Telogo Nirmolo di lereng Gunung Merapi pernah menjadi salah satu destinasi favorit para pendaki dan pencinta alam pada era 1990-an. Suasana yang masih asri, hutan yang rimbun, serta kabut pagi menjadi daya tarik utama kawasan tersebut. Namun, kondisi itu kini dinilai jauh berbeda. Sejumlah fasilitas terlihat tidak terawat sehingga membuat pesona Telogo Nirmolo kian memudar.
Salah seorang pengunjung yang pernah beberapa kali mendatangi Telogo Nirmolo pada era 1990-an adalah Azam Sauki Adham. Dia mengenang kawasan tersebut sebagai tempat yang masih alami dan selalu menjadi persinggahan para pendaki sebelum melanjutkan perjalanan di kawasan lereng Merapi.
"Kebanyakan bukan wisatawan massal, melainkan para pendaki atau orang yang sedang melakukan perjalanan ke kawasan Kaliurang. Mereka biasanya menyempatkan mampir ke Telogo Nirmolo dan Goa Jepang," ujarnya, Sabtu (18/7).
Baca Juga: Inovasi Jamu Deka di Muntilan Buat Jamu Naik Kelas, Dicampur Wortel hingga Aserehe Jadi Best Seller
Menurut Azam, keindahan Telogo Nirmolo saat itu justru terletak pada suasananya yang masih alami. Kabut, kenangnya masih sering turun pada pagi hari, dan burung-burung juga masih banyak. "Kondisi seperti itulah yang seharusnya bisa dijaga sampai sekarang karena menjadi daya tarik utama Telogo Nirmolo," katanya.
Ia juga mengingat kondisi Goa Jepang yang masih dikelilingi hutan lebat setelah erupsi Gunung Merapi 1994. Kala itu, banyak pendaki yang mengawali perjalanan dengan mengunjungi Goa Jepang sebelum menuju Telogo Nirmolo. "Saat itu wisatawan belum seramai sekarang. Kamera juga masih terbatas sehingga belum banyak orang yang mendokumentasikan kawasan tersebut," tuturnya.
Kini, berdasarkan informasi yang dilihatnya melalui berbagai unggahan di media sosial, Azam menilai kondisi Telogo Nirmolo cukup memprihatinkan. Menurutnya, Telogo Nirmolo masih memiliki potensi untuk dikembangkan kembali.
Baca Juga: Musim Panas Dongkrak Wisatawan Mancanegara ke DIY, GIPI Prediksi Puncak Kunjungan pada Agustus
"Storytelling mengenai romusha, proses pembangunan, hingga fungsi Goa Jepang akan menjadi nilai tambah sehingga wisatawan tidak hanya menikmati alam, tetapi juga mendapatkan pengetahuan," ujarnya.
Azam berharap pemerintah bersama kelompok sadar wisata (Pokdarwis) dapat menghidupkan kembali Telogo Nirmolo melalui pembenahan sarana dan prasarana, promosi yang lebih masif, serta kolaborasi berbagai pihak.
"Kalau ingin membangkitkan kembali Telogo Nirmolo dibutuhkan energi yang besar. Sarana dan prasarana harus dibenahi, promosi diperkuat," jelasnya. (cr1/pra)
Editor : Heru Pratomo