Saluran irigasi legendaris yang menghubungkan Sungai Progo di barat dan Sungai Opak di timur. Namun, di balik aliran airnya yang tenang, tersimpan sejarah besar yang lahir di masa penjajahan.
10 Januari 1942, Jepang menginjakan kaki di Indonesia. Di mulai dari Tarakan, Kalimantan Timur, hingga pada Februari 1942, serangan Jepang berlanjut hingga ke Pulau Jawa, diawali dengan pertempuran sengit di perairan Pulau Bawean.
Pada 8 Maret 1942, Gubernur Jenderal Teer Poorten secara resmi menyerahkan kekuasaan kepada jepang dan menarik mundur pasukan belanda dari Indonesia.
Sejak saat itu, Yogyakarta masuk ke dalam wilayah pendudukan Jepang. Di bawah kepemimpinan Sri Sultan Hamengku Buwono IX, Yogyakarta telah menyiapkan berbagai langkah strategis untuk menghadapi situasi baru tersebut.
Berkat kepercayaan penuh rakyat Yogyakarta terhadap Sri Sultan Hamengkubuwono IX, setiap perintah dan kebijakan yang beliau keluarkan dijalankan dengan penuh kesetiaan oleh masyarakat Yogyakarta.
Salah satu langkah cerdas Sri Sultan Hamengkubuwono IX dalam menghadapi masa pendudukan Jepang adalah dengan memerintahkan rakyat Yogyakarta membangun sebuah saluran air atau selokan.
Tujuan di bangunnya proyek ini bukan hanya untuk kebutuhan pertanian, melainkan sebagai strategi agar rakyat Yogyakarta tidak dijadikan romusha, yaitu tenaga kerja paksa yang menjadi momok menakutkan di masa penjajahan Jepang.
Romusha menyebabkan penderitaan luar biasa bagi rakyat Indonesia, rakyat dipaksa bekerja tanpa upah, selalu di siksa, bahkan banyak yang meninggal karena kelaparan dan kelelahan.
Proyek besar ini kemudian dengan nama Selokan Mataram, yaitu saluran yang menghubungkan Sungai Progo dan Sungai Opak.
Panjang saluran ini mencapai 31,2 kilometer, dengan pusat utama di Desa Bligo dan Karangtalun.
Fungsi utama Selokan Mataram adalah sebagai saluran irigasi untuk membantu para petani di wilayah sekitar yang sebagian besar mengantungkan hidup dari sektor pertanian.
Namun, seiring perkembangan waktu, fungsi Selokan Mataram semakin meluas.
Kini, aliran airnya tidak hanya digunakan untuk mengairi sawah, tetapi juga menghidupi kolam-kolam ikan, menggerakkan Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) di Desa Bligo, bahkan menjadi objek wisata edukatif dan sejarah yang menarik perhatian masyarakat luas.
Selokan Mataram menjadi simbol kecerdikan dan bentuk cinta Sultan Yogyakarta terhadap rakyatnya dalam menghadapi penjajahan, sekaligus warisan berharga yang masih bermanfaat hingga kini.
Manfaat Selokan Mataram begitu besar bagi masyarakat hingga kini. Aliran airnya tak berhenti mengalir, bahkan di musim kemarau, menjadi bukti nyata betapa pentingnya peran air sebagai sumber kehidupan dan kesejahteraan.
Selokan Mataram akan terus menjadi nadi kehidupan Yogyakarta, mengalirkan mantaat bagi pertanian, lingkungan, dan generasi yang akan datang.
Warisan abadi yang tak hanya menghidupi sawah, tapi juga semangat dan keteguhan masyarakatnya.
Penulis: Alif Rizki Wahyu N K