MAGELANG - Pemkot Magelang merenovasi Makam Kiai Langgeng di kawasan Taman Kyai Langgeng. Langkah ini bukan sekadar perbaikan fisik, tetapi bagian dari strategi menjaga jejak sejarah sekaligus memperkuat identitas daerah di tengah perkembangan kota.
Wali Kota Magelang Damar Prasetyono menegaskan, Magelang dikenal sebagai pakunya Tanah Jawa. Dia menyebut, itu bukan sekadar istilah, tetapi menunjukkan bahwa kota ini punya peran penting dalam sejarah. "Situs seperti makam Kiai Langgeng harus dijaga agar masyarakat tidak kehilangan jejak masa lalu," ujarnya, Senin (29/6).
Renovasi makam ini, lanjut dia, menjadi satu langkah konkret yang tengah dilakukan. Selain memperbaiki kondisi fisik, penataan kawasan juga diarahkan untuk mendukung aktivitas ziarah yang selama ini sudah berjalan, namun dinilai belum optimal dari sisi fasilitas.
Damar mengatakan, kebijakan ini juga berkaitan dengan upaya memperluas potensi wisata religi di Kota Magelang. Selama ini, Taman Kyai Langgeng lebih dikenal sebagai ruang rekreasi keluarga. Padahal, lanjut dia, di dalamnya terdapat situs yang memiliki nilai historis dan spiritual. "Selama ini orang datang ke taman untuk rekreasi. Ke depan, kami ingin fungsi itu berkembang, termasuk sebagai tujuan wisata religi yang layak dan nyaman," katanya.
Kiai Langgeng sendiri diyakini memiliki keterkaitan erat dengan sejarah Perang Jawa pada 1825-1830. Berdasarkan sejumlah sumber lokal, tokoh ini dikenal sebagai sosok spiritual yang berperan mendampingi perjuangan Pangeran Diponegoro.
Direktur Taman Kyai Langgeng, Sri Widodo menyebut, keberadaan makam tersebut bukan hanya penting dari sisi sejarah, tetapi juga sebagai media edukasi bagi masyarakat. "Dari berbagai catatan, Kyai Langgeng dikenal sebagai tokoh spiritual dan penasihat dalam perjuangan Pangeran Diponegoro," paparnya.
Baca Juga: Ruhaeni Intan, Nama Baru yang Mulai Mencuri Perhatian Sastra Indonesia lewat 'Dysfunctional Family'
Proses renovasi ini juga melibatkan peran masyarakat, satu di antaranya melalui hibah yang diberikan oleh R Bambang Sridaya. Dia mengaku terdorong untuk ikut berkontribusi karena melihat pentingnya pelestarian situs leluhur.
Menurutnya, kondisi makam sebelumnya masih memerlukan penataan agar lebih layak untuk kegiatan keagamaan maupun kunjungan peziarah. "Kawasan ini nantinya akan diperluas dan diperindah, termasuk pemavingan. Harapannya, lebih representatif untuk kegiatan haul dan ziarah," terangnya. (aya/pra)
Editor : Heru Pratomo