Sekretaris Komisi A DPRD DIJ Syarif Guska Laksana mengatakan, bahwa kunjungan tersebut tidak sekadar agenda wisata sejarah, tetapi juga menjadi sarana memperkuat semangat tata kelola pemerintahan serta keterbukaan informasi publik melalui pembelajaran dari perjalanan hidup Bung Karno.
"Di bulan Pancasila ini, kami kunjungan kerja untuk memperkuat dan memperteguh nilai-nilai semangat tata kerja pemerintahan dan informasi publik dengan mengadakan kunjungan di Bengkulu ini," ujarnya.
Menurutnya, Bengkulu memiliki posisi penting dalam sejarah perjuangan kemerdekaan Indonesia karena menjadi lokasi pengasingan Bung Karno pada periode 1938 hingga 1942. Dari tempat tersebut, Bung Karno tetap mampu menyebarkan gagasan dan pemikirannya meski ruang geraknya dibatasi oleh pemerintah kolonial Belanda.
"Kita gali nilai-nilai semangat dari perjuangan beliau saat diasingkan dan dibatasi ruang geraknya, tapi tetap teguh dalam pendirian dan prinsip, ini suatu hal yang patut kita contoh," katanya.
Ia menilai keteguhan Bung Karno dalam mempertahankan prinsip dan menyampaikan gagasannya kepada masyarakat menjadi pelajaran penting yang relevan hingga saat ini, termasuk bagi penyelenggara pemerintahan.
Selain menelusuri jejak sejarah Bung Karno, rombongan juga dijadwalkan bertemu dengan Pemerintah Provinsi Bengkulu untuk membahas pengembangan sektor pariwisata berbasis sejarah dan nasionalisme.
"Kegiatan ini tentunya untuk bisa bermanfaat, baik bagi pemerintahan dan masyarakat DIJ, dan juga pemerintahan Bengkulu untuk mengangkat sisi pariwisata nasionalisme," lanjutnya.
Sementara itu, pemandu Rumah Pengasingan Bung Karno, Safrida Hanum menjelaskan, bahwa bangunan yang kini menjadi situs sejarah tersebut awalnya merupakan rumah milik warga keturunan Tionghoa yang dibangun medio 1918. Pemerintah kolonial Belanda kemudian menyewa rumah itu sebagai tempat pengasingan Bung Karno selama empat tahun.
Selama tinggal di Bengkulu, Bung Karno menetap bersama istri keduanya, Inggit Garnasih, serta dua anak angkat mereka. Di rumah tersebut pula Bung Karno aktif berinteraksi dengan masyarakat, termasuk membentuk kelompok sandiwara yang melibatkan warga setempat.
"Semasa pengasingannya, Bung Karno mendirikan sebuah grup musik sandiwara atau teater yang melibatkan masyarakat Bengkulu. Anggota teater itu di antaranya adalah Ibu Inggit dan Ibu Fatmawati," jelas Safrida.
Menurutnya, aktivitas kesenian tersebut menjadi salah satu awal kedekatan Bung Karno dengan Fatmawati yang saat itu masih berstatus murid dan sahabat dari anak angkat Inggit Garnasih.
Safrida menuturkan, sejumlah benda peninggalan Bung Karno masih tersimpan dan dirawat di rumah tersebut, mulai dari sepeda, meja, kursi, ranjang tidur hingga koleksi buku yang pernah dibaca Bung Karno selama masa pengasingan.
Salah satu bagian yang paling sering menarik perhatian pengunjung adalah sumur tua yang berada di area rumah. Sumur tersebut memiliki air tawar meski lokasinya tidak jauh dari pantai.
"Konon katanya, siapa saja yang mencuci muka di sumur ini akan kembali lagi untuk kedua kalinya ke rumah ini," ujarnya.
Ia menambahkan, rumah pengasingan tersebut kini menjadi salah satu destinasi wisata sejarah unggulan di Bengkulu. Pada hari biasa, jumlah pengunjung mencapai sekitar 50 orang per hari, sementara pada akhir pekan dapat meningkat hingga ratusan orang.
Selain Rumah Pengasingan Bung Karno, Bengkulu juga menyimpan jejak sejarah lain berupa Masjid Jami yang berada di kawasan Jalan Suprapto. Masjid tersebut didesain langsung oleh Bung Karno selama masa pengasingannya dan hingga kini masih aktif digunakan masyarakat untuk beribadah. (iza)