JOGJA - Majalah Djaka Lodang tentu sudah tidak asing lagi di telinga masyarakat, khususnya mereka yang senang membaca kisah horor dari berbaga penjuru Indonesia. Melalui rubrik Jagading Lelembut, majalah itu hadir selama puluhan tahun untuk membagikan pengalaman horor atau supranatural bagi pembacanya.
Majalah berbahasa Jawa Djaka Lodang terbit pertama kali tahun 1971 di Jogja. Pendirinya Kusfandi dan Abdullah Purwodarsono. Majalah ini termasuk bacaan berbahasa Jawa yang bertahan lama bahkan eksis hingga sekarang.
Mantan Redaktur Artistik Majalah Djaka Lodang Praba Pangripto mengatakan, rubrik horor dengan tajuk Jagading Lelembut bukan sebuah program baru. Cerita horor itu telah ada untuk mengisi halaman majalah sejak pertama kali terbit. "Majalah terbit seminggu sekali, setiap hari Sabtu," ujarnya kepada Radar Jogja, Jumat (5/12).
Naskah Jagading Lelembut didapatkan dari kiriman-kiriman pembaca atau masyarakat luas yang ingin ceritanya dimuat di majalah. Dulu, pengiriman naskah dilakukan dengan mengirimkan tulisan melalui pos yang dialamatkan langsung ke kantor Majalah Djaka Lodang di Jalan Patehan Tengah, Jogja.
"Dalam satu kali terbit, ada satu kisah mistis yang dimuat. Jadi dulu bergantian berdasarkan kurasi," ucap laki-laki yang sejak 1985 telah bekerja di kantor Majalah Djaka Lodang itu.
Masa keemasan majalah ini terjadi sekitar tahun 1980 hingga awal 1990-an. Pada masa itu, antusiasme masyarakat untuk mengirimkan naskah horor juga sangat membeludak.
"Kami melakukan kurasi, dipilih mana yang menarik dan belum pernah atau ada kemiripan dengan naskah yang sudah kami terbitkan," jelasnya.
Menurutnya, di masa kejayaan itu Majalah Djaka Lodang dapat menerbitkan sekitar 15 ribu eksemplar setiap minggunya. Terlebih pada masa itu kejayaan judi sumbangan olahraga berhadiah dan rubrik ramalan nasib majalah itu banyak diminati.
"Walaupun cerita yang dikirim itu tidak bisa dibuktikan, tetapi dapat dinikmati pembaca bahkan sampai terbawa suasana," kelakar pria yang mendapatkan SK Pegawai Resmi Majalah Djaka Lodang pada 2005 itu.
Tak hanya dari Jogja, kiriman naskah pada waktu itu juga berasal dari Lampung, Jawa Timur, Sumatera, dan banyak daerah di luar Pulau Jawa lainnya. Namun seiring berkembangan zaman, pembaca majalah itu semakin menyusut.
"Terlebih setelah era internet hadir, jauh menurun pembacanya," jelas Praba yang memutuskan untuk resign di akhir 2021. (oso/laz)
Editor : Sevtia Eka Novarita