Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Makna 10 November: Menelusuri Jejak Perjuangan yang Tak Pernah Padam

Magang Radar Jogja • Kamis, 6 November 2025 | 18:15 WIB

ILUSTRASI: Pertempuran 10 November 1945 di sejumlah titik di Kota Surabaya menjadi sejarah dan selalu dikenang hingga sekarang. (IST). (Radar Surabaya)
ILUSTRASI: Pertempuran 10 November 1945 di sejumlah titik di Kota Surabaya menjadi sejarah dan selalu dikenang hingga sekarang. (IST). (Radar Surabaya)
RADAR JOGJA - Tanggal 10 November selalu menjadi momen penting bagi seluruh warga Indonesia.

Peristiwa pada tanggal 10 november 1945 bukan hanya tentang catatan perang belaka, tetapi juga bukti nyata bahwa kemerdekaan tidak datang begitu saja.

Kemerdekaan Indonesia lahir dari keberanian melawan ketakutan, persatuan melawan penjajahan, dan tekad yang lebih kuat dari kematian.

Pada 10 November 1945, arek-arek Surabaya, di berbagai penjuru kota berdiri di garis terdepan mempertahankan harga diri bangsa Indonesia.

Dengan peralatan sederhana, semangat juang mereka menjadi senjata utama.

Para pejuang tidak bertanya kapan kemenangan datang, mereta hanya tahu bahwa harga diri bangsa harus ada yang menjaga, mereka tetap berjuang meski harus membayar dengan harga tertinggi.

Kini, delapan dekade berlalu, peristiwa itu tetap dikenang sebagai hari pahlawan.

Perlawanan ini bermula setelah Jepang menyerah kepada sekutu, situasi Indonesia memasuki masa krisis.

Pasukan sekutu yang datang ke Indonesia pada bulan oktober 1945 tidak hanya bertujuan untuk melucuti tentara Jepang, tetapi juga membawa NICA (Belanda) yang bertujuan untuk mengembalikan kekuasan kolonial yang lepas akibat invasi Jepang.

Ketegangan meningkat di seluruh wilayah, terutama di Surabaya, kota besar yang penuh semangat juang rakyat.

Pertempuran ini di picu oleh peristiwa di Hotel Yamato. 19 September 1945, pasukan Belanda mengibarkan bendera negara Belanda di Hotel Yamato (sekarang Hotel Majapahit) yang kemudian bendera tersebut diturunkan secara paksa oleh pemuda Indonesia dan bagian biru pada bendera disobek, hingga menyisakan Merah dan Putih yang berkibar gagah.

Insiden ini menjadi simbol bahwa rakyat di Surabaya menolak keras kembalinya penjajahan.

Saat situasi semakin panas, terjadi insiden yang mengakibatkan seorang jenderal dari Inggris yaitu Brigadir Jenderal A.W.S Mallaby tewas pada 30 Oktober 1945.

Menanggapi berita tersebut, Kerajaan Inggris mengeluarkan ultimatum kepada rakyat Surabaya agar menyerah dalam 24 jam.

Rakyat Surabaya yang mengetahui ultimatum tersebut tidak bergeming dan lebih memilih mempertahankan kemerdekaan daripada tunduk kembali kepada penjajah.

Pagi hari 10 November 1945, pasukan sekutu melancarkan agresi militer secara penuh, baik dari darat, laut, maupun udara.

Kendaraan tempur, kapal perang, tentara elite dikerahkan oleh sekutu pada agresi ini.

Namun rakyat Surabaya, termasuk pemuda, tentara, ulama, hingga masyarakat sipil, melawan habis-habisan dengan senjata sederhana disertai semangat dan doa.

Pidato penuh semangat dari Bung Tomo membakar jiwa perlawanan, memunculkan tekad bahwa lebih baik gugur daripada kehilangan kemerdekaan yang belum lama mereka rasakan.

Pertempuran ini berlangsung selama 3 minggu dan menelan ribuan korban jiwa.

Surabaya menjadi panggung pertempuran berdarah, semangat rakyat tidak pernah padam hingga pada akhirnya para pejuang yang minim senjata mundur dari area pertempuran.

Meskipun pada pertempuran di Surabaya pasukan republik kalah, pertempuran inilah yang membangkitkan semangat kebangsaan untuk memperjuangkan kemerdekaannya dan menarik perhatian internasional.

Pertempuran ini juga meyakinkan Kerajaan Inggris untuk mengambil sikap netral dalam revolusi nasional Indonesia, yang kemudian Kerajaan Inggris mendukung perjuangan Indonesia di forum PBB.

Keberanian ini yang kemudian membuat 10 November ditetapkan sebagai Hari Pahlawan, sebagai bentuk penghormatan atas pengorbanan luar biasa para pejuang.

Pertempuran Surabaya mengajarkan bahwa kemerdekaan Indonesia bukanlah hadiah, melainkan hasil perjuang yang nyata.

Hari Pahlawan mengingatkan untuk selalu menjaga api perjuangan bangsa Indonesia tetap menyala, melalui karya, kepedulian terhadap sesama rakyat, dan kontribusi nyata untuk bangsa.

Penulis: Alif Rizki Wahyu N K

Editor : Bahana.
#10 November #hari pahlawan #surabaya