jauh lagi, Srandul adalah pertunjukan rakyat yang lebih lengkap. Lantaran memiliki unsur teater, tari, hingga tembang.
Dosen Jurusan Seni Tari, Fakultas Seni Pertunjukan, Institut Seni Indonesia (ISI) Jogjakarta Daruni menjelaskan, Srandul merupakan seni pertunjukan rakyat yang dikenal di wilayah DIJ dan Jawa Tengah. Pertunjukan teater rakyat itu sempat populer di era 1940-an hingga 1970-an. Namun, eksistensinya mulai tergilas semnjak munculnya hiburan elektronik.
"Dulu saya sempat menyaksikan, tetapi sekarang jarang sekali ada pertunjukan," ucap perempuan yang akrab disapa Uni itu, Jumat (24/7).
Baca Juga: Tlogo Nirmolo, Wisata yang Tertidur di Lereng Merapi, antara Konservasi dan Keselamatan Pengunjung
Ia menjelaskan, Srandul kerap dipentaskan dalam hajatan atau hiburan masyarakat. Hal inilah yang membuat Srandul identik dengan hiburan rakyat di zaman itu. Di masa jayanya, pertunjukan Srandul dapat memakan waktu lebih dari dua jam. Lantaran setiap pertunjukan pasti masyarakat akan bekumpul di lokasi pementasan. Dari situlah ekonomi masyarakat sekitar ikut tergerak.
Berdasarkan teori dari pemikiran WS Rendra dan pandangan Umar Kayam, Srandul tergolong sebagai seni tradisional rakyat. Lantaran Srandul tumbuh dan berkembang di lingkungan masyarakat. Srandul juga identik dengan pembawaan yang sederhana.
Srandul digemari masyarakat karena berbeda dengan pertunjukan lain, baik itu kethoprak ataupun drama teater. Berbeda dengan kethoprak, Srandul menekankan beberapa unsur yang dikemas dalam sebuah pertunjukan. Unsur teater, tari, musik, hingga tembang dikemas dalam srandul untuk membawakan sebuah cerita. "Kalau dibilang paket komplet itu sangat jelas, karena beberap unsur masuk," ungkapnya.
Berbeda dengan kethoprak, Srandul tak hanya fokus pada teater atau drama. Drama justru dibawakan dengan tarian, musik, hingga tembang. Hal inilah yang membuat masyarakat saat itu, tertarik dengan Srandul.
Srandul sangat identik dengan penggunaan unsur tari. Biasanya, kethoprak menerapkan unsur tari sebagai ekstra dalam pementasan. Namun, unsur tari diterapkan di srandul sebagai bagian utama pertunjukan dan bukan tambahan.
Kendati membawakan unsur tari, Srandul tak menerapkan pakem ketat dalam setiap gerakannya. Dalam seni tradisional klasik, tokoh akan menyesuaikan gerakan tarinya sesuai dengan watak penokohan. Misalnya penokohan Arjuna dengan gaya tari impur. Namun dalam Srandul gaya tari tak terlalu dipedulikan. Pemain dapat mengeskpresikan gaya tari sesuai dengan interpretasi mereka. "Pemain Srandul itu terlihat bebas mengekspresikan," ungkapnya.
Uni menjelaskan ia sempat melihat sejumlah pertunjukan Srandul. Setiap melihat pertunjukan itu, pemain Srandul tak terkekang dengan dialog atau bahkan penokohan. Berbeda dengan kethoprak yang menekankan peran penokohan yang memakan sifat asli pemain. (gas/laz)
Editor : Herpri KartunSumber : Radar Jogja