Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Mengenal Sosok Ki Hajar Dewantara, di Balik Momentum Peringatan Hari Pendidikan Nasional 2 Mei

Meitika Candra Lantiva • Sabtu, 2 Mei 2026 | 14:17 WIB
Tokoh Nasional Ki Hajar Dewantara. (Kolase/IST)
Tokoh Nasional Ki Hajar Dewantara. (Kolase/IST)

 

RADAR JOGJA -  Setiap tanggal 2 Mei di Indonesia diperingati sebagai hari pendidikan nasional.

Di balik momentum ini, terselip nama tokoh yang harum sampai saat ini.

Yaitu Ki Hajar Dewantara, Bapak Pendidikan Nasional Indonesia.

Sosok di Balik Pendidikan Indonesia

Nama Ki Hajar Dewantara tak bisa dipisahkan dari dunia pendidikan nasional.

Ia dikenal sebagai Bapak Pendidikan Nasional Indonesia, seorang tokoh yang tidak hanya mendirikan lembaga pendidikan, tetapi juga merumuskan filosofi pendidikan yang masih digunakan hingga hari ini.

Baca Juga: Prediksi Skor Newcastle United vs Brighton Premier League Sabtu 2 Mei 2026


Ki Hajar Dewantara lahir di Yogyakarta pada 2 Mei 1889 dengan nama asli Raden Mas Soewardi Soerjaningrat, dari lingkungan bangsawan Keraton.

Dari Bangsawan ke Pejuang Rakyat

Meski berasal dari keluarga ningrat, Ki Hajar memilih meninggalkan gelar kebangsawanannya demi mendekatkan diri dengan rakyat.

Ia kemudian mengganti namanya menjadi Ki Hajar Dewantara pada 1922.

Langkah ini bukan sekadar simbolis, tetapi juga bentuk perlawanan terhadap sistem kolonial yang membatasi akses pendidikan bagi pribumi.

Baca Juga: Prediksi Skor Wolves vs Sunderland Premier League Sabtu 2 Mei 2026, Upaya The Black Cats Naik ke Papan Atas Klasemen

Mengutip dari buku Ki Hajar Dewantara, sebagai jurnalis dan aktivis, Ki Hajar aktif menulis kritik tajam terhadap pemerintah kolonial Belanda.

Perlawanan lewat tulisan itu disebut “Als Ik Eens Nederlander Was” (Seandainya Aku Seorang Belanda).

Artikel ini menyindir keras kebijakan penjajah yang memaksa rakyat Indonesia membiayai perayaan kemerdekaan Belanda, sementara mereka sendiri terjajah.

Akibat tulisannya, Ki Hajar ditangkap pemerintah kolonial dan dibuang ke Belanda pada 1913.

Baca Juga: Sering Kali Dianggap Sepele, Menjaga Kesehatan Gigi agar Tidak Mudah Berlubang

 

Mendirikan Taman Siswa: Revolusi Pendidikan


Sepulang dari pengasingan, Ki Hajar mendirikan Taman Siswa (1922).

Lembaga ini menjadi tonggak penting karena memberikan pendidikan untuk rakyat pribumi, menolak sistem pendidikan kolonial yang diskriminatif, mengutamakan karakter dan kebudayaan nasional.

Filosofi Pendidikan yang Abadi

Ki Hajar merumuskan konsep pendidikan yang sangat terkenal:

“Ing Ngarsa Sung Tuladha, Ing Madya Mangun Karsa, Tut Wuri Handayani”

Maknanya, di depan memberi teladan, di tengah membangun semangat, di belakang memberi dorongan.

Semboyan ini kini menjadi dasar sistem pendidikan nasional Indonesia.

Baca Juga: Akhir Mei, BUBK Kebumen Bakal Panen Raya 75 Ton Udang Vaname Kualitas Ekspor

Peran dalam Pemerintahan Indonesia

Setelah Indonesia merdeka, Ki Hajar dipercaya menjadi:
Menteri Pendidikan pertama Indonesia (1945)
Ia berperan besar dalam merancang sistem pendidikan nasional yang merdeka dari pengaruh kolonial.

Fakta Menarik yang Jarang Diketahui:

1. Pernah Menjadi Wartawan Radikal

Ki Hajar adalah jurnalis aktif di media seperti: De Express, Midden Java. Tulisannya sangat berani dan dianggap “berbahaya” oleh kolonial.

2. Belajar Pendidikan Modern di Eropa
Saat di pengasingan di Belanda, ia mempelajari: Sistem pendidikan Barat, teori pendidikan progresif. Ia kemudian mengadaptasinya dengan nilai budaya Indonesia.

3. Menolak Pendidikan Elitis
Berbeda dengan sistem kolonial, Ki Hajar menolak pendidikan hanya untuk kaum elite dan lebih memilih mengusung pendidikan berbasis rakyat.

Baca Juga: Ketua Komisi D DPRD DIY Rb. Dwi Wahyu Budiantoro Raih Doktor Manajemen Pendidikan dari UNY, Tawarkan Model Kurikulum SMK Berbasis Budaya Lokal

4. Tidak Mengejar Kekayaan atau Kekuasaan

Meski berpengaruh, ia hidup sederhana dan fokus pada pendidikan, bukan politik praktis atau kekayaan pribadi.

5. Hari Lahirnya Jadi Hari Pendidikan Nasional
Tanggal lahirnya, 2 Mei, ditetapkan sebagai: Hari Pendidikan Nasional Indonesia.

Warisan Pemikiran

Pemikiran Ki Hajar Dewantara menekankan, bahwa pendidikan sebagai alat kemerdekaan, pentingnya karakter dan budaya, peran guru sebagai pembimbing, bukan penguasa.


Ki Hajar Dewantara bukan sekadar tokoh pendidikan, ia adalah arsitek kesadaran bangsa melalui pendidikan.


Perjuangannya membuktikan bahwa, pena bisa lebih tajam dari senjata, pendidikan bisa menjadi alat pembebasan di tengah tantangan pendidikan modern saat ini. 

 

Editor : Meitika Candra Lantiva
#Peringatan Hari Pendidikan Nasional #Bapak Pendidikan Nasional Indonesia #2 Mei #ki hajar dewantara #Pendidikan