Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Telusuri Sejarah Kasultanan Jogja dengan Ratu Batang, Pemkab Batang Temui Gubernur DIY Hamengku Buwono X

Agung Dwi Prakoso • Selasa, 14 Oktober 2025 | 03:20 WIB

 

KUNJUNGAN: Pertemuan antara Bupati Batang dengan Gubernur DIY dalam rangka menelusuri kembali hubungan sejarah dengan Kasultanan Ngayogyakarta.
KUNJUNGAN: Pertemuan antara Bupati Batang dengan Gubernur DIY dalam rangka menelusuri kembali hubungan sejarah dengan Kasultanan Ngayogyakarta.

JOGJA - Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Batang menelusuri kembali hubungan sejarah dengan Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat.

Upaya itu dilakukan melalui pertemuan Bupati M Faiz Kurniawan dengan Raja Keraton Jogja Sri Sultan Hamengku Bawono Ka 10 di Gedhong Wilis, Kompleks Kepatihan, Senin (13/10/2025).

Dalam kunjungan kerja tersebut, Faiz bersama sejumlah tokoh masyarakat Batang berdialog langsung dengan Gubernur DIY untuk menggali kisah Ratu Batang dan kaitannya dengan hubungan kultural antara Batang dengan Kasultanan Yogyakarta.

"Kami bersilaturahmi untuk menggali sejarah terkaitan Ratu Batang dengan Kesultanan Yogyakarta,” ujarnya saat ditemui usai pertemuan selesai.

Berdasarkan penelusuran literasi Radar Jogja, Batang dan Jogja relatif memiliki hubungan sangat erat.

Hal itu karena Sultan Agung dulu menikah dengan Ratu Batang atau Gusti Kanjeng Ratu Wetan. Bahkan, oleh Sultan Agung Ratu Batang dijadikan prameswari (permaisuri).

Tak hanya itu, Ratu Batang adalah trah dari Ki Juru Mertani atau Ki Mandaraka yang merupakan tokoh penting sebagai penasihat politik Kerajaan Mataram di era Senopati.

Anak dari Ratu Batang dan Sultan Agung yakni Raden Mas Sayidin bahkan menjadi sultan keempat Kasultanan Mataram Islam bergelar Amangkurat I yang memerintah dari 1646 hingga 1677.

"Kami juga ingin menggali sejarah detail berdirinya Kabupaten Batang," bebernya.

Dalam catatan sejarah, lanjut Faiz, baik Sultan Agung maupun Ratu Batang dimakamkan berdampingan di Astana Pajimatan Himagiri, Imogiri, Bantul.

Hubungan itu menjadi salah satu dasar penting dalam penelusuran asal-usul Batang dan peranannya dalam sejarah Mataram.

“Kami ingin belajar kepada Ngarso Dalem dan juga pemerintahan daerah Kabupaten Batang bagaimana menumbuhkan kesadaran sejarah untuk membentuk jati diri masyarakat di Kabupaten Batang,” papar Faiz.

Faiz menyebut, HB X menyambut baik niat tersebut dan memberikan dukungan penuh agar riset sejarah Batang dapat dilakukan lebih luas. Bekerjasama denga Dinas Kebudayaan DIY untuk riset tersebut.

Selain itu, Sri Sultan juga berpesan agar riset penelusuran arsip dapat dilakukan hingga ke luar negeri

"Sekaligus juga tadi karena akan ada utusan yang ke Belanda untuk menggali sejarah juga dititipkan untuk Mangkubumi itu, untuk literasi yang terkait dengan sejarah Kabupaten Batang juga dicari di sana,” ucapnya.

Menurutnya, dalam beberapa literatur yang ia dapat, Batang dulunya adalah pelabuhan Kasultanan Mataram.

Baca Juga: Diduga Korban Kekerasan, Wanita Hamil Muda Tewas Tragis di Hotel Palembang Tangan Terikat Mulut Tersumpal Pakaian Dalam

Saat ini menjadi kawasan ekonomi khusus (KEK) Logistik dengan rencana pembangunan pelabuhan besar beririsan dengan sejarah masa lalunya.

“Beliau tadi juga menyampaikan bahwa Batang ini dulu adalah pelabuhan Kasultanan Mataram. Jadi bukan Semarang. Apakah ini juga akan mengembalikan sejarah Batang sebagai sentral logistik menjadi pelabuhan seperti waktu zaman Mataram,” bebernya.

Ia juga mengundang Sri Sultan untuk hadir dalam perayaan Hari Jadi Kabupaten Batang.

Undangan itu dimaksudkan sebagai bentuk penghormatan sekaligus upaya mempererat hubungan historis antara Batang dan Kasultanan.

“Ngarso Dalem itu sudah pernah datang ke Batang tahun 2013,” jelasnya. (oso/wia)

Editor : Winda Atika Ira Puspita
#Pemkab Batang #Hubungan Kultural #batang #kek #kasultanan jogjakarta #sejarah #Ratu Batang #Gubernur DIY Hamengku Buwono X