Srandul Ditetapkan Jadi WBTb sejak 2017, Beberapa Kajian Sebut Berasal dari Kata Pating Srendul

Yusuf Bastiar • Dipublikasikan Minggu, 26 Juli 2026 | 07:15 WIB
Srandul terdaftar sebagai Warisan Budaya Tak Benda Yogyakarta untuk Kategori: Seni Pertunjukan Kabupaten Bantul Nomor: 60073/MPK.E/KB/2017. (Foto Istimewa)
Srandul terdaftar sebagai Warisan Budaya Tak Benda Yogyakarta untuk Kategori: Seni Pertunjukan Kabupaten Bantul Nomor: 60073/MPK.E/KB/2017. (Foto Istimewa)

 

DI tengah derasnya arus hiburan modern dan digital, kesenian tradisional Srandul masih mampu mempertahankan eksistensinya di DIJ. Teater rakyat yang mengandalkan spontanitas, dialog improvisasi, serta kedekatan dengan penonton itu dinilai tetap hidup berkat regenerasi pelaku seni, dukungan pemerintah, hingga kemampuannya beradaptasi dengan perkembangan zaman.

Kepala Seksi Pemeliharaan dan Pengembangan Warisan Budaya Takbenda Dinas Kebudayaan DIJ Joy Jatmiko Abdi mengatakan, berdasarkan Laporan Periodik Warisan Budaya Takbenda (WBTb) Indonesia, Srandul yang ditetapkan sebagai WBTb Indonesia pada 2017 masih berstatus bertahan. Laporan itu, merupakan bentuk pertanggungjawaban pascapenetapan warisan budaya kepada Kementerian Kebudayaan.

Joy menjelaskan, Srandul merupakan teater rakyat tradisional yang memadukan unsur drama, tari, tembang, musik, dan dialog improvisasi. Pertunjukan berlangsung sederhana dengan menggunakan bahasa sehari-hari, sehingga membangun komunikasi yang akrab antara pemain, pemusik, dan penonton.

Baca Juga: Kaca Patri di Gereja Katolik Padukan Seni, Cahaya, dan Spiritualitas, Elemen Sakral, Hidupkan Kisah Kitab Suci

"Karakter utama Srandul adalah interaksi yang sangat kuat. Pemain dapat berdialog langsung dengan pemusik maupun penonton, sehingga setiap pementasan memiliki dinamika yang berbeda," ujarnya saat dihubungi melalui sambungan telepon, Jumat (24/7).

Menurutnya, secara historis Srandul tumbuh dari kehidupan masyarakat pedesaan. Kesenian ini semula dipentaskan dalam rangkaian ritual bersih desa, syukuran panen, hajatan, hingga khitanan. Seiring perkembangan waktu, Srandul juga berkembang menjadi media dakwah, pendidikan moral, sekaligus ruang ekspresi seni masyarakat.

Joy menyebut, filosofi Srandul tidak lepas dari nilai gotong royong, kebersamaan, spontanitas, dan tuntunan hidup. Bahkan sejumlah kajian menyebut istilah "Srandul" berasal dari kata pating srendul yang bermakna campur aduk.

"Itu menggambarkan perpaduan berbagai unsur seni yang mampu menyesuaikan perubahan zaman,” tegasnya.

Meski tidak lagi menjadi hiburan utama masyarakat desa seperti puluhan tahun lalu, ekosistem Srandul dinilai masih terjaga. Keberlangsungannya ditopang oleh maestro dan pelaku tradisi, kelompok seni di sejumlah kabupaten, perguruan tinggi seni seperti ISI Jogjakarta, pemerintah provinsi, hingga masyarakat yang masih memanfaatkan Srandul sebagai media hiburan, pendidikan, dan atraksi budaya.

Kelompok-kelompok Srandul juga masih ditemukan di sejumlah wilayah, antara lain, Kotagede, Plempoh Bokoharjo dan Majapitu Tamanmartani di Sleman, Gedangsari, Karangmojo, serta Tepus di Gunungkidul, Surya Arum Jogjakarta, hingga lingkungan ISI Jogjakarta. "Jumlahnya tidak sebanyak ketika Srandul menjadi hiburan rakyat pada masa lalu," tambahnya.

Untuk menjaga kelestarian Srandul, Dinas Kebudayaan DIJ melakukan berbagai langkah pembinaan. Mulai dari pendokumentasian dalam bentuk foto dan video, fasilitasi latihan dan pewarisan kepada kelompok seni, penyelenggaraan lokakarya, hingga pemberian ruang pentas pada berbagai agenda kebudayaan.

Srandul telah difasilitasi tampil dalam berbagai kegiatan, di antaranya,  Pasar Kangen Jogjakarta pada 2017, kawasan Tebing Breksi pada 2019, serta peringatan Hari Jadi Desa Sabdodadi (Bantul) pada 2020.

Selain itu, kesenian itu juga rutin hadir dalam festival budaya, desa wisata, Rumah Budaya Tembi, hingga berbagai kegiatan kebudayaan yang digelar pemerintah daerah.

Joy menambahkan, penetapan sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia memberikan dampak positif terhadap keberlangsungan Srandul. Publikasi yang semakin luas membuat masyarakat lebih mengenal kesenian itu.

Baca Juga: Tak Hanya untuk Tempat Ibadah, Perajin Kaca Patri di Sleman Juga Bisa Bikin Berbagai Jenis Ornamen

Di sisi lain, regenerasi mulai tumbuh, terutama di kalangan mahasiswa teater dan generasi muda di sejumlah daerah, termasuk Gunungkidul. Seluruh program pelindungan dan pelestarian Srandul didukung melalui dana keistimewaan DIJ.

Estimasi biaya untuk satu kali pementasan mencapai sekitar Rp 30 juta, sedangkan kegiatan sosialisasi maupun lokakarya membutuhkan anggaran sekitar Rp 10 juta.

"Melalui dukungan itu, pemerintah berharap Srandul tidak sekadar bertahan sebagai warisan budaya, tetapi terus berkembang dan tetap relevan di tengah perubahan selera hiburan masyarakat,"  tandas Joy. (bas/laz)

Editor : Herpri Kartun
Sumber : Radar Jogja
Srandul Dinas Kebudayaan DIJ kesenian tradisional Warisan Budaya Takbenda wbtb