Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Kisah Anne Boleyn: Dari Ratu Inggris hingga Dipenggal di Tower of London

Khansa Qisthi Fathinah • Kamis, 2 Juli 2026 | 11:49 WIB
Anne Boleyn isteri Raja Henry VIII. (Kolase Berbagai Sumber)
Anne Boleyn isteri Raja Henry VIII. (Kolase Berbagai Sumber)

 

RADAR JOGJA - Nama Anne Boleyn hampir selalu muncul ketika membahas Raja Henry VIII.

Ia adalah istri kedua Henry, ibu dari Ratu Elizabeth I, sekaligus salah satu ratu Inggris yang kisah hidupnya paling sering diperdebatkan.

Pada 19 Mei 1536, Anne berjalan menuju tempat eksekusi di Tower of London.

Ia dihukum mati dengan pedang setelah dinyatakan bersalah atas sejumlah tuduhan, mulai dari perzinaan, hubungan sedarah dengan kakaknya sendiri, George Boleyn, hingga bersekongkol untuk membunuh raja.

Baca Juga: Aston Villa Ajukan Banding ke CAS Agar FIFA Cabut Larangan Pendaftaran Brian Majo

Namun, hampir 500 tahun kemudian, banyak sejarawan justru meragukan apakah tuduhan itu benar-benar didasarkan pada bukti yang kuat.

Awal Pernikahan yang Mengubah Inggris

Anne menikah dengan Henry VIII pada 1533. Saat itu Henry sudah lama ingin membatalkan pernikahannya dengan Catherine of Aragon karena belum juga memperoleh putra sebagai pewaris takhta.

Paus menolak permintaan tersebut. Henry kemudian mengambil keputusan besar dengan memutus hubungan Inggris dengan Gereja Katolik dan mendirikan Gereja Inggris (Church of England).

Langkah itu bukan hanya membuka jalan bagi pernikahannya dengan Anne, tetapi juga mengubah sejarah Inggris untuk selamanya.

Baca Juga: Puji Harry Kane Sebagai Pahlawan Inggris, Wayne Rooney Tetap Soroti Masalah di Lini Tengah dan Pertahanan The Three Lions


Di awal pernikahan, Anne menjadi sosok yang sangat berpengaruh di istana.

Namun keadaan berubah setelah ia hanya melahirkan seorang putri, Elizabeth.

Beberapa kehamilan berikutnya berakhir dengan keguguran, sementara Henry semakin terobsesi memiliki pewaris laki-laki.

Pada saat yang sama, perhatian Henry mulai beralih kepada Jane Seymour.

Sejak itulah posisi Anne di istana perlahan melemah.

Tuduhan yang Berujung Hukuman Mati

Pada Mei 1536, Anne ditangkap dan dipenjara di Tower of London.

Baca Juga: Amerika Serikat Lolos ke Babak 16 Besar Piala Dunia 2026 Usai Taklukkan Bosnia Meski Bermain dengan 10 Pemain

Ia dituduh berselingkuh dengan lima pria, termasuk Mark Smeaton, seorang musisi istana.

Tuduhan yang paling menghebohkan adalah bahwa Anne memiliki hubungan dengan kakaknya sendiri, George Boleyn.

Selain itu, ia juga didakwa merencanakan pembunuhan terhadap Henry VIII, yang pada masa itu termasuk pengkhianatan tingkat tinggi dan diancam hukuman mati.

Anne membantah semua tuduhan selama persidangan.

Meski begitu, pengadilan tetap menyatakan dirinya bersalah dan menjatuhkan hukuman mati.

Baca Juga: Seperti Hiu yang Mencium Darah, Thomas Tuchel Gambarkan Performa Para Penyerang Elit di Piala Dunia 2026

Benarkah Anne Bersalah?

Sampai sekarang, banyak sejarawan menilai kasus Anne Boleyn penuh kejanggalan.

Dalam The Life and Death of Anne Boleyn, Eric Ives menyebut bukti terhadap Anne sangat lemah.

Menurutnya, besar kemungkinan tuduhan itu merupakan bagian dari intrik politik yang melibatkan Thomas Cromwell dan mendapat persetujuan Henry VIII, yang saat itu memang ingin mengakhiri pernikahan mereka.

Pendapat serupa disampaikan Retha M. Warnicke dalam The Rise and Fall of Anne Boleyn.

Baca Juga: Luis De La Fuente Puji Optimisme dan Kepercayaan Diri dari Lamine Yamal Jelang Spanyol Melawan Austria

Ia menilai sejumlah kesaksian tidak konsisten dan beberapa dokumen yang digunakan untuk mendakwa Anne juga diragukan keandalannya.


Kecurigaan itu semakin menguat karena hanya sekitar sebelas hari setelah eksekusi Anne, Henry VIII menikahi Jane Seymour.

Bagi banyak sejarawan, waktu yang begitu singkat menunjukkan bahwa sang raja memang sudah memiliki rencana untuk mengganti ratunya.

Hari Terakhir Anne

Henry VIII bahkan memanggil algojo dari Prancis karena dianggap lebih mahir menggunakan pedang daripada kapak.

Pada pagi hari, 19 Mei 1536, Anne Boleyn dieksekusi di Tower of London.

Baca Juga: Raperda Perfilman DIY Dibahas, Perlindungan Pekerja hingga Keberlanjutan Produksi dan Ekosistem Film Jadi Perhatian

Sebelum hukuman dijalankan, Anne tetap menyatakan kesetiaannya kepada Henry dan tidak secara terbuka memprotes putusan pengadilan.

Tak lama kemudian, algojo mengayunkan pedangnya dan mengakhiri hidup perempuan yang pernah membuat seorang raja mengubah arah sejarah Inggris.

Apakah Anne benar-benar bersalah mungkin tidak akan pernah bisa dipastikan.

Secara hukum, ia memang dinyatakan bersalah oleh pengadilan pada zamannya.

Namun, bagi banyak sejarawan modern, Anne Boleyn lebih mungkin menjadi korban intrik politik, perebutan kekuasaan di istana Tudor, dan ambisi Henry VIII yang ingin segera memperoleh seorang putra sebagai pewaris tahta.

 

Editor : Meitika Candra Lantiva
#Kisah Anne Boleyn #Ratu Inggris #tempat eksekusi di Tower of London #Politik #Anne Boleyn