Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Sejarah Daycare: Dari Revolusi Industri hingga Bayang-bayang Kekerasan di Indonesia, Terbaru di Jogja

Meitika Candra Lantiva • Sabtu, 25 April 2026 | 16:37 WIB
Ilustrasi seorang balita bermain di Daycare. (Pinterest/Baby Bumpity Boo)
Ilustrasi seorang balita bermain di Daycare. (Pinterest/Baby Bumpity Boo)

 

RADAR JOGJA - Seiring berkembangnya zaman, tuntutan manusia untuk memenuhi kebutuhan hidup semakin keras.

Pernikahan tidak menjamin bahwa status ekonomi mereka turut membaik.

Sebaliknya, kebutuhan semakin membengkak sehingga menuntut orang tua bekerja keras meskipun telah hadir sang buah hati.

Mahal dan semakin banyak kebutuhan dalam sebuah rumah tangga maka tidak cukup jika hanya salah satu tulang punggung di dalam rumah.

Saat ini banyak perempuan yang turut bekerja membantu mencari nafkah untuk keluarganya.

Baca Juga: Kronologi Pengungkapan Dugaan Kekerasan terhadap Balita di Daycare Little Aresha Jogja

Dengan demikian tidak sedikit yang menitipkan anak-anaknya ke tempat penitipan anak atau yang disebut Daycare/ Day Care.

Sejarah Day Care

Sejarah tempat penitipan anak atau day care tidak bisa dilepaskan dari perubahan besar dalam struktur sosial dunia.

Menurut ensiklopedia Encyclopaedia Britannica, lembaga penitipan anak modern pertama kali muncul di Prancis sekitar tahun 1840 dalam bentuk crèche, yakni tempat penitipan bayi bagi ibu pekerja.

Sejarawan pendidikan anak, Dr Amy Tikkanen, menjelaskan bahwa kemunculan daycare berkaitan erat dengan meningkatnya jumlah perempuan yang bekerja di luar rumah pada abad ke-19.

“Day care centres berkembang pesat di kota industri Eropa karena kebutuhan sosial yang mendesak,” tulisnya.

Baca Juga: PSIS Semarang vs Kendal Tornado FC, Datang Mendadak, Kas Hartadi Ingin Tandai Debutnya dengan Kemenangan

Fenomena ini semakin menguat saat Revolusi Industri.

Dalam kajian sejarah childcare global, para ibu yang bekerja di pabrik menghadapi dilema besar, siapa yang menjaga anak mereka.

Dari situlah muncul praktik penitipan anak secara kolektif, yang kemudian berkembang menjadi institusi formal.

Sebelumnya, pengasuhan anak bersifat informal, dilakukan oleh keluarga besar atau komunitas.

Namun sejak abad ke-19, sistem ini mulai dilembagakan menjadi “day nursery” atau “daycare”.

Baca Juga: Tantang Persela Lamongan, PS Barito Putera Incar Kemenangan Demi Tingkatkan Peluang Promosi

Asal-usul Istilah Day Care

Istilah daycare sendiri berasal dari praktik di Eropa pada pertengahan abad ke-19.

Dalam literatur pendidikan anak, istilah ini merujuk pada layanan pengasuhan anak di siang hari saat orang tua bekerja.

Namun, istilah ini mengalami pergeseran makna.

Sejumlah praktisi pendidikan anak modern menilai kata “daycare” terlalu menyederhanakan fungsi lembaga tersebut.

“Daycare sering diasosiasikan hanya sebagai tempat ‘menitipkan’, padahal ada aspek perkembangan anak yang kompleks di dalamnya,” ujar Amy Corriveau, pejabat program pendidikan anak di Amerika Serikat.

Baca Juga: Tantang Madura United Tanpa Top Skor Dewa United Alex Martins, Jan Olde Riekerink Enggan Risau: Kesempatan Bagi Pemain Lain Membuktikan

Di berbagai negara, istilah lain seperti childcare center, nursery school, atau early childhood education center mulai digunakan untuk menekankan fungsi edukatif.

Perkembangan Global: dari Perang hingga Kebijakan Negara

Perkembangan day care melonjak drastis pada abad ke-20, terutama saat Perang Dunia II. Saat pria pergi berperang, perempuan masuk ke dunia kerja, sehingga pemerintah, terutama di Amerika Serikat, mulai mendanai fasilitas penitipan anak.

Pasca perang, banyak fasilitas tersebut sempat ditutup, tetapi konsepnya bertahan.

Negara-negara Skandinavia bahkan menjadikan childcare sebagai bagian dari sistem kesejahteraan negara sejak 1970-an.

Baca Juga: Hasilkan Sapi Premium, Peternakan Sapi di Purworejo ini Bisa Jadi Percontohan

Masuk ke Indonesia: dari Keluarga ke Institusi

Di Indonesia, konsep penitipan anak awalnya bersifat informal, dilakukan oleh keluarga atau tetangga.

Namun seiring urbanisasi dan meningkatnya perempuan bekerja, day care mulai berkembang terutama di kota besar sejak akhir abad ke-20 hingga awal 2000-an.

Meningkatnya kebutuhan day care di Indonesia tidak lepas dari perubahan pola keluarga modern.

Ketika kedua orang tua bekerja, daycare menjadi solusi praktis dalam pengasuhan.

Baca Juga: Tantang Persela Lamongan, PS Barito Putera Incar Kemenangan Demi Tingkatkan Peluang Promosi

Namun, perkembangan ini tidak selalu diiringi regulasi yang kuat.

Masih banyak day care yang tidak mengantongi izin pendirian dan pengelolaan.

Data dari Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) menunjukkan masih banyak daycare yang tidak memiliki izin resmi dan bayang-bayang kekerasan seperti Fenomena “Gunung Es".

 

Kasus Kekerasan Anak di Day Care

Salah satu yang pernah menjadi sorotan adalah, Day care Wensen School di daerah Harjamukti, Cimanggis, Depok sekaligus
influencer parenting, Meita Irianty.

Pada 2024, sang owner, Meita Irianty ditetapkan sebagai tersangka penganiayaan balita di Depok.

Baca Juga: Menit Bermain Minim, Pep Guardiola Yakin John Stones Akan Siap Bermain untuk Inggris di Piala Dunia 2026

Meita Irianty dinyatakan menganiaya balita
berinisial MK berusia 2 tahun dan balita lain, HW berusia 9 bulan.

Terbaru, Little Aresha Daycare di Sorosutan, Umbulharjo, Kota Jogja sedang menjadi sorotan, diduga terdapat kasus kekerasan di dalam tempat penitipan anak tersebut.

Bahkan orang tua yang menitipkan anak tersebut mencium adanya kasus kekerasan yang diduga dilakukan pengasuh day care terhadap anaknya.

Dari pantauan Radar Jogja pada Jumat (24/4/2026) malam, lokasi day care tersebut dalam kondisi disegel.

Para pengasuh diciduk pihak berwajib.

Editor : Meitika Candra Lantiva
#Daycare #Little Aresha Daycare #sejarah day care #Day Care #kekerasan