RADAR JOGJA - Setiap tanggal 2 Mei di Indonesia diperingati sebagai hari pendidikan nasional.
Di balik momentum ini, terselip nama tokoh yang harum sampai saat ini.
Yaitu Ki Hajar Dewantara, Bapak Pendidikan Nasional Indonesia.
Sosok di Balik Pendidikan Indonesia
Nama Ki Hajar Dewantara tak bisa dipisahkan dari dunia pendidikan nasional.
Ia dikenal sebagai Bapak Pendidikan Nasional Indonesia, seorang tokoh yang tidak hanya mendirikan lembaga pendidikan, tetapi juga merumuskan filosofi pendidikan yang masih digunakan hingga hari ini.
Baca Juga: Prediksi Skor Newcastle United vs Brighton Premier League Sabtu 2 Mei 2026
Ki Hajar Dewantara lahir di Yogyakarta pada 2 Mei 1889 dengan nama asli Raden Mas Soewardi Soerjaningrat, dari lingkungan bangsawan Keraton.
Dari Bangsawan ke Pejuang Rakyat
Meski berasal dari keluarga ningrat, Ki Hajar memilih meninggalkan gelar kebangsawanannya demi mendekatkan diri dengan rakyat.
Ia kemudian mengganti namanya menjadi Ki Hajar Dewantara pada 1922.
Langkah ini bukan sekadar simbolis, tetapi juga bentuk perlawanan terhadap sistem kolonial yang membatasi akses pendidikan bagi pribumi.
Mengutip dari buku Ki Hajar Dewantara, sebagai jurnalis dan aktivis, Ki Hajar aktif menulis kritik tajam terhadap pemerintah kolonial Belanda.
Perlawanan lewat tulisan itu disebut “Als Ik Eens Nederlander Was” (Seandainya Aku Seorang Belanda).
Artikel ini menyindir keras kebijakan penjajah yang memaksa rakyat Indonesia membiayai perayaan kemerdekaan Belanda, sementara mereka sendiri terjajah.
Akibat tulisannya, Ki Hajar ditangkap pemerintah kolonial dan dibuang ke Belanda pada 1913.
Baca Juga: Sering Kali Dianggap Sepele, Menjaga Kesehatan Gigi agar Tidak Mudah Berlubang
Mendirikan Taman Siswa: Revolusi Pendidikan
Sepulang dari pengasingan, Ki Hajar mendirikan Taman Siswa (1922).
Lembaga ini menjadi tonggak penting karena memberikan pendidikan untuk rakyat pribumi, menolak sistem pendidikan kolonial yang diskriminatif, mengutamakan karakter dan kebudayaan nasional.
Filosofi Pendidikan yang Abadi
Ki Hajar merumuskan konsep pendidikan yang sangat terkenal:
“Ing Ngarsa Sung Tuladha, Ing Madya Mangun Karsa, Tut Wuri Handayani”
Maknanya, di depan memberi teladan, di tengah membangun semangat, di belakang memberi dorongan.
Semboyan ini kini menjadi dasar sistem pendidikan nasional Indonesia.
Baca Juga: Akhir Mei, BUBK Kebumen Bakal Panen Raya 75 Ton Udang Vaname Kualitas Ekspor
Peran dalam Pemerintahan Indonesia
Setelah Indonesia merdeka, Ki Hajar dipercaya menjadi:
Menteri Pendidikan pertama Indonesia (1945)
Ia berperan besar dalam merancang sistem pendidikan nasional yang merdeka dari pengaruh kolonial.
Fakta Menarik yang Jarang Diketahui:
1. Pernah Menjadi Wartawan Radikal
Ki Hajar adalah jurnalis aktif di media seperti: De Express, Midden Java. Tulisannya sangat berani dan dianggap “berbahaya” oleh kolonial.
2. Belajar Pendidikan Modern di Eropa
Saat di pengasingan di Belanda, ia mempelajari: Sistem pendidikan Barat, teori pendidikan progresif. Ia kemudian mengadaptasinya dengan nilai budaya Indonesia.
3. Menolak Pendidikan Elitis
Berbeda dengan sistem kolonial, Ki Hajar menolak pendidikan hanya untuk kaum elite dan lebih memilih mengusung pendidikan berbasis rakyat.
4. Tidak Mengejar Kekayaan atau Kekuasaan
Meski berpengaruh, ia hidup sederhana dan fokus pada pendidikan, bukan politik praktis atau kekayaan pribadi.
5. Hari Lahirnya Jadi Hari Pendidikan Nasional
Tanggal lahirnya, 2 Mei, ditetapkan sebagai: Hari Pendidikan Nasional Indonesia.
Warisan Pemikiran
Pemikiran Ki Hajar Dewantara menekankan, bahwa pendidikan sebagai alat kemerdekaan, pentingnya karakter dan budaya, peran guru sebagai pembimbing, bukan penguasa.
Ki Hajar Dewantara bukan sekadar tokoh pendidikan, ia adalah arsitek kesadaran bangsa melalui pendidikan.
Perjuangannya membuktikan bahwa, pena bisa lebih tajam dari senjata, pendidikan bisa menjadi alat pembebasan di tengah tantangan pendidikan modern saat ini.
Editor : Meitika Candra Lantiva