RADAR JOGJA - Serangan Oemoem (SO) 1 Maret 1949 menjadi salah satu momentum penting dalam sejarah mempertahankan kemerdekaan Indonesia.
Saat itu, TNI bersama rakyat berhasil menduduki ibu kota negara yang berkedudukan di Yogyakarta, selama enam jam. Keberhasilan itu membuktikan eksistensi Indonesia di mata dunia.
“Bila mempelajari sejarah Yogyakarta akan ditemukan karakter yang istimewa, termasuk dalam peristiwa SO 1 Maret 1949.
Serangan tersebut menunjukkan peran penting Jogja pada NKRI,” ucap Sekretaris Paniradya Keistimewan DIY Ariyanti Luhur Tri Setyarini saat menjadi narasumber acara Sinau Sejarah bertajuk “1 Maret Hari Penegakan Kedaulatan Negara, Peran Rakyat Jogja Mempertahankan Kedaulatan Negara,” Minggu (1/3/2026).
Ririn, sapaan akrabnya, menjelaskan, di masa itu Belanda secara masif menyampaikan informasi ke dunia internasional Indonesia sudah habis.
Belanda menyebarkan kabar bohong sekaligus menutup akses informasi bagi masyarakat.
Hanya saja saat itu Keraton Ngayogyakarta masih boleh memiliki radio. Sultan Hamengku Buwono IX terus mendengarkan berita dan bisa memperoleh informasi terkini.
Berkat kejelian HB IX diketahui PBB akan menyelenggarakan sidang umum. Momentum itu dimanfaatkan untuk melawan propaganda Belanda dengan membuat serangan serentak.
Sebenarnya sebelum SO 1 Maret 1949 telah dilakukan berbagai serangan lain. Hanya saja dianggap angin lalu. Belum memberi dampak besar di mata dunia.
"Itu karakter jeli dalam mengambil keputusan untuk mengadakan serangan di waktu yang tepat. Lalu hal itu disampaikan HB IX ke Pangsar Jenderal Soedirman dan Letkol Soeharto," tambahnya.
Ririn berpesan agar generasi muda memiliki keberanian dan kejelian. Dua karakter yang dimiliki Yogyakarta sejak lama itu masih relevan hingga saat ini.
Apalagi bagi anak-anak muda. Di masa datang merekaakan menjadi pemimpin. “Harus mampu mengambil keputusan. Kalau visinya unggul pasti berintegritas," tambahnya.
Sejarawan UGM, Julianto Ibrahim mengungkapkan, fakta-fakta saat SO 1 Maret 1949 yang unik.Serangan berlangsung dari pukul 06.00 hingga 12.00 ini.
Salah satunyanya, cerita Komarudin yang salah tanggal saat melakukan serangan. Bukan pada 1 Maret 1949, tapi justru 28 Februari 1949.
"Karena serangan yang salah itu Belanda justru jadi lengah. Mengangap serangan dari Indonesia hanya kecil saja," katanya.
Julianto juga menerangkan heroiknya peran HB IX mempertaruhkan nyawa untuk melindungi pasukan yang bersembunyi di Keraton Jogja.
Saat itu mereka kocar-kacir karena bantuan pasukan Belanda sudah datang.
Begitu juga saat menawarkan Yogyakarta sebagai ibu kota negara karena Jakarta tidak lagi aman.
Saat itu HB IX menyediakan tempat tinggal, makan, hingga gaji. Julianto menyebut jika semua dikonversi maka nilainya kini menjadi triliunan.
"Peran HB IX saat itu luar biasa. Salah satu kegagalan Belanda menguasai Indonesia karena tidak mampu meyakinkan HB IX," tandasnya.
Sedangkan Pengajar Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta Muhammad Fatih Abdulbari mengatakan, momen Agresi Militer II Belanda yang bergejolak bukan hanya politik dan militer.
Tapi juga dunia seni. Itu ditunjukkan oleh Dullah lewat sanggar Seniman Indonesia Muda.
"Lukisan lima anak asuhnya menjadi sumber visual menggambarkan perspektif Indonesia selama agresi kedua," katanya.
Fatih menilai, lukisan-lukisan tersebut sangat penting. Itu mengingat masifnya sumber visual yang dihasilka fotografer Belanda.
Dia menerangkan, usaha para pelukis cilik ini bukan tanpa risiko. Salah satu murid Dullah bernama Toha. harus berpura-pura menjadi pedagang asongan.
Fatih ikut menampilkan lukisan tentang Mbah Somo, seorang pedagang lanjut usia.
Dia menyumbangkan dagangannya untuk para pejuang dalam SO 1 Maret 1949. Istimewanya Jogja saya kira karena sejarah orang-orangnya.
“Orang-orang kecil turut membangun nasionalisme dan nilai kemanusiaan," ungkap dosen yang juga penulis ini. (del/kus)
Editor : Winda Atika Ira Puspita