GUNUNGKIDUL - Pada 1950an jalanan tanah dari Gading menuju Logandeng masih setapak kecil. Seorang bocah melangkah tanpa alas kaki, menempuh jarak sekitar dua kilometer. Di tangannya tak ada tas mewah, hanya semangat sederhana untuk belajar. Bocah itu kini telah berusia lebih dari delapan dekade, Adi Sukarno alumnus Sekolah Rakyat angkatan 1951, kelahiran 1942.
Ingatan Adi melayang ke masa ketika bangku pendidikan belum seramai sekarang. Sekolah Rakyat sebagai cikal bakal sekolah dasar menjadi ruang awal ia mengenal dunia. Fasilitas terbatas, namun semangat belajar begitu kuat.
“Dulu satu kelas isinya sekitar 40-an siswa. Sekolah ya apa adanya. Jangankan sepatu, sandal saja tidak punya. Jadi ya nyeker,” kenangnya saat ditemui di berada rumahnya di Kalurahan Gading, Jumat (1/5/2026).
Seragam yang dikenakan pun sederhana. Kaos putih dan celana kolor menjadi pakaian sehari-hari. Adi mengaku hanya memiliki dua kaos yang dipakai bergantian selama enam hari sekolah. Setiap dua hari sekali, kata dia, pakaian itu dicuci agar tetap layak dikenakan.
Dari rumahnya di wilayah Gading, Adi harus berjalan kaki menuju sekolah di Kalurahan Logandeng. Jarak sekitar dua kilometer ditempuh tanpa keluhan. Baginya, perjalanan itu bagian dari perjuangan menuntut ilmu.
“Sekolah rakyat ini gratis, sekolah orang gak punya. Waktu dulu sekolah swasta bayar dan orang punya uang Yangs sekolah di sana, SDK istilahnya,” tegasnya.
Kondisi ruang belajar juga jauh dari ideal. Bangunan sekolah masih menumpang di rumah warga dengan model limasan. Keterbatasan ruang membuat sistem belajar dibagi waktu.
Dalam sepekan, siswa harus masuk siang hingga dua atau tiga kali. Namun, keterbatasan tak mengurangi kualitas pengalaman belajar. Mata pelajaran yang diajarkan cukup beragam. Mulai dari ilmu bumi, ilmu alam, hingga berhitung pecahan dan desimal.
“Sekolahnya dulu numpang di bangunan milik warga. Saya paling bingung dulu kalau belajar hitungan desimal,” ujarnya sambil tersenyum.
Baca Juga: Kepeleset, Remaja asal Sleman Ditemukan Tewas setelah Empat Jam Pencarian di Sungai Progo
Di antara berbagai pelajaran, sejarah dan ilmu bumi menjadi favoritnya. Ia masih mengingat bagaimana guru menggambar peta Gunungkidul, Jogjakarta, hingga Pulau Jawa di papan sabak. Siswa kemudian menirukan dengan alat tulis sederhana menyerupai pensil yang harus diasah agar tetap runcing.
“Ilmu bumi itu menarik, karena kita diajak menggambar peta. Jadi tidak hanya diceritakan,” katanya.
Selain belajar, masa istirahat diisi dengan permainan tradisional. Kasti menjadi permainan yang paling sering dimainkan bersama teman-teman. Sederhana, namun penuh kebersamaan. Adi juga mengenang satu tradisi unik selepas lulus sekolah.
“Dulu kalau sudah selesai sekolah sampai kelas enam, ya langsung disunat,” tuturnya.
Bagi Adi, Sekolah Rakyat bukan sekadar tempat belajar membaca dan berhitung. Lebih dari itu, menjadi ruang pembentukan karakter di tengah keterbatasan. Disiplin, kerja keras, dan semangat belajar tumbuh dari kondisi yang serba sederhana.
Apalagi, kata dia, waktu itu masih masa-masa gejolak revolusi 45. Kini, ketika fasilitas pendidikan semakin lengkap dan modern, kisah Adi menjadi pengingat bahwa esensi pendidikan bukan hanya pada sarana, melainkan pada kemauan untuk belajar.
Baca Juga: Rentetan Aksi Unjuk Rasa Peringatan Hari Buruh di DIY, Tuntut Upah Layak hingga Beragam Isu Nasional
“Dulu apa adanya, tapi kami semangat,” ucapnya pelan.
Jejak langkah tanpa alas kaki itu mungkin telah lama hilang dari jalanan tanah Logandeng. Namun semangat yang ditinggalkannya tetap hidup, melintasi zaman. (bas)
Editor : Heru Pratomo