RADAR JOGJA - Kerajaan Mataram Islam merupakan salah satu kerajaan besar yang meninggalkan jejak sejarah di Jawa.
Lahir pada akhir abad ke-16, Kerajaan Mataram Islam mencapai puncak kejayaan salah satunya di masa kepemimpinan Sultan Agung Hanyokrokusumo.
Dari Mataram inilah kemudian lahir dua kerajaan penerus yang masih eksis hingga kini, yaitu Kasultanan Yogyakarta dan Kasunanan Surakarta.
Setelah terjadinya Perjanjian Giyanti pada tahun 1755 yang membagi wilayah kekuasaan, peninggalan Mataram pun tersebar di dua wilayah tersebut.
Salah satu peninggalan Kerajaan Mataram Islam yang menonjol adalah Kompleks Makam Imogiri, tempat peristirahatan terakhir para raja dan keturunan Mataram yang terletak di Bukit Merak, Dusun Pajimatan, Girirejo, Kapanewon Imogiri, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta.
Jejak Sejarah di Atas Bukit Imogiri
Kompleks Makam Imogiri atau Pajimatan Imogiri dibangun sekitar tahun 1632 Masehi atas perintah Sultan Agung Hanyokrokusumo.
Kompleks makam yang luasnya mencapai 10 hektar ini merupakan tempat dimakamkannya raja-raja yang pernah bertahta di Kasultanan Yogyakarta dan Kasunanan Surakarta beserta keluarga kerajaan.
Mulanya, makam kerajaan direncanakan berada di Giriloyo. Namun setelah pengawas pembangunan, Panembahan Juminah, wafat dan dimakamkan di sana, Sultan Agung memerintahkan untuk memindahkan lokasi ke Imogiri.
Dipilih lokasi Bukit Merak, Imogiri karena sesuai kepercayaan masyarakat di zaman dulu bahwa arwah nenek moyang akan bersemayam di tempat yang tinggi sakral tinggi.
Wisata Budaya dan Religi, Kompleks Makam Imogiri
Selain nilai sejarahnya, Imogiri juga dikenal sebagai pusat tradisi ziarah. Adapun mengenai ketentuan untuk ziarah di Makam Raja-Raja Mataram Imogiri ini harus mengenakan pakaian adat Jawa yaitu menggunakan baju Pranakan atau Beskap.
Jam buka Kompleks Makam Imogiri yaitu pada hari Senin pukul 10.00-13.00, Jumat pukul 13.00-16.00, Minggu pukul 10.00-13.00. 1 Syawal, 8 Syawal, 10 Syawal pukul 10.00-13.00, dan pada Ramadhan tutup 1 bulan.
Kompleks makam ini secara garis besar terbagi menjadi tiga bagian yaitu, Astana Kasunanan Surakarta Hadiningrat.
Makam-makam Raja Surakarta ini dibagi menjadi 4 empat astana, Sayap kanan (timur) merupakan makam-makam raja Yogyakarta Hadiningrat. Makam-makam raja Yogyakarta ini dibagi menjadi 3 tiga astana.
Untuk mencapai area utama makam, pengunjung harus menaiki sekitar 400 anak tangga di lereng bukit setinggi ±100 meter.
Jalur yang curam namun indah ini menjadi simbol perjalanan spiritual menuju tempat yang disucikan.
Setiap gapura dan dinding bata merah di kompleks ini memiliki filosofi mendalam, menggambarkan hubungan antara manusia, alam, dan Sang Pencipta.
Penulis: Ayu Andayani Saputri
Sumber: makamimogiri.bantulkab.go.id, pemerintahan Kabupaten Bantul