JUNI 1812. Fajar di Yogyakarta tidak terbit dengan ketenangan seperti biasanya. Udara pagi yang pekat mendadak pecah oleh dentuman meriam dan gemuruh derap langkah ribuan prajurit berseragam merah.
Di bawah komando Gubernur Jenderal Inggris, Thomas Stamford Raffles, Keraton Yogyakarta dikepung rapat. Peristiwa berdarah yang kemudian mengubah jalannya sejarah Mataram Islam ini abadi dalam memori kolektif masyarakat sebagai Geger Sepehi—atau yang dalam lidah modern sering disebut Geger Sepoy.
Namun, mengapa sebuah tragedi besar di tanah Jawa harus membawa-bawa nama yang terdengar asing di telinga?
Istilah asli dari kata ini adalah Sepoy (atau Sipahi dalam bahasa Persia), yang merujuk pada tentara bayaran asal India yang direkrut oleh kongsi dagang Inggris, East India Company (EIC).
Ketika Raffles memutuskan untuk menggempur Yogyakarta, ia membawa serta ribuan pasukan tangguh idari India.
Baca Juga: Polisi Tahan Dua Belas Tersangka Baru Kasus Daycare Little Aresha Kota Jogja
Masyarakat Jawa kala itu, yang kesulitan melafalkan kata sepoy atau sipahi, secara natural membelokkan bunyinya menjadi sepehi.
Kata "geger" sendiri berarti kegemparan atau kekacauan besar. Jadi, secara harfiah, geger sepehi adalah "kegemparan besar yang disebabkan oleh pasukan India".
Tragedi ini tidak lahir dari ruang hampa. Di balik penyerbuan ini, ada benturan ego dan ideologi yang sangat keras antara dua penguasa, yaitu Sultan Hamengku Buwono II (Sultan Sepuh) dan Thomas Stamford Raffles.
Sultan HB II dikenal sebagai sosok yang berkarakter kuat, tegas, dan sangat antipati terhadap intervensi asing. Ketika Inggris berhasil merebut kekuasaan dari tangan Prancis-Belanda di Nusantara pada tahun 1811, Raffles mengira Keraton Yogyakarta akan tunduk begitu saja.
Nyatanya, Sultan HB II justru memperkuat pertahanan keraton, memperbanyak barisan prajurit, dan menolak merendahkan martabatnya di hadapan perwakilan Inggris.
Bagi Raffles yang ambisius, pembangkangan ini adalah ancaman bagi hegemoni Inggris di Jawa. Aliansi rahasia pun dibangun, intrik politik dijalankan, hingga akhirnya diplomasi digantikan oleh moncong meriam.
Puncak pertempuran terjadi pada 20 Juni 1812. Meskipun prajurit keraton dan rakyat Yogyakarta memberikan perlawanan yang gigih, keunggulan taktik dan persenjataan modern pasukan Inggris-Sepoy—ditambah adanya pengkhianatan dari dalam—membuat pertahanan keraton jebol.
Keraton Yogyakarta jatuh. Ini adalah momen pertama dalam sejarah di mana Keraton Yogyakarta berhasil ditaklukkan sepenuhnya oleh kekuatan militer asing lewat serangan langsung.
Dampak dari jatuhnya keraton sangat masif dan memilukan. Penjarahan manuskrip menjadi salah satu kerugian terbesar bangsa ini terjadi hari itu.
Baca Juga: Truk Kontainer Hantam Lima Motor di Jalur Patung Sapi Pandaan, Tiga Orang Tewas
Ribuan manuskrip berharga, babad, dan kitab-kitab sastra kaya pengetahuan milik perpustakaan keraton dijarah dan diangkut ke Inggris.
Kehilangan ini ibarat amnesia budaya bagi peradaban Jawa. Berton-ton emas, perak, dan harta benda keraton dijarah sebagai rampasan perang.
Sultan HB II digulingkan dan dibuang ke Pulau Pinang (Malaysia), digantikan oleh putranya, Sultan Hamengku Buwono III. Sebagai bagian dari strategi devide et impera, Inggris menyerahkan sebagian wilayah keraton kepada Pangeran Notokusumo, yang kemudian dinobatkan sebagai Sri Paduka Paku Alam I. Sejak saat itu, lahirlah Kadipaten Pakualaman.
Mengapa Geger Sepehi penting diingat hari Ini?
Geger Sepehi bukan sekadar cerita tentang kekalahan militer. Peristiwa ini adalah titik balik di mana lanskap politik, geografi, dan kebudayaan Jawa berubah selamanya.
Tragedi ini memperlihatkan bagaimana sebuah kekuatan kolonial tidak hanya menjajah secara fisik dan wilayah, tetapi juga mempretensi memori kolektif sebuah bangsa lewat penjarahan literatur.
Lebih dari dua abad telah berlalu, namun sisa-sisa peristiwa Geger Sepehi masih bisa kita raba. Mulai dari keberadaan Kadipaten Pakualaman, benteng-benteng keraton yang sempat rusak, hingga nama Kampung Sepoy/Sipahi yang sempat membekas di sekitar Yogyakarta. Mengingat Geger Sepehi—atau Geger Sepoy—adalah cara kita menghargai betapa mahalnya harga sebuah kedaulatan, dan betapa pentingnya menjaga warisan literasi yang membentuk identitas kita hari ini.
Editor : Bahana.