Salah satu bangunan bersejarah yang menjadi daya tarik adalah Masjid Gedhe Mataram Kotagede. Masjid Gedhe Mataram Kotagede, bukan sekadar tempat ibadah, melainkan saksi sekaligus bukti akulturasi budaya Jawa dan Islam.
Masjid Gedhe Mataram Kotagede menjadi saksi lahirnya Kerajaan Mataram Islam, kerajaan besar yang menjadi cikal bakal Kasultanan Yogyakarta dan Kasunanan Surakarta.
Masjid Gedhe Mataram Kotagede terletak di Jagalan, Banguntapan, Bantul, tepat di kawasan Kotagede, Daerah Istimewa Yogyakarta.
Kawasan ini dahulu merupakan pusat pemerintahan pertama Kerajaan Mataram Islam.
Masjid Gedhe Mataram Kotagede dibangun di akhir abad ke-16 pada masa Panembahan Senopati, pendiri Mataram Islam.
Ia melanjutkan langgar kecil yang sudah dirintis oleh Ki Ageng Pemanahan, ayahnya, setelah menerima Alas Mentaok sebagai hadiah dari Sultan Hadiwijaya (Kerajaan Pajang).
Dengan berdirinya Masjid Gedhe Mataram Kotagede, wilayah Kotagede berubah status dari sekadar alas Mentaok yang merupakan hutan hadiah dari Sultan Pajang, menjadi pusat kekuasaan baru. Maka, Masjid Gedhe Mataram bukan hanya tonggak agama, tapi juga penanda politik lahirnya Mataram Islam.
Cerminan Akulturasi Budaya
Bangunan Masjid Gedhe Mataram Kotagede yang berada di kawasan Kotagede ini dirancang sebagai pusat pemerintahan tradisional, dalam struktur tata kota Jawa kuno dikenal catur gatra, yaitu keraton, masjid, pasar, dan alun-alun.
Pembangunan Masjid Gedhe Mataram Kotagede sendiri menggunakan arsitektur akulturatif karena kawasan Jawa selatan dan sekitarnya pada zaman itu masih beragam keyakinan seperti, Hindu, Buddha, serta kepercayaan lokal.
Hal itu menunjukkan cara halus memasukkan identitas Islam ke dalam kontinum budaya lama, tanpa frontal menghancurkan tradisi lama. Hadirnya Masjid Gedhe Mataram Kotagede menggambarkan bukan sebagai penjajah budaya, melainkan sebagai kelanjutan yang dapat diterima.
Akulturasi Agama Islam-Hindu dan Budaya Jawa
Gaya arsitektur Masjid Gedhe Mataram Kotagede menjadi keunikan tersendiri, tidak menghapus masa lalu, melainkan meniru, menyesuaikan, hingga mengadopsi unsur lama agar agama baru bisa diterima.
Gapura Berbentuk Paduraksa
Begitu memasuki kawasan kompleks, pengunjung disambut gapura yang berbentuk paduraksa, model gerbang beratap tinggi seperti candi Hindu. Terdapat tiga gapura paduraksa yang terletak di sisi Timur, Utara, dan Selatan Masjid.
Atap Tajug Tumpang Dua
Bentuk atap masjid menggunakan tajug tumpang dua yang terdiri atas atap brunjung di bagian atas dan atap penanggap di bawahnya, keduanya disusun dengan sistem konstruksi lambang gantung, khas bangunan tradisional Jawa.
Struktur utama bangunan ditopang oleh empat saka guru dengan susunan tumpangsari yang menyangga atap brunjung berbentuk segitiga tanpa ander.
Sementara itu, atap penanggap tersusun atas empat empyak berbentuk trapesium dan bertumpu pada dinding bata tebal yang sudah diplester serta dicat.
Serambi
Bangunan serambi berbahan konstruksi kayu dengan atap limasan yang disangga 8 tiang. Serambi berada di sebelah depan (sisi timur) bangunan utama. Serambi biasanya difungsikan sebagai tempat berkumpul, mengaji, dan musyawarah warga. Ini mencerminkan konsep guyub masyarakat Jawa.
Pawèstrèn dan Serambi Utara (Pabongan/Emper Kiwa)
Di sebelah selatan ruang utama terdapat ruangan tempat sholat khusus wanita yang biasa disebut dengan istilah pawèstrèn.
Kemudian, di sebelah utara bangunan utama terdapat serambi atau yang biasa disebut pabongan/emper kiwa.
Parit
Parit yang mengelilingi serambi di sisi utara, timur, dan selatan difungsikan sebagai sarana pembersihan bagi jamaah sebelum memasuki masjid.
Kompleks Masjid Gedhe Mataram Kotagede kini telah ditetapkan sebagai Bangunan Cagar Budaya oleh Pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta. Masjid Gedhe Mataram Kotagede menggambarkan, masuknya Islam ke Nusantara tanpa benturan dengan budaya yang sudah ada.
Penulis: Ayu Andayani Saputri