RADAR JOGJA - Nama Anne Boleyn hampir selalu muncul ketika membahas Raja Henry VIII.
Ia adalah istri kedua Henry, ibu dari Ratu Elizabeth I, sekaligus salah satu ratu Inggris yang kisah hidupnya paling sering diperdebatkan.
Pada 19 Mei 1536, Anne berjalan menuju tempat eksekusi di Tower of London.
Ia dihukum mati dengan pedang setelah dinyatakan bersalah atas sejumlah tuduhan, mulai dari perzinaan, hubungan sedarah dengan kakaknya sendiri, George Boleyn, hingga bersekongkol untuk membunuh raja.
Baca Juga: Aston Villa Ajukan Banding ke CAS Agar FIFA Cabut Larangan Pendaftaran Brian Majo
Namun, hampir 500 tahun kemudian, banyak sejarawan justru meragukan apakah tuduhan itu benar-benar didasarkan pada bukti yang kuat.
Awal Pernikahan yang Mengubah Inggris
Anne menikah dengan Henry VIII pada 1533. Saat itu Henry sudah lama ingin membatalkan pernikahannya dengan Catherine of Aragon karena belum juga memperoleh putra sebagai pewaris takhta.
Paus menolak permintaan tersebut. Henry kemudian mengambil keputusan besar dengan memutus hubungan Inggris dengan Gereja Katolik dan mendirikan Gereja Inggris (Church of England).
Langkah itu bukan hanya membuka jalan bagi pernikahannya dengan Anne, tetapi juga mengubah sejarah Inggris untuk selamanya.
Di awal pernikahan, Anne menjadi sosok yang sangat berpengaruh di istana.
Namun keadaan berubah setelah ia hanya melahirkan seorang putri, Elizabeth.
Beberapa kehamilan berikutnya berakhir dengan keguguran, sementara Henry semakin terobsesi memiliki pewaris laki-laki.
Pada saat yang sama, perhatian Henry mulai beralih kepada Jane Seymour.
Sejak itulah posisi Anne di istana perlahan melemah.
Tuduhan yang Berujung Hukuman Mati
Pada Mei 1536, Anne ditangkap dan dipenjara di Tower of London.
Ia dituduh berselingkuh dengan lima pria, termasuk Mark Smeaton, seorang musisi istana.
Tuduhan yang paling menghebohkan adalah bahwa Anne memiliki hubungan dengan kakaknya sendiri, George Boleyn.
Selain itu, ia juga didakwa merencanakan pembunuhan terhadap Henry VIII, yang pada masa itu termasuk pengkhianatan tingkat tinggi dan diancam hukuman mati.
Anne membantah semua tuduhan selama persidangan.
Meski begitu, pengadilan tetap menyatakan dirinya bersalah dan menjatuhkan hukuman mati.
Benarkah Anne Bersalah?
Sampai sekarang, banyak sejarawan menilai kasus Anne Boleyn penuh kejanggalan.
Dalam The Life and Death of Anne Boleyn, Eric Ives menyebut bukti terhadap Anne sangat lemah.
Menurutnya, besar kemungkinan tuduhan itu merupakan bagian dari intrik politik yang melibatkan Thomas Cromwell dan mendapat persetujuan Henry VIII, yang saat itu memang ingin mengakhiri pernikahan mereka.
Pendapat serupa disampaikan Retha M. Warnicke dalam The Rise and Fall of Anne Boleyn.
Ia menilai sejumlah kesaksian tidak konsisten dan beberapa dokumen yang digunakan untuk mendakwa Anne juga diragukan keandalannya.
Kecurigaan itu semakin menguat karena hanya sekitar sebelas hari setelah eksekusi Anne, Henry VIII menikahi Jane Seymour.
Bagi banyak sejarawan, waktu yang begitu singkat menunjukkan bahwa sang raja memang sudah memiliki rencana untuk mengganti ratunya.
Hari Terakhir Anne
Henry VIII bahkan memanggil algojo dari Prancis karena dianggap lebih mahir menggunakan pedang daripada kapak.
Pada pagi hari, 19 Mei 1536, Anne Boleyn dieksekusi di Tower of London.
Sebelum hukuman dijalankan, Anne tetap menyatakan kesetiaannya kepada Henry dan tidak secara terbuka memprotes putusan pengadilan.
Tak lama kemudian, algojo mengayunkan pedangnya dan mengakhiri hidup perempuan yang pernah membuat seorang raja mengubah arah sejarah Inggris.
Apakah Anne benar-benar bersalah mungkin tidak akan pernah bisa dipastikan.
Secara hukum, ia memang dinyatakan bersalah oleh pengadilan pada zamannya.
Namun, bagi banyak sejarawan modern, Anne Boleyn lebih mungkin menjadi korban intrik politik, perebutan kekuasaan di istana Tudor, dan ambisi Henry VIII yang ingin segera memperoleh seorang putra sebagai pewaris tahta.
Editor : Meitika Candra Lantiva