JOGJA - Serbuan Kotabaru 7 Oktober 1945 menjadi salah satu momen penting dalam sejarah perjuangan rakyat Indonesia pascaproklamasi. Serangan yang dilancarkan para pemuda Jogja terhadap markas tentara Jepang di kawasan Kotabaru itu bertujuan merebut senjata sebagai modal mempertahankan kemerdekaan.
Dosen sejarah Fakultas Ilmu Budaya UGM Dr Ahmad Athoillah menerangkan, peristiwa ini menjadi tonggak penting karena menggambarkan peralihan kekuasaan di Indonesia pasca Jepang menyerah pada sekutu.
"Jepang sendiri saat itu shock karena kalah perang, termasuk setelah Hiroshima dan Nagasaki dibom. Info kemerdekaan belum menyebar merata, meski di Jawa sebagian sudah mengetahui," jelasnya, Jumat (3/10).
Menurut Athoillah, Kotabaru menjadi tempat vital karena kawasan itu merupakan salah satu simbol kolonial terbesar di Jogja. Markas Jepang saat itu ditempati pasukan Mase Butai dengan persenjataan lengkap.
Meski hanya bersenjatakan bambu runcing, para pemuda Jogja menyerbu markas tersebut dan berhasil menguasainya. Namun demikian, serangan itu menelan korban dari pihak Indonesia. Dari data yang ada, setidaknya 21 pejuang gugur dan 32 lainnya terluka.
Nama-nama para syuhada kemudian diabadikan sebagai nama jalan di kawasan Kotabaru, di antaranya Faridan M. Noto, Abu Bakar Ali, I Dewa Nyoman Oka, dan Trimo. Sebuah prasasti di halaman bekas markas Jepang juga mencatat nama mereka sebagai pengingat perjuangan.
Lebih lanjut untuk mengenang jasa para pahlawan, medio 1950-an juga dibangun Masjid Syuhada di kawasan Kotabaru. Masjid yang diresmikan Presiden Soekarno pada 20 September 1952 itu menjadi monumen penting, sekaligus simbol cinta republik kepada Jogja yang kala itu sempat menjadi ibu kota sementara Indonesia.
"Pertempuran Kotabaru bukan sekadar perebutan senjata. Dari sana lahir kekuatan baru yang menumbuhkan semangat rakyat menentang segala bentuk penjajahan," ujar Athoillah.
Selanjutnya ia berperan bahwa diperlukan narasi sejarah yang mudah diakses publik soal pertempuran Kotabaru itu. Hal ini agar generasi muda bisa memahami makna perjuangan di balik peristiwa itu.
"Kalau hanya melintas di Kridosono atau Kotabaru tanpa tahu ceritanya, maka peristiwa ini bisa terlupakan. Padahal penting untuk menghormati mereka yang gugur," tandasnya. (iza/laz)
Editor : Heru Pratomo