JOGJA - Di Kampung Gamelan Kidul, Kelurahan Panembahan, kemantren Kraton, Kota Jogja ada satu bangunan unik yang memiliki nilai sejarah Republik Indonesia.
Nama bangunan tersebut adalah Grha Keris.
Bergaya tradisional, bagunan ini termasuk cagar budaya sebagai pusat pelestarian tosan aji, bahkan tersimpan memori dari Sri Sultan Hamengkubuwono IX untuk Tanah Air.
Pengelola Cagar Budaya Grha Keris Taufiq Hermawan menjelaskan, sebelum menjadi pusat edukasi tosan aji di Yogyakarta, dulunya bangunan ini merupakan warung sate yang bernama Warung Sate Puas, atau tempat makan yang menjadi saksi bisu kejeniusan strategi Sri Sultan Hamengkubuwono (HB) IX bersama para gerilyawan dalam menyusun rencana besar Serangan Umum 1 Maret 1949.
"Berawal dari rumah ini, ide dan strategi perang itu ada di sini. Jadi kenapa bangunan cagar budaya ini dibeli dinas. Karena memiliki nilai sejarah itu," jelasnya, Sabtu (18/4/2026).
Meski letaknya tak jauh dari Keraton, lanjut Taufiq, pertemuan-pertemuan yang dilakukan di bangunan tersebut dilakukan dengan sangat senyap.
Kala itu Sri Sultan HB IX melakukan penyamaran agar intelijen Belanda yang saat itu menduduki Jogjakarta agar tidak mengendus pergerakan tersebut.
"Dulu warungnya menghadap ke barat. Ngarso Dalem ke sini dari Keraton, lalu ngobrol menyusun strategi itu. Identitasnya tentu disembunyikan, kalau ketahuan ya bahaya," bebernya.
Baca Juga: Prediksi Skor Chelsea vs Manchester United Premier League Minggu 19 April 2026, Biru Atau Merah?
Menurut Taufiq, bangunan ini memang sudah dibangun sejak lama.
Tapi secara arsitektur, keautentikan bangunan ini masih terjaga hingga kini.
Walaupun dulunya juga sempat beralih fungsi menjadi sekolah Taman Kanak-Kanak (TK).
Akan tetapi Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) DIY kemudian mengambil alih dan melakukan restorasi untuk mengembalikan bentuk aslinya sebagai Bangunan Cagar Budaya dan diberi nama Grha Keris.
Tak hanya itu, uniknya bangunan tersebut juga masih mempertahankan ruh tradisional Jawa, dengan komponen lengkap, mulai dari pendopo, dalem, gadri, hingga gandok.
"Karena ini cagar budaya, tidak ada yang berubah. Bentuk bangunan tetap sama, hanya ditambah jeruji untuk faktor keamanan koleksi," ujarnya.
Taufiq mengatakan, di bangunan cagar budaya ini ada satu area yang dikhususkan, yakni di area senthong tengah.
Sebab ruang yang dianggap sakral dalam kosmologi rumah Jawa dahulu itu merupakan ruang pusaka sekaligus lokasi strategis bagi Sultan HB IX untuk berbincang rahasia.
Bahkan saat ini di dalam senthong tengah itu masih terdapat kursi yang digunakan duduk oleh HB IX.
"Kursi itu dulu dibawa dari Tempel, Sleman. Entah milik siapa terus digunakan ke sini sebagai tempat duduknya Ngarsa Dalem (HB IX) sendiri," ungkap Taufiq.
Baca Juga: Keunikan Corak Batik Parang Khas Yogyakarta, Simbol Keberanian dan Keteguhan Jiwa
Kini, fungsi bangunan tersebut telah bertransformasi.
Dari tempat meramu strategi perang, menjadi tempat mengedukasi masyarakat tentang filosofi keris.
Menariknya, menurut Taufiq, Grha Keris ini juga berperan sebagai tempat identifikasi koleksi tosan aji, termasuk bekerja sama dengan Museum Sonobudoyo.
Sehingga harapannya bangunan ini bukan hanya dianggap sekadar museum aja, melainkan sebuah jembatan waktu perjuangan untuk bangsa Indonesia.
"Seluruh kegiatan yang dilakukan di sini sekarang untuk mengedukasi, menambah khasanah pengetahuan, maupun memberi informasi pada publik, serta menjadi ruang temu bersama antar paguyuban keris yang ada di DIY," tandasnya. (ayu)
Editor : Meitika Candra Lantiva