Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Kali Larangan, Sumber Irigasi  dan Sanitasi Warga Njeron Beteng, Konon Hanya Pihak Keraton Jogja yang Boleh Mengakses

Agung Dwi Prakoso • Minggu, 2 November 2025 | 10:30 WIB

 

Wujud Kali Larangan yang sejak tahun 70-an telah ditutup dan di atasnya sudah menjadi jalan gang.
Wujud Kali Larangan yang sejak tahun 70-an telah ditutup dan di atasnya sudah menjadi jalan gang.
 

Kali Larangan bagi sebagian orang, khususnya warga asli Kota Jogja, mungkin sudah terdengar familer. Meskipun sudah ratusan tahun 'terpendam', ingatan akan sejarahnya masih menempel kuat bagi para sesepuh yang hidup di sekitaran Keraton Jogja.

Sekelumit sejarah tentang Kali Larangan itu disampaikan oleh anggota DPRD Kota Jogja Krisnadi Setyawan. Warga Kota Jogja, khususnya abdi dalem dan kerabat keraton, seharusnya tidak lupa akan peran penting Kali Larangan yang dulu digunakan sebagai penyuplai air bersih di sekitaran Kota Jogja.

 “Kali Larangan itu dibangun sejak zaman Pangeran Mangkubumi yang kelak menjadi Sultan HB I seiring membangun Keraton atau Kota Jogja," ungkap Krisnadi kepada Radar Jogja, Jumat (24/10).

Tak hanya sekadar bualan, lulusan Ilmu Pemerintahan UMY yang sangat tertarik pada sejarah sejak SMA itu pernah melakukan riset terhadap saluran irigasi tersebut. Sebelum Keraton Jogja berdiri, terdapat desa bernama Pacetokan yang letaknya berada di dalam alas Mbering (Hutan Beringan) yang merupakan kondisi Kota Jogja awal-awal dulu.

"Alas Mbering ini kan diapit dua sungai, Kali Code dan Winongo. Di tengah antara kali itu, di Dusun Pacetokan tersebut yang kemudian dibangun sebuah peradaban oleh Mangkubumi,”  bebernya.

Salah satu fokus strategi Mangkubumi dalam membangun tata kota adalah terkait aspek hidrologi atau perairan. Ia kemudian membendung Kali Winongo untuk mengaliri air di wilayah Keraton Jogja dan sekitarnya. “Munculah Kali Larangan, singkatnya seperti itu,” terangnya.

Anggota Komisi B dari Fraksi Gerindra ini menambahkan, sebaran jalur Kali Larangan itu terlihat dalam peta Belanda tahun 1830 yang ia pernah amati. Bendungan Kali Larangan di Kali Winongo, tepat berada di sebelah timur Dalem Tegalrejo. Dari sanalah Kali Latangan dialirkan ke tengah Kota Jogja.

“Yang masih ada di Pasar Senen, Candi Donotirto terus mengalir ke selatan lewat Masjid Gedhe Kauman dan masuk Tamansari. Lalu keluar lewat Kampung Nagan itu, balik ke Kali Winongo,” jelasnya.

Dalam perkembangannya, Kali Larangan yang dulu dimanfaatkan sebagai sumber air bersih berubah fungsi sekitar tahun 1922. Oleh Belanda, saluran itu kemudian dimanfaatkan untuk penggelontor sanitasi di Kota Jogja dan masyarakat 'Njeron Beteng'.

Pembangunannya kemungkinan hampir bersamaan dengan pembangunan Bendungan Kricak. “Buktinya, sampai sekarang masih ada sisa reruntuhannya. Di barat Pasar Ngasem ada pengolahan limbah pertama di Kota Jogja," paparnya.

Sebagai warga asli Rotowijayan, Krisnadi cukup erat dengan kisah Kali Larangan. Bahkan gang yang berada di dekat rumahnya, dibangun di atas Kali Larangan yang hingga kini masih mengalir di bawah tanah.

Menurutnya, dinamakan Kali Larangan karena aliran air di sepanjang saluran irigasi tersebut tidak boleh atau dilarang diakses selain pihak Keraton Jogja. “Dulu orang sepuh bilang Kali Larangan ditutup tahun 70-an untuk dijadikan jalan gang. Dulunya gede, lebarnya hampir 3 meter dan dalem 3 meter,”  jelas Krisnadi. (oso/laz)

Editor : Heru Pratomo
#Sultan HB I #kali code #irigasi #keraton jogja #Kali Larangan #SUMBER #njeron beteng