RADAR JOGJA – Nama XXI tentu sudah sangat akrab di telinga para penikmat film.
Namun, tidak banyak yang tahu jika jaringan bioskop terbesar di Indonesia ini memiliki perjalanan panjang sejak pertama kali hadir dengan nama Studio 21 pada akhir 1980-an.
Bioskop perdana berdiri di kawasan Jalan MH Thamrin Kavling 21, Jakarta, pada tahun 1987.
Dari lokasi inilah angka “21” dipilih sebagai identitas, yang kemudian melekat hingga sekarang.
Sejak itu, jaringan bioskop ini mulai melebarkan sayap ke berbagai kota besar di Tanah Air, termasuk Yogyakarta.
Seiring perkembangannya, jaringan bioskop ini mulai hadir di berbagai kota besar Indonesia dengan konsep yang lebih modern, terutama dengan menempatkan studio pemutaran film di pusat perbelanjaan.
Untuk memperkuat bisnisnya, pada tahun 1988 didirikan perusahaan distribusi film bernama Subentra Nusantara yang berfungsi untuk memperluas control merekda di rantai nilai perfiliman.
Kemudian, pada 15 Juli 1999, Sudwikatmono resmi melepas sahamnya, dan kepemilikan jaringan 21 kini berada di tangan Benny Suherman dan Harris Lesmana
Transformasi ke Cinema XXI.
Memasuki awal 2000-an, perusahaan memutuskan untuk melakukan rebranding dan diversifikasi merek agar bisa menggarap segmen pasar yang berbeda.
Pada tahun 2004, merek Cinema XXI diperkenalkan sebagai versi dengan standar lebih tinggi dibanding “Cinema 21” biasa.
Grup ini sekarang mengelola beberapa merek: Cinema 21 (untuk pasar umum), Cinema XXI (kelas menengah ke atas), The Premiere (layanan premium), dan IMAX (layar besar).
Tidak berhenti di situ, jaringan ini juga memperkenalkan konsep The Premiere untuk kelas premium serta layar IMAX dengan teknologi modern.
Layanan digital seperti aplikasi m.tix pun dikembangkan agar penonton lebih mudah memesan tiket tanpa harus mengantre.
Kini, Cinema XXI tumbuh menjadi jaringan bioskop terbesar di Indonesia dengan ribuan layar tersebar di ratusan lokasi.
Meski sempat terpukul saat pandemi, XXI tetap bertahan dan terus berinovasi.
Dari sekadar Studio 21 sederhana, kini Cinema XXI telah menjelma menjadi ikon budaya menonton layar lebar masyarakat Indonesia. (Bima Samudra)
Editor : Meitika Candra Lantiva