RADAR JOGJA - Purwakarta dan Purwokerto adalah dua nama daerah yang kerap membuat masyarakat bingung.
Selain karena bunyinya yang mirip, keduanya juga memiliki sejarah panjang yang menarik untuk ditelusuri.
Secara geografis, Purwakarta berada di Provinsi Jawa Barat, sementara Purwokerto terletak di Jawa Tengah dan menjadi ibu kota Kabupaten Banyumas.
Meskipun kini berdiri sebagai dua kota yang berbeda, perjalanan sejarah serta proses pembentukan nama keduanya ternyata memiliki banyak kemiripan.
Dahulu, Purwokerto (yang sebelumnya bernama Purwakerta) sempat mengalami perubahan nama sebagai bentuk penyesuaian yang dipengaruhi oleh perubahan nama Yogyakerta dan Surakerta, yang saat itu juga beralih ke bentuk penyebutan baru yaitu, Yogyakarta dan Surakarta.
Awalnya, Purwakerta direncanakan berubah nama menjadi Purwakarta.
Namun, rencana tersebut tidak dapat diterapkan karena kota baru di daerah Jawa Barat yang menjadi ibu kota Kabupaten Karawang telah memakai nama serupa.
Sebagai solusi untuk mengatasi kesamaan itu, akhirnya nama wilayah tersebut diganti menjadi Purwokerto.
Baca Juga: Tanpa Alessandro Nesta, Berikut Staff Pelatih Roberto De Zerbi di Tottenham Hotspur
Nama Purwokerto dan Purwakarta diyakini berasal dari bahasa Sansekerta dan bahasa Jawa Kuno.
Kata “Purwa” memiliki arti awal atau permulaan, sedangkan “Karta” maupun “Kerto” berarti kemakmuran atau kesejahteraan.
Selain itu, ada pula cerita rakyat yang menyebut bahwa nama Purwokerto berkaitan dengan situs berupa susunan batu “Makam Astana Dhuwur Mbah Karta” di wilayah Arcawinangun, serta kisah mengenai batu “Karta” dan “Karti” milik Kiai Kartisura.
Lalu, ada pula cerita rakyat yang menyebut bahwa nama Purwakarta dicetuskan oleh seorang kepala wilayahl bernama Purbasari pada masa kepemimpinan Dalem Solawat.
Baca Juga: Usai Jamu EPA Borneo FC di Magelang, EPA PSIM Jogja Tatap EPA Persib Bandung
Meskipun latar belakang sejarah dan proses pertumbuhannya berbeda, baik Purwokerto maupun Purwakarta tetap membawa arti permulaan untuk menuju kemuliaan dan kemakmuran.
Sehingga keduanya memiliki identitas sebagai wilayah yang lahir dari nilai-nilai luhur dan kaya akan nilai budaya. (Desfina Citra)