RADAR JOGJA - Bagi sebagian pembaca Radar Jogja mungkin tidak asing dengan obyek wisata di Magelang, Jawa Tengah ini.
Lokasi ini kerap menjadi jujugan wisata, apalagi saat akhir pekan atau libur sekolah lokasi ini ramai dikunjungi.
Yakni, Taman Kyai Langgeng (TKL) Ecopark.
Ternyata Taman Kyai Langgeng punya sejarah panjang sebelum akhirnya sukses menjadi kawasan wisata.
Baca Juga: Mengenang Kevin Keegan, Legenda Nomor 7 The Reds Bagian Dari Kejayaan Liverpool
Sejarah Taman Kyai Langgeng
Empat dekade lalu, kawasan yang kini dikenal sebagai Taman Kyai Langgeng (TKL) Ecopark hanyalah lahan bekas pekuburan, persawahan, dan kebun di Bayeman, Magelang.
Namun perubahan mulai terjadi pada tahun 1981.
Wali Kota Magelang saat itu, Bagus Panuntun, menggagas pembangunan sebuah taman bunga di lahan seluas lima hektare tersebut.
Prosesnya terbilang sulit.
Pemerintah kota bahkan sempat menggandeng berbagai instansi, mulai dari PDAM, Dinas Pertanian, Dinas Perkebunan, Dinas Kehutanan, Dinas Perikanan, hingga Dinas Peternakan Kota Magelang, untuk membenahi kawasan yang awalnya kurang menarik bagi wisatawan ini.
Baca Juga: Mengapa Kevin Keegan Dijuluki "King Kev" dan "Mighty Mouse"? Ini Kisah di Baliknya
Taman ini kemudian resmi diperkenalkan kepada publik pada 1987 dengan nama yang diambil dari sosok Kyai Langgeng, salah satu pengikut setia Pangeran Diponegoro pada masa perang melawan penjajahan Belanda, yang makamnya juga berada di area taman.
TKL Ecopark berkembang pesat menjadi destinasi wisata keluarga andalan Kota Magelang.
Luas area kini mencapai 27,36 hektare, dilengkapi wahana permainan, wahana air, hingga wisata edukasi dan religi.
Taman ini bahkan menjadi salah satu identitas Kota Magelang yang dijuluki "Kota Sejuta Bunga".
Salah satu saksi hidup masa kejayaan itu adalah para pedagang yang sudah puluhan tahun menggantungkan hidup di area taman.
Namun titik balik datang saat pandemi Covid-19 melanda.
Tingkat kunjungan ke TKL Ecopark menurun drastis sehingga turut menyeret turunnya penjualan di lapak-lapak sekitar taman.
Kondisi itu masih terasa hingga saat ini.
Banyak lapak pedagang yang akhirnya sepi.
Editor : Meitika Candra Lantiva